top of page

Saujana Merdeka Menteri Sederhana

Wikana sempat menduduki beberapa jabatan penting. Mohammad Hatta mendepaknya karena dia orang kiri.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sidang Kabinet Amir Sjarifuddin tahun 1947. Kiri-kanan: Moch. Enoch, Setiadi Reksoprodjo, Wikana, Susanto Tirtoprodjo, Ali Sastroamidjojo, Arudji Kartawinata, Wondoamiseno, Abdulmadjid, Djojohadiningrat. (Repro obituari Ir. H. Setiadi Reksoprodjo 1921-2010).

  • 27 Agu 2025
  • 6 menit membaca

Diperbarui: 20 Nov 2025

SOSOKNYA tak terlalu tinggi. Kumis tipis melintang dan jenggot lumayan panjang menghiasi wajah tirusnya. Hanya kacamata bundar dan pakaian sederhana yang selalu menemaninya ke mana pun dia pergi. Gaya hidupnya bersahaja. Namun sosok pendiam itu memiliki peran yang tidak sedikit dalam hari-hari di sekitar revolusi 17 Agustus. Tekadnya dalam berjuang memerdekakan rakyat begitu kuat. “Rakyat kita belum merasakan benar apa kemerdekaan itu,” ujar Ibrahim Isa, mengutip keterangan Wikana kepada Fransisca C. Fanggidaej, yang pernah menumpang di rumah dinas Wikana di Solo, suatu waktu.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
bg-gray.jpg
Captain Drury, a veteran of the Java Invasion, is the only British person buried in the old Dutch cemetery at the Bogor Botanical Gardens.
transparant.png
bottom of page