Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Saat Maukar Mengincar Bung Besar

Pilot AURI ini nekat menyerang istana menggunakan pesawat tempurnya untuk membunuh Presiden Sukarno.
Danny A. Maukar (kiri) sedang diadili bersama Sam Karundeng (kanan) di Mahkamah Militer, 1960.
Foto
Historia
pengunjung
8.5k

LETKOL (Pnb) Heru Atmodjo sudah lama berhenti dari Angkatan Udara. Diberhentikan tepatnya. Tapi dia masih ingat Daniel Maukar, pilot muda cemerlang yang selalu digadang-gadangnya. “Dia murid saya, dia orangnya cerdas dan pemberani,” kata Heru kepada Historia, 11 November 2010 lampau.

Karena berani dan termasuk ke dalam jajaran pilot yang unggul, Dani, demikian panggilan akrabnya, dapat posisi sebagai pilot tempur. Kesempatan yang jarang diberikan kepada pilot kecuali mereka yang terpilih dan lolos seleksi ketat. “Maukar salah satu yang kami anggap bagus. Makanya dia jadi pilot tempur,” kenang Heru.

Heru meninggal 29 Januari 2011. Sempat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata sebelum tiga bulan kemudian kuburannya digali dan jasadnya dipindahkan ke Bangil, Sidoardjo, Jawa Timur. Kata Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dia tak pantas dikuburkan di sana karena terlibat peristiwa G30S 1965. (Baca: Membongkar Sejarah Makam Kalibata)

Ajal keburu menjemputnya sebelum menceritakan lebih lanjut sosok Daniel Maukar, pilot tempur yang disebutnya cerdas dan berani itu. Tapi Dani sendiri menampik disebut cerdas. Pada 2007,Beny Adrian wartawan majalah Angkasapernah mewawancarai Dani. “Saya merasa waktu itu tidak sanggup dan terbang saya kan tidak menonjol, tapi tahu-tahu kok ditaruh menjadi fighter,” kata Dani kepada Beny.

Dani boleh menampik kalau dia pilot cerdas. Kenyataanya, dia dipercaya sebagai pilot tempur yang menerbangkan jet MiG 17, pesawat tempur canggih buatan Soviet untuk ukuran zaman itu. Pesawat itu pula yang membawanya beraksi menembaki Istana Presiden di Bogor dan Jakarta dan melambungkan namanya sebagai pilot pemberontak.

Aksi Dani tak berdiri sendiri. Kisahnya berawal dari kekecewaan beberapa tokoh milter dan sipil di Sumatera dan Sulawesi terhadap pemerintah pusat. Saat itu mereka merasa diperlakukan tidak adil akibat perimbangan keuangan yang jomplang. Orientasi politik Sukarno yang mulai condong ke kiri semakin mematangkan situasi konflik.

Kekecewaan berujung pada gerakan perlawanan. Di Sulawesi, Kolonel Ventje Sumual mendirikan Dewan Manguni, bersamaan dengan pendirian Dewan Gajah, Banteng dan Garuda yang dipimpin oleh Kol. Maludin Simbolon, Kol. Ahmad Husein dan Kol. Dahlan Djambek di wilayah Sumatera.

Pada Februari 1957, Ventje yang menjabatpanglima teritorium VII itu mengumpulkan sejumlah stafnya untuk membahas situasi nasional. Pertemuan lanjutan diadakan pada 2 Maret 1957 di kantor Gubernur Makassar, di mana Ventje menggagas piagam Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) yang ditandatangani oleh 51 tokoh militer dan sipil di Sulawesi.

Setahun kemudian, Februari 1958 Permesta menggabungkan diri dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera. Pemberontakan yang disebut Indonesianis Barbara Sillars Harvey “setengah hati” itu justru tak setengah-setengah ketika menyatakan diri talak dari pemerintah pusat di Jakarta. Maka genderang perlawanan terhadap pemerintahan Sukarno pun mulai ditabuh.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Danny A. Maukar (kiri) sedang diadili bersama Sam Karundeng (kanan) di Mahkamah Militer, 1960.
Foto
Danny A. Maukar (kiri) sedang diadili bersama Sam Karundeng (kanan) di Mahkamah Militer, 1960.
Foto