Pilih Bahasa: Indonesia

Raja Pelindung Satwa

Ketika belum ada isu binatang punah atau terancam punah, Raja Asoka di India sudah punya kebijakan sadar lingkungan.
Historia
Historia
pengunjung
8.2k

SEJAK berabad-abad silam, kesadaran atas lingkungan tumbuh di India. Catatan-catatan yang tertinggal dalam pilar-pilar dan batu besar di seluruh negeri mengungkap fatwa-fatwa Raja Asoka, yang begitu sering dipuji dalam legenda Budha, tentang perlindungan satwa.

Meski ada beragam versi, para sejarawan umumnya menyebut Asoka lahir sekitar 304 SM. Sebagai putra raja, dia tumbuh sebagai anak yang gesit dan berani, jago berburu, serta pemimpin perang dan negarawan ulung. Dia memimpin beberapa resimen tentara Maurya dan berhasil memenangi sejumlah peperangan. Popularitasnya membuat saudara-saudaranya cemas; takut ayah mereka, Raja Bindusara, memilih Asoka sebagai penerusnya.

Setelah Bindusara mangkat, dan perang suksesi, Asoka menjadi raja ketiga dinasti Maurya. Dia memiliki gelar Devanampiya Piyadasi yang berarti “Kekasih para dewa, dia yang memandang dengan cinta kasih.”

Semasa kekuasaannya, dia menyatukan wilayah yang sangat luas di bawah kekaisarannya, melampaui batas-batas wilayah kedaulatan India saat ini. Dia dikenal sebagai pemimpin yang kejam dan haus darah. Pada 262 SM, delapan tahun setelah penobatannya, tentara Asoka menyerang dan menaklukkan Kalinga. Banyak nyawa melayang akibat perang.

Suatu hari, usai perang, Asoka menjelajahi bekas palagan pasukannya. Dia melihat rumah-rumah yang hangus terbakar dan mayat-mayat bergelimpangan. Mereka yang masih hidup bergulingan di tanah. Hatinya hancur. “Perbuatan mengerikan apa yang kulakukan?“ ujarnya seperti dikutip Ariyakumara dalam Riwayat Hidup Raja Asoka.

Sejak itu, dia bertekad tak akan lagi mengobarkan perang. Kebijakan untuk memperluas kerajaan dia hapus. Asoka pun mulai mendedikasikan sisa hidupnya untuk menerapkan prinsip-prinsip Buddha ke dalam administrasi kerajaan. Dia memainkan peranan penting untuk menyebarkan agama Budha, bahkan hingga ke luar negeri. Dia juga menerapkan prinsip-prinsip perlindungan lingkungan.

“Negara memiliki tanggungjawab bukan hanya untuk melindungi tapi juga meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan satwa-satwa liar,” tulis Ven. S. Dhammika, bhiku asal Australia yang juga direktur spiritual dari Buddha Dhamma Mandala Society di Singapura, dalam “The Edicts of King Ashoka” sebagaimana dimuat cs.colostate.edu.

Apa yang dilakukan Asoka bukan sekadar kisah legenda, tapi diperkuat penemuan dan penerjemahan tulisan kuno pada pilar dan batu besar. Upaya itu sudah dimulai filolog James Prinsep pada 1837 atas tulisan kuno di pilar batu besar di Delhi. Dalam dekade berikutnya, lebih banyak titah sang raja ditemukan dengan penguraian yang lebih akurat. Titah-titah Asoka dapat ditemukan tersebar di lebih dari 30 tempat di seluruh India, Nepal, Pakistan, dan Afghanistan.

Pada 256 SM, Raja Asoka mengeluarkan titah Tujuh Pilar, yang salah satunya menyatakan:

“26 tahun setelah penobatan saya, berbagai hewan dinyatakan dilindungi –burung kakatua, mainas, angsa merah, itik liar, kelelawar, semut ratu, terrapins, ikan tak bertulang, ikan, kura-kura, landak, tupai, rusa, banteng, keledai liar, merpati liar, merpati piaraan, dan semua makhluk berkaki empat yang tak berguna dan tak bisa dimakan ...“

“Kambing betina, biri-biri betina, dan babi betina yang masih bersama anaknya atau memberikan susu kepada anaknya juga dilindungi. Ayam jantan tak boleh dikebiri, sekam yang di dalamnya bersembunyi makhluk hidup tak boleh dibakar dan hutan tak boleh dibakar tanpa alasan ataupun untuk membunuh makhluk-makhluk….”

Dalam A history of Indian Buddhism: from AsAkyamuni to early MahAyAna, Akira Hirakawa menulis, Asoka berulangkali mengatakan dalam titah-titahnya tentang pentingnya menghormati kehidupan tiap mahluk. Asoka mencontohkannya dengan perbuatan nyata, bukan sebatas menekankan kepada rakyatnya. Harapan Asoka, rakyatnya akan mengikutinya.

Asoka mendirikan banyak hutan lindung dan suaka bagi satwa-satwa liar. Rumah sakit hewan didirikan. Selain itu, Asoka juga menghentikan kebiasaannya berburu hewan untuk kesenangan. Olahraga berburu menjadi aktivitas terlarang –waktu itu berburu merupakan hiburan favorit para pembesar. Berburu hanya diperbolehkan sebatas untuk makan. “Kekejaman terhadap hewan di ranah domestik maupun terhadap hewan liar juga dia larang,” tulis Dhammika.

Di ranah domestik, Asoka secara bertahap menghentikan penyembelihan-penyembelihan hewan untuk masakan. Awalnya di dapur istananya ratusan ribu hewan disembelih setiap hari. Jumlahnya berkurang drastis dengan hanya tiga hewan yang boleh disembelih: dua burung merak dan seekor rusa. Pada akhirnya tak satu pun hewan yang jadi santapannya. Asoka menjadi seorang vegetarian.

Pengaruhnya terasa hingga di luar wilayah kerajaan. Asoka mengirim beberapa misionaris, termasuk anaknya, Arahat Mahinda, ke Thailand dan Sri Lanka untuk mengajarkan Buddhisme. Di sesela berburu saat kedatangan di Sri Lanka pada 247 SM, “Arahat Mahinda menghentikan Raja Devanampiyatissa dari membunuh rusa dan mengatakan kepada raja bahwa setiap makhluk hidup memiliki hak yang sama untuk hidup," ujar Jawantha Jayewardene, konservasionis gajah dari Sri Lanka, sebagaimana dikutip situs Environmental History, https://php.radford.edu.

Atas bujukan itu, Raja Devanampiyatissa menjadi Buddha dan menetapkan bahwa tak seorang pun boleh membunuh atau menyakiti makhluk hidup. “Dia memisahkan area luas di sekitar istananya sebagai tempat perlindungan flora dan fauna. Ini disebut Mahamevuna Uyana dan diyakini sebagai cagar alam yang pertama di dunia.”

Arahat Mahinda dan utusan Asoka lainnya juga memperkenalkan perlindungan binatang sebagai fungsi sentral biara di mana pun mereka pergi. Biara-biara Buddha di Thailand dan Sri Lanka hingga hari ini sering berfungsi sebagai tempat perlindungan binatang –meski kemudian terdistorsi menjadi hanya mempertahankan gajah.

Semua upaya itu Asoka lakukan untuk menebus dosa kepada makhluk-makhluk yang telah kehilangan nyawa selama dia memerintah dengan lalim. “Dia menganggap seluruh mahluk hidup adalah anaknya,” tulis Hirakawa.

Pada 232 SM, di usia 72 tahun, Asoka meninggal dunia setelah 38 tahun memerintah. Sayangnya, butuh berabad-abad untuk menyingkap pengetahuan dan kearifannya soal lingkungan hidup. Kini, ketika bumi kian rusak, orang baru menaruh perhatian pada isu lingkungan. Memang tak ada kata terlambat. Dan mungkin apa yang dilakukan Asoka bisa ditiru: membuat kebijakan lingkungan berbasis spiritualitas.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Historia
Historia