Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 2

Pengembaraan Sosrokartono, Kakak Kartini

Pernah menjadi wartawan perang dan penterjemah dalam momen-momen penting sejarah dunia, Sosrokartono menutup hidup dengan ilmu kebatinan.
 
Sosrokartono (paling kanan).
Historia
pengunjung
30.1k

Wartawan Perang dan Poliglot

Sosokartono seorang poliglot. Selama di Leiden, dia belajar banyak bahasa. Dalam Leiden Oriental Connection 1850-1940, W. Otterspeer menyebut Kartono setidaknya menguasai 9 bahasa Timur dan 17 bahasa Barat.

“Sosrokartono tidak hanya menguasai beberapa bahasa tanah air kita, bahasa modern serta Grik (Yunani) dan Latin, dia juga pandai berbahasa Basken, suatu suku bangsa Spanyol. Pernah dia menjadi juru bahasa dalam bahasa itu,” kata Bung Hatta dalam otobiografinya.

Tahun 1917, kala Eropa diguncang Perang Dunia I, koran Amerika The New York Herald Tribune (sekarang menjadi N.Y Herald Tribunne) di kota Wina, Austria, membuka lowongan kerja untuk posisi wartawan perang. Kartono melamar dan lolos ujian saringan memadatkan berita dalam bahasa Prancis sepanjang satu kolom menjadi 30 kata dalam empat bahasa: Inggris, Spanyol, Rusia, dan Prancis sendiri.

“Agar pekerjaannya lancar dia juga diberi pangkat mayor oleh Panglima Perang Amerika Serikat,” tulis Solichin Salam dalam R.M.P Sosrokartono: Sebuah Biografi.

Dari suratkabar ini, Sosrokartono mendapat gaji sekitar 1.250 dollar. “Dengan gaji sebanyak itu, ia dapat hidup sebagai seorang miliuner di Wina,” tulis Hatta.

Salah satu liputan perang terbaiknya adalah perundingan gencatan senjata antara Sekutu dan Jerman. Perundingan ini menandakan kemenangan Sekutu dan mengakhiri Perang Dunia I –kemudian dikukuhkan melalui Perjanjian Versailles tahun 1919. Perundingan dilakukan di dalam keretaapi pada 11 November 1918. Keretaapi ini kemudian berhenti di sebuah hutan di daerah Compiegne, Prancis Selatan. Karena bersifat rahasia, lokasi perundingan dijaga hingga radius 1 kilometer. Namun The New York Herald Tribune dapat menurunkan peristiwa bersejarah ini. Pengirimnya memakai kode pengenal “bintang tiga”. Sayangnya, hingga kini liputan Kartono itu sulit ditemukan.

Setelah itu, Kartono punya pekerjaan lain yang mentereng: penterjemah Liga Bangsa- Bangsa (LBB), pendahulu Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dia mengemban jabatan ini selama 1919-1921.

“Pada bulan November 1918, kala PD I berakhir, Sosrokartono dipilih oleh Blok Sekutu sebagai juru bahasa tunggal karena dia satu-satunya pelamar yang memenuhi syarat: ahli bahasa, menguasai bahasa-bahasa di Eropa dan bukan bangsa Eropa,” tulis Solichin Salam. Pada 1919 pula Kartono menjadi atase kebudayaan di Kedutaan Prancis di Den Haag.

Geram arah politik LBB yang tak netral, Kartono memutuskan pulang ke tanah air.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Sosrokartono (paling kanan).
Sosrokartono (paling kanan).