Pilih Bahasa: Indonesia
Colliq Pujie (1812-1876) | halaman 1

Pencipta Aksara Perjuangan Kaum Bugis

Colliq Pujie menciptakan aksara Bilang, digunakan sebagai komunikasi rahasia dalam perjuangan melawan Belanda.
Colliq Pujie atau Aroe Pantjana.
Foto
Historia
pengunjung
11.1k

USIA Colliq Pujie sekitar 40 tahun ketika pertama kali bertemu B.F. Matthes, penginjil dari Belanda, di Tanete, pada 1852. Dia juga sudah menjanda, bermukim di Pancana dan mendapat gelar Arung Pancana Toa (Aroe Pantjana). Anaknya Siti Aisyah We Tenriolle menjadi raja Tanete dan tidak bercocok paham.

Colliq Pujie seorang yang keras dan tak mengenal kompromi pada apa yang merugikan rakyat. Temasuk menentang takhta We Tenriolle yang dianggapnya sebagai bayangan dari Belanda. Dia bersama beberapa pengikutnya melakukan perlawanan dengan sistem gerilya dan perang terbuka.

Colliq Pujie, tumbuh dan besar di lingkungan istana Tanete. Dia membaca beragam karya dalam perpusatakaan kerajaan, menghapal Alquran dan melagukan sureq I La Galigo pada beberapa kesempatan ritual. Setahun setelah pertemuannya dengan Matthes, dia bertemu Ida Pfeifer dari Austria, seorang perempuan yang melakukan perjalanan mengililingi dunia. “Saya kira nama Colliq Pujie sebagai seorang sastrawan Bugis sudah menjadi referensi bagi para pelancong dari negeri luar,” kata Nurhayati Rahman, Guru Besar Filologi Universitas Hasanuddin.

Bagi Colliq Pujie berbagi ilmu dan pengetahuan sangatlah penting. Untuk itu, kata Nurhayati, datangnya orang asing yang mengunjungi Tanete dengan membawa misi pengetahuan akan disambut dengan baik. Maka tak heran, kerajaan Tanete membangun perpustakaan, koleksi buku dan karya dari tanah Bugis dijaga dengan begitu baik.

“Dalam beberapa naskah lontaraq, dinyatakan sebanyak dua kali kerajaan Tanete kebakaran. Ironisnya koleksi buku dan beberapa catatannya ikut hangus. Dan itu membuat Colliq Pujie sangat sedih,” kata Nurhayati.

Ketika kisruh di kerajaan Tanete, Colliq Pujie diasingkan ke Makassar pada Maret 1857 hingga 1867, karena tidak mendukung kebijakan pemerintah Belanda. Dia menjadi tahanan politik dan kebebasannya dirampas.

Pada 7 Mei 1861, Matthes menuliskan suratnya yang penuh haru pada Bibelgenoshaap, pada apa yang disaksikannya ketika mengunjungi Colliqq Pujie di rumah pengasingannya di Makassar. “Jika membaca syair kepahlawanan Bugis yang lama, sastra La Galigo yang sering dibicarakan dan yang menjadi keahlian ratu tersebut (namanya Aroe Pantjana), saya menemui bahwa dalam segala sesuatu dibuat dari emas atau dihiasi dengan emas yang banyak. Tetapi harus dikatakan zaman sudah sangat berubah. Ya, saya mau bertaruh bahwa kalau Anda dengan pukulan dengan tongkat sihir ditempatkan di istana teman Bugis saya ini, Anda tidak akan berpendapat itu sebuah istana tetapi sebuah kandang babi; ya, juga hampir Anda tidak berani makan sesuatu dari masakannya yang enak. Untung akhirnya bisa menyesuaikan diri dengan segala sesuatu, tetapi tidak menyenangkan hidup di antara pribumi senantiasa.”

Meski demikian dalam masa pengasingan itu, Belanda memberikannya tunjangan sebesar 20 gulden dan dua pikul beras setiap bulan. Belas kasih itu, rupanya tak pernah cukup karena sebagai seorang bangsawan dalam pengasingan Colliq Pujie didampingi beberapa kerabat dan pelayannya.

Akhirnya, beberapa kali Colliq Pujie harus menjual perhiasan dan menerima tawaran Matthes dalam mengerjakan beberapa salinan naskah, dengan bayaran tertentu. Salah satu mahakarya terpeting yang diselesaikannya dalam pengasingan adalah salinan 12 jilid naskah I La Galigo, yang tebalnya mencapai 2851 halaman folio dengan panjang mencapai 300.000 baris. Naskah inilah yang kemudian diperkirakan baru merangkum sepertiga dari semua naskah utuh.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Colliq Pujie atau Aroe Pantjana.
Foto
Colliq Pujie atau Aroe Pantjana.
Foto