Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Orang Afrika: Mengapa Sukarno Disingkirkan?

Orang Afrika heran Sukarno disingkirkan. Sukarno membangkitkan harga diri Afrika dan orang Afrika.
Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Presiden Indonesia Sukarno, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, dan Presiden Ghana Kwame Nkrumah, dalam acara Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955.
Foto
Historia
pengunjung
15.2k

BEN Mboi (1935-2015), salah satu dari ratusan anggota DPRGR/MPRS yang memberhentikan Sukarno sebagai presiden dan melantik Soeharto sebagai presiden pada 27 Maret 1968. Namun, kemudian dia merasa menyesal setelah sebuah pengalaman menyentaknya ketika bertemu dengan orang-orang Afrika.

Ben menceritakan pengalamannya itu dalam Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja. Pada 1971, dia mengambil gelar Master in Public Health di Belgia. Di sana, dia bertemu dokter-dokter dari Afrika dan Timur Tengah, antara lain Tanzania, Uganda, Kongo, Kamerun, Nigeria, Mesir, Irak, Iran, dan Kuwait.

Mereka bertanya, “Anda dari mana?”

Ben menjawab dari Indonesia.

“Oh Indonesia Sukarno?”

“Tidak,” kata Ben. “Indonesia Soeharto!”

“Di mana Sukarno?”

“Sukarno sudah disingkirkan dan sudah meninggal.” (Baca: Akhir hidup Sukarno menyedihkan. Jadi tahanan rumah, setelah meninggal tidak dimakamkan sesuai wasiatnya)

“Kenapa dia disingkirkan?”

Ben menjawab seperti mode pada saat itu, “Sukarno bersimpati terhadap komunisme.”

“Apa? Karena bersimpati pada komunis kamu singkirkan dia? Dia yang membawa kamu jadi merdeka, kamu singkirkan hanya karena dia bersimpati pada komunis? Astaga, kamu lebih pentingkan komunisme daripada kemerdekaan? Kamu tidak tahu terimakasih!”

“Supaya Anda tahu, kami orang Afrika merdeka oleh getaran yang digerakkan oleh Sukarno, yang membangkitkan harga diri Afrika dan orang Afrika. Aneh, dia yang bawa kamu ke pintu gerbang kemerdekaan malah kamu singkirkan!”

“Saya tidak dapat menjawab. Betapa pentingnya makna kemerdekaan itu. Betapa pentingnya seorang Bapak Bangsa itu, yang membawa kita ke pintu gerbang kemerdekaan,” kata Ben Mboi yang kemudian menjadi gubernur Nusa Tenggara Timur (Baca: Cerita Menarik di Balik Pembentukan Provinsi NTT)

Salah satu getaran yang digerakkan Sukarno adalah Konferensi Asia Afrika pada 1955. Bangsa-bangsa Asia dan Afrika, terutama yang belum merdeka, memenuhi undangan Sukarno untuk menghadiri Konferensi Bandung itu, untuk menuntut kemerdekaannya.

(Baca: Kisah Moses Kotane, Utusan Afrika Selatan di KAA 1955, Revolusi Amerika dalam Pidato Sukarno di KAA, Sokongan Indonesia untuk Kemerdekaan Afrika Utara).

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Presiden Indonesia Sukarno, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, dan Presiden Ghana Kwame Nkrumah, dalam acara Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955.
Foto
Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Presiden Indonesia Sukarno, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, dan Presiden Ghana Kwame Nkrumah, dalam acara Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955.
Foto