Pilih Bahasa: Indonesia

Menelusuri Jejak Henk Sneevliet di Semarang

Lelaki asal Belanda itu dikenal sebagai pembawa ajaran komunisme ke Indonesia. Sempat menetap lima tahun di Semarang, meninggalkan jejak samar-samar.
Henk Sneevliet ketika menjadi sekretaris pada Semarangsche Handelvereeniging, 1917.
Foto
Historia
pengunjung
6.2k

MEI 1913, kesempatan itu datang. Hanya tiga bulan setelah tiba di Hindia Belanda, dan sempat bekerja di Surabaya sebagai staf editor Soerabajaasch Handelsblad, Sneevliet hijrah ke Semarang.

Sejarah mencatat, selama berada di Semarang, mantan anggota Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda (SDAP) itu aktif melakukan kerja-kerja revolusioner: menyokong aktivitas Serikat Pekerja Kereta Api dan Trem (VSTP) dan mendorong agar Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda (ISDV) membuka keanggotaan bagi bumiputera. Ikhtiar Sneevliet melahirkan manusia-manusia radikal seperti Semaoen, Darsono, dan Mas Marco Kartodikromo yang gencar melakukan perlawanan politik terhadap pemerintah kolonial.

Meski menancapkan pengaruh politik yang kuat, jejak Sneevliet di Semarang nyaris tak berbekas. Kalaupun jejak itu ada, ia serupa kepingan puzzle yang tak lengkap. Tempat tinggal Sneevliet, misalnya, hanya tinggal kenangan belaka. Jangankan wujud, di mana letak persisnya pun tak ada yang tahu.

Liem Thian Joe dalam Riwajat Semarang menyebut, rumah lelaki bernama sandi Maring itu terletak di daerah Gergaji, tak jauh dari rumah konglomerat Oei Tiong Ham. Pada 10 Januari 1916, tulis Liem, Sneevliet mengadakan pertemuan dengan 10 aktivis pergerakan lain di rumahnya.

Mereka adalah DJA Wasterveld (ISDV), GL Toope dan R Pramoe (Insulinde), Zimmerman v Woesih dan Mohammad Joesoef (VSTP), Bransteder (Marinebond), Soeharijo (Porojitno), Tjipto Mangoenkoesoemo dan Darnakoesoema (IJB), serta KT Kwee (harian Djawa Tengah). Pertemuan untuk membentuk komite aksi kebebasan pers, menyusul penangkapan Marco yang tersandung persdelict.

Hal serupa juga terjadi pada bekas Kantor VSTP dan ISDV, tempat Sneevliet pernah berkiprah. Buku Sedjarah Pergerakan di Semarang karya Soemardi, seperti dikutip Dewi Yuliati dalam disertasi “Dinamika Pergerakan Buruh di Semarang 1908-1926” memuat foto Kantor pusat VSTP di Jalan Purwodinatan.

Namun penelusuran Historia di lapangan tak menemukan wujud bangunan itu. Purwodinatan yang berjarak sepelemparan batu dari kawasan Kota Lama, saat ini telah menjelma permukiman padat. Terdapat tiga bangunan lama, dua diantaranya berupa gudang dan satu lainnya rumah tinggal. Namun wujud ketiga bangunan itu beda dari foto di buku Soemardi. Saat Historia menanyakan ihwal kantor VSTP, warga setempat tak ada yang tahu.

Setali tiga uang dengan bekas kantor ISDV Semarang. Di mana letaknya, sejauh ini belum terlacak. Sebuah foto yang diunggah di dunia maya menunjukkan Sneevliet bersama sejumlah pengurus ISDV Semarang berpose di depan sebuah rumah pada 1917. Namun tak dijelaskan apakah bangunan rumah itu merupakan kantor ISDV atau bukan.

Situs lain yang berhubungan dengan petualangan politik Sneevliet di Semarang adalah gedung Raad van Justitie. Kini, bangunan megah yang berdiri persis di sebelah selatan Tugumuda itu telah beralih fungsi menjadi Museum Mandala Bhakti. Seperti dicatat sejarah, Sneevliet pernah menjalani persidangan lantaran dituduh menghasut rakyat Hindia untuk melawan Belanda. Lewat artikel di De Indier berjudul “Zegepraal” (kemenangan), Sneevliet mengajak mereka mengikuti jejak rakyat Rusia yang sukses menumbangkan Tsar.

Lima tahun di Jawa, Sneevliet paling banyak menghabiskan waktunya di Semarang. Kerja-kerja revolusioner yang ia lakukan membuat wajah kota ini memerah. Namun seiring waktu, semburat warna itu memudar. Sneevliet dan murid-muridnya yang radikal itu pun terasing dari panggung sejarah.

Lebih lengkap baca laporan utama "Henk Sneevliet: Orang Pertama yang Membawa Komunisme ke Indonesia" di majalah Historia Nomor 13 Tahun II 2013

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Henk Sneevliet ketika menjadi sekretaris pada Semarangsche Handelvereeniging, 1917.
Foto
Henk Sneevliet ketika menjadi sekretaris pada Semarangsche Handelvereeniging, 1917.
Foto