Pilih Bahasa: Indonesia

Los Gilos Pelopor Lawakan Cerdas

Bing Slamet mendirikan grup lawak trio Los Gilos bersama Mang Udel dan Cepot. Grup lawak pertama yang melontarkan kritik sosial lewat canda.
Grup lawak Kwartert Jaya: Eddy Sudihardjo (Eddy Sud), Bing Slamet, Kho Tjeng Lie (Ateng), dan Iskak Darmo Suwiryo (Iskak), serta Benyamin Sueb (paling kanan).
Foto
Historia
pengunjung
4.9k

SEJAK berkiprah di Cepot-Udel, Mang Udel dikenal sebagai pelawak yang suka mengandalkan skrip alias olah kata, bukan semata bakat, apalagi olah tubuh atau selip lidah. Menurutnya, di luar negeri, pelawak macam Bop Hope atau Danny Kaye memiliki gag writer, sehingga mereka bahkan bisa melawak hanya dengan mengandalkan kata-kata.

“Gagasan Mang Udel mungkin dianggap terlalu maju pada zamannya. Padahal itu merupakan spirit yang sangat baik dan seharusnya menjadi salah satu pilar profesionalisme para pelawak Indonesia,” ujar Darminto M. Sudarmo.

Untuk urusan skrip, Mang Udel menyerahkannya kepada Mang Cepot, otak di balik lawakan-lawakan Los Gilos. Los Gilos kemudian dianggap sebagai pelopor lawakan cerdas yang penuh sindiran politik dan kritik sosial.

Namun mengikuti skenario tidak selalu mudah. Mang Udel menyebut ketidaksamaan daya tangkap dan kemampuan tak jarang membuat lawakan melenceng dari skenario. Bing seringkali jadi biang keladinya –sekalipun dari kekeliruan itu terkadang muncul kelucuan yang mengagetkan.

Menurut Darminto, Bing Slamet lebih mengandalkan spontanitas dan bahasa tubuh yang lebih komunikatif dan... berhasil. Gaya Bing ini tanpa sengaja menjadi preseden bagi pelawak penerusnya. “Mereka mungkin lupa bahwa Bing Slamet sebenarnya juga selalu menyiapkan konsep, hanya saja konsepnya tak tertulis. Inilah kisruh persepsi yang keterusan bahkan hingga saat ini,” ujar Darminto.

Spontanitas Bing inilah yang membuatnya segera jadi bintang Los Gilos. Dengan talentanya yang berlimpah, dia bisa berlagak bak perempuan atau anak kecil atau menyanyi dengan banyak logat dan lagu.

Selain melawak, ketrampilan Bing memetik gitar dan Mang Udel memainkan ukulele memberi warna dalam penampilan Los Gilos. Tak heran jika ada yang menyebut, “Trio ini mungkin bisa disebut sebagai kelompok lawak yang beresensi musikal,” tulis Rudi Badil dalam Warkop: Main-Main Jadi Bukan Main. “Konon, nama Trio Los Gilos itu merupakan merupakan plesetan dari Trio Los Panchos, kelompok musik Meksiko yang ngetop di paruh era 40-an hingga 50-an.”

Los Gilos juga sempat bermain dalam film Raja Karet dari Singapura bersama sejumlah pelawak macam Kuncung, Poniman, D. Harris, dan Srimulat. Sayang, film ini tak laku.

Namun, Mang Udel dan Mang Cepot terikat pekerjaan kantor. Keduanya juga menganggap melawak sebagai sambilan. Trio Los Gilos, “tidak pernah 100 persen profesional,” ujar Mang Cepot, dikutip Kompas, 16 Desember 1972. “Itulah sebabnya kami tidak pernah bisa memenuhi permintaan main di daerah-daerah.”

Kegilaan Los Gilos dengan menirukan pidato Bung Karno dalam lawakan ikut andil dalam pembubaran Los Gilos. Orang di sekeliling Bung Karno, ujar Arwah Setiawan seperti dikutip Des Alwi dalam “Bing Slamet dalam Dunia Lawak Indonesia”, dimuat Prisma tahun 1988, tak senang. Padahal Bung Karno sendiri senang saja.

Setelah bertahan selama 24 tahun, Los Gilos bubar pada 1963. Mang Udel dan Mang Cepot kemudian membentuk kwartet bersama Mang Topo, sementara Bing Slamet membentuk Kwartet Jaya.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Grup lawak Kwartert Jaya: Eddy Sudihardjo (Eddy Sud), Bing Slamet, Kho Tjeng Lie (Ateng), dan Iskak Darmo Suwiryo (Iskak), serta Benyamin Sueb (paling kanan).
Foto
Grup lawak Kwartert Jaya: Eddy Sudihardjo (Eddy Sud), Bing Slamet, Kho Tjeng Lie (Ateng), dan Iskak Darmo Suwiryo (Iskak), serta Benyamin Sueb (paling kanan).
Foto