Pilih Bahasa: Indonesia
T.D. Pardede (2)

Pak Ketua Gila Bola

Sukses dalam dunia bisnis, Pardede mencoba peruntungan di sepakbola.
 
T.D. Pardede sedang memberikan instruksi kepada para pemain Pardedetex.
Foto
Historia
pengunjung
2.8k

Selain menekuni wirausaha, sepakbola menjadi dunia yang tak terpisahkan dalam hidup Pardede. Kala remaja, dia adalah pemain bola antar kampung di Seibelawan, Sumatera Timur. Di kesebelasan Sahata, Pardede merupakan kawan satu tim Kamarudin Panggabean - kelak menjadi pendiri klub PSMS Medan.

Sepakbola mulai ditangani Pardede saat dia bekerja di perkebunan Rambang, Kabupaten Simalungun pada penghujung 1930-an. Di sana, selain sebagai kerani (juru tulis), Pardede dipercayakan untuk mengurus klub sepakbola milik pembesar perkebunan berkebangsaan Belanda. “Siapa yang pintar main bola, diterimanya bekerja di perkebunan,” tulis Tridah Bangun dalam Dr. T.D. Pardede 70 tahun: Pejuang Patriot.

Ketika Pardedetex berkembang, dibentuk pula kesebelasan PS (Persatuan Sepakbola) Pardedetex pada 1960. Pemainnya terdiri dari para karyawan. Pertandingan yang diikuti sebatas antar tim perusahaan di kota Medan ataupun kompetisi internal yang diselenggarakan PSMS Medan.

Orang Medan menyebutnya “Pak Ketua” (dengan aksen Batak terlafal: Katua). Gelar itu dipopulerkan kalangan wartawan Medan dan orang-orang yang terlibat urusan sepakbola disana. “Dalam setiap pertemuan atau rapat yang menyangkut sepakbola, Pardede hampir selalu memegang jabatan ketua,” tulis Tridah Bangun.

Pelopor Sepakbola Profesional

Pada Maret 1968, Pardede memanggil S.P Gultom, karyawan sekaligus kapten kesebelasan Pardedetex.

“Gultom, kau harus tahu, kalau aku ikut campur dalam setiap usaha haruslah menjadi nomor satu, semua nomor satu, tak ada nomor dua. Kau lihat pabrik tekstil, semua nomor satu. Sekarang aku mau ikut sama parbola (pemain bola), jadi harus nomor satu,” ujar Perdede kepada Gultom dalam “To be Number One,” termuat di kumpulan tulisan 75 Tahun Dr. T.D. Pardede: Pengusaha Mandiri, Pejuang Berani suntingan Samuel Pardede.

Pada akhir 1968, kesebelasan Pardedetex didirikan dengan format baru: klub profesional. Saat itu belum ada klub sepakbola Indonesia yang menerapkan sistem profesional (baca: berbayar). Hanya ada Liga Perserikatan kelas amatir yang klub-klubnya dikelola pemerintah daerah.

Untuk mewujudkan obesesinya, pundi-pundi Pardede tak berseri. Tak tangung-tanggung, pemain top ibukota diboyong ke Medan. Di antaranya Soetjipto Sundoro, Judo Hadijanto, Sinyo Aliandu, Anwar Udjang, Iswardi Idris, Abdul Kadir, dan Candra Basri. Semuanya pemain klub Persija Jakarta yang baru saja menjuarai turnamen King’s Cup di Bangkok. Mereka juga langganan tim nasional. Endang Witarsa, pelatih tim nasional, didatangkan pulang pergi Jakarta-Medan, khusus untuk mengasuh Pardedetex.

“Kami dikontrak sebagaimana pemain-pemain sepakbola profesional di luar negeri, yang tentunya belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia,” ujar sang kiper utama Judo Hadijanto dalam "Perintis Sepakbola Profesional" disunting Samuel Pardede.

Agar total dalam bermain bola, Pardede memenuhi segala kebutuhan pemain. Endang Witarsa, dikutip Kompas, 9 Desember 1968, menyatakan kekagumannya terhadap organisasi dan fasilitas Pardedetex kepada para pemainnya. Menurut Witarsa, Pardede memiliki kepedulian yang besar untuk meningkatkan persepakbolaan dalam negeri dan kesejahteraan pemainnya. “Pardede adalah orang yang jujur dan berani berkorban untuk kemajuan sepakbola kita,” katanya.

Para pemain, lanjut Witarsa, diberi jaminan yang baik, misalnya perumahan sendiri bagi pemain yang sudah berkeluarga dan mess bagi pemain bujangan. Selain itu, pemain mendapat uang saku Rp 15.000 per bulan di luar kebutuhan sehari-hati yang dicukupi seluruhnya. Witarsa sendiri menurut pengakuannya tidak dibayar untuk melatih Pardedetex. “Saya cuma minta tiket ke World Cup 1970 di Meksiko dan itu telah disetujui oleh Pardede,” ujar Witarsa.

Kritik dan kecaman ditujukan kepada Pardede. Petinggi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) khawatir Pardedetex akan menahan para pemainnya untuk membela tim nasional. Dalam pandangan para penentang, profesionalisme yang digagas Pardede akan mendorong komersialisasi sepakbola. Tudingan pun dilontarkan: Pardedetex menjadi etalase untuk mempromosikan bisnis Pardede. Pardede tak menampik. Menurutnya, dalam Kompas, 19 September 1969, dengan memajukan keolahragaan di Indonesia, yang menjadi tujuan utamanya, secara otomotis akan berdampak terhadap peningkatan citra perusahaannya.

Pada kenyataannya, visi Pardede melalui Pardedetex sejalan dengan pengembangan PSSI. Dengan relasi yang dimiliki Pardede, Pardedetex bisa menjalani laga antarklub internasional mewakili Indonesia. Tim Pardedetex generasi Soetjipto tak lain merupakan kesebelasan PSSI dalam turnamen antarnegara. Singkatnya, tim nasional Indonesia saat itu terdiri dari para pemain Pardedetex.

“Hasilnya, kami atas nama PSSI, khususnya Pardedetex satu demi satu dapat memenangkan tiap turnamen dalam maupun luar negeri. Dan kami merupakan salah satu kesebelasan yang sangat disegani di Asia pada saat itu,” tulis Judo Hadijanto, mantan penjaga gawang Pardedetex dan tim nasional.

Pada 1969, tim nasional Indonesia menjuarai Merdeka Cup, turnamen antarnegara Asia, di Kuala Lumpur. Nama-nama seperti Soetjipto Sundoro dan Jacob Sihasale merupakan pemain bintang Pardedetex yang cukup tenar di Asia Tenggara. Mereka adalah pencetak gol Indonesia saat mengalahkan Malaysia 3-2 dalam partai final. Pardedetex mulai mendapat tempat dan menjadi sorotan publik pecinta sepakbola Indonesia.

Namun karena tak punya tempat yang menaungi, semacam kompetisi atau liga di dalam negeri, Pardedetex vakum sejak 1970. Kevakuman ini juga disebabkan konsentrasi Pardede dalam mengurusi bisnisnya. Pardedetex baru dihidupkan kembali pada 1975. Kendati demikian, nama Pardedetex yang telah populer mendorong para taipan lain untuk menggarap sepakbola.

Sejak era Pardedetex, beberapa pengusaha turut membentuk klub sepakbola. Pengusaha pabrik cat, Benny Muljono, membentuk klub Warna Agung Jakarta (1971); Sigit Harjoyudanto, putra mantan Presiden Soeharto, mendirikan klub Arseto di Solo (1978); Mayor Jenderal (Purn) Acub Zainal membentuk klub Perkesa ’78 di Jakarta sebelum pindah ke Sidoarjo (1978); Syarnoebi Said, agen tunggal mobil Mitsubishi, mendirikan Krama Yudha Tiga Berlian Palembang; Beniardi, pengusaha farmasi, membentuk tim Tunas Inti di Jakarta. Sepakbola Indonesia pun mulai semarak dengan kemunculan klub-klub profesional. Bersama T.D. Pardede, para pengusaha swasta penggila bola itu kemudian menggulirkan ide membentuk kompetisi tingkat nasional bernama Galatama. Riuh ramai sepakbola Indonesia dimulai.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
T.D. Pardede sedang memberikan instruksi kepada para pemain Pardedetex.
Foto
T.D. Pardede sedang memberikan instruksi kepada para pemain Pardedetex.
Foto