Pilih Bahasa: Indonesia

Kontroversi Nobel

Temuan dokumen baru memperlihatkan kemungkinan Penerima Nobel 1936 bukan simpatisan Nazi.
 
Historia
Historia
pengunjung
4.1k

REPUTASI Peter Debye, orang Belanda peraih Hadiah Nobel di bidang Kimia tahun 1936, sempat tercoreng namanya karena dicurigai sebagai simpatisan Nazi. Bukti-bukti terbaru menunjukkan kemungkinan dia seorang informan anti-Nazi yang bekerja untuk Sekutu selama Perang Dunia II.

Jurrie Reiding, pensiunan ahli kimia di Belanda, meneliti surat-surat pribadi Debye dan menyimpulkan bahwa dia kemungkinan besar menyediakan informasi bagi seorang mata-mata yang bekerja bagi agen intelijen Inggris, MI6, di Berlin. Temuan itu dipublikasikan Ambix, jurnal Society for the History of Alchemy and Chemistry di Belanda.

Reiding mengatakan, Debye adalah teman dai Rosbaud, orang berkewarganegaraan Austria yang bekerja di Kaiser Wilhelm Institute for Physics di Berlin, tempat Debye menjabat direktur antara 1935 hingga 1939. Rosbaud, yang amat membenci Nazi, direkrut MI6 untuk menyediakan informasi ilmiah, termasuk detail pembuatan Roket V1 dan V2 serta upaya Jerman membuat bom atom. Dia tinggal di Berlin selama masa perang. Bahkan saat ini, informasi tentang kegiatan Rosbaud, yang bekerja dengan nama sandi Griffin, masih dirahasiakan.

Debye menjaga persahabatannya dengan Rosbaud, yang terang-terangan mengaguminya, setelah perang usai dengan terus berkirim surat setidaknya hingga tiga tahun sebelum kematian Debye pada 1966. “Hubungan dekat antara Rosbaud dan Debye merupakan bukti sangat jelas bahwa Debye adalah seorang anti-Nazi,” ujar Reiding.

Tuduhan yang dialamatkan ke Debye berakar pada tindakannya selama menjabat ketua German Physical Society (DPG) pada 1938. Pada 1933 Rezim Hitler memberlakukan hukum yang mengharuskan pemecatan semua profesor universitas yang punya darah Yahudi. Akibat hukum itu, DPG terdorong untuk memecat semua anggota Yahudinya yang masih tersisa. Debye mengirimkan sebuah surat kepada para anggotanya menjelaskan alasan tindakan itu. Dia menulis, “keadaan di luar kendali kita” dan kemudian menandatangani surat itu dengan “Heil Hitler!”

Namun, menurut Ernst Homburg, sejarawan sains di Universitas Maastricht, Belanda, kondisi saat itu membuat nyaris tak mungkin tak menulis surat seperti itu. “Siapapun yang dianggap melanggar aturan itu akan mendapatkan hukuman berat,” ujarnya.

Pada Januari 2006, surat itu dikupas dalam sebuah artikel di majalah Belanda, Vrij Nederland dan buku Einstein in Nederland, keduanya ditulis oleh Sybe Rispens, penulis sains yang tinggal di Berlin. Rispens mengklaim bahwa surat itu dan bukti-bukti lain menunjukkan bahwa Debye bekerjasama dengan Nazi. Kehebohan di media mendorong Universitas Utrecht mencabut nama Debye dari Institute Nanomaterials Science, dan Universitas Maastricht menarik dukungannya atas penghargaan riset ilmiah tahunan, Debye Prize.

Tindakan ini memicu serangkaian protes dari para ilmuwan. Mereka berpendapat, dengan menerima hadiah Nobel, Debye berisiko mengundang kemarahan Nazi, yang telah melarang seluruh warga negara Jerman menerima hadiah itu. Debye membantu ahli fisika nuklir Yahudi, Lise Meitner, melarikan diri dari Belanda pada 1938, dan Nazi menolak kepemimpinannya di DPG karena dianggap terlalu bersahabat dengan orang-orang Yahudi. Setelah meninggalkan Jerman pada 1940 untuk bekerja di Cornell University di Ithaca, New York, dia membantu Sekutu dalam perang dengan amat antusias, terutama melalui risetnya dalam bidang polimer dan karet sintetis.

Kemarahan masyarakat mendorong Kementerian Pendidikan Belanda menugaskan Institut Dokumentasi Perang di Amsterdam untuk menyelidiki masalah ini. Meski laporan mereka pada 2007 melemahkan tuduhan itu, Institut mengklaim bahwa Debye bersalah karena menjadi seorang ”oportunis”, menuduhnya “membuka pintu belakang untuk Nazi,” begitu dia sampai di Amerika dengan terus mempertahankan kontak dengan Nazi Jerman.

Peter Morris, editor Ambix sekaligus sejarawan bidang ilmu kimia, mengatakan bahwa “Di Belanda, dan dalam tingkat yang lebih ringan di Amerika, tuduhan ini mencoreng reputasi Debye.”

Meski demikian, pada 2008 komite pemerintah Jerman mengatakan pada Universitas Utrecht dan Maastrich bahwa temuan tentang tindakan Debye dianggap masih samar. The Debye Institute di Universitas Utrecht dibuka kembali, dan Universitas Maastricht kembali mempersiapkan Debye Prize untuk tahun depan.

“Sudah ada banyak argumentasi untuk “memulihkan reputasi Debye” sebelum tulisan itu muncul,” ujar Homburg, menyebut buku Rispens yang terbit pada 2006 “dipenuhi cacat.” Namun dia menambahkan bahwa buku baru itu adalah “amat penting dan akan memberi kontribusi bagi perdebatan yang terjadi (tentang Debye), sehingga menghasilkan penilaian yang lebih berimbang.”

Pertanyaan lainnya: apakah detail yang disodorkan Reiding menambah pengetahuan awam tentang Debye. “Ada dua pendapat: mereka yang membenci Debye dan mengutuk tindakannya ketika menjadi presiden DPG, dan mereka yang menganggap dia sebagai orang suci,” ujar Henk Lekkerkerker, seorang ahli kimia fisika di Debye Institute di Utrecht. “Kedua pendapat ini menyesatkan, dan para sejarawan profesional mengemukakan gambaran yang lebih akurat dan halus,” ujarnya.

Morris menyimpulkan bahwa “bukti-bukti lain akan dibutuhkan sebelum masalah ini bisa diputuskan tanpa rasa ragu.” Namun, ujarnya, “ada kecenderungan untuk membuat penilaian tanpa mempertimbangkan seluruh aspek kehidupan Debye yang amat kompleks, namun juga gagal memaparkan kehidupan ambigu di bawah pemerintahan Nazi.” [NATURENEWS]

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Komentar anda
Historia
Historia