Pilih Bahasa: Indonesia

Ketika Kartini Menggugat Snouck Hurgronje

Snouck menutup kenyataan tentang penderitaan kaum perempuan korban permaduan. Membuat Kartini geram dan kerapkali mengejeknya.
Kartini, Kardinah, dan Roekmini, 1902.
Foto
Historia
pengunjung
7.7k

DALAM salah satu suratnya untuk Rosa Abendanon, Kartini menitip pertanyaan buat Snouck Hurgronje. Pertanyaan itu seputar ukuran kedewasaan perempuan dalam hukum Islam terutama usia yang pantas untuk menikah. Snouck saat itu bekerja sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan Islam.

“Apakah di kalangan Islam ada undang-undang tentang umur dewasa seseorang, sebagaimana di kalangan Anda? Saya ingin sekali mengetahui ala kadarnya tentang hak dan kewajiban, atau lebih tepat tentang undang-undang sekitar perempuan Islam dan anak perempuannya?” tulis Kartini dalam suratnya, 18 Februari 1902.

Surat itu ditulis pada usia Kartini yang mulai matang dan ada semacam keharusan bagi seorang perempuan Jawa seperti dia untuk segera menikah. Tampaknya dia belum rela melepas masa lajangnya.

Menurut Elisabeth Keesing dalam Betapa Besar Pun Sebuah Sangkar: Hidup, Suratan, dan Karya Kartini, pertanyaan Kartini tentang usia yang pantas bagi perempuan untuk menikah itu kerap didahului oleh “percakapan aneh dengan Sijthoff.” Kartini selalu menyelipkan pembahasan soal Sijthoff.

Piet Sijthoff adalah residen Jepara kemudian Semarang, yang selalu mendorong Kartini dan dua saudara perempuannya, Roekmini dan Kardinah, untuk belajar. Kartini mengenalnya sejak kanak-kanak dan memanggilnya Oom Piet. “Dalam surat-surat Kartini yang sudah diterbitkan, nama Sijthoff baru muncul jika dalam percakapan dia mengatakan ‘kau harus kawin’,” tulis Elisabeth.

Sijthoff, 22 tahun di atas Kartini, belum menikah dan tinggal dengan ibu dan saudara perempuan serta keponakannya. Keluarga itu mula-mula ramah terhadap Kartini, namun kemudian berubah karena mengira kalau putri bupati itu menaksir Sijthoff sebagai calon suami. Menurut Elisabeth ada pendapat di kalangan orang Belanda di Hindia waktu itu kalau “pendidikan Belanda” yang baik bagi kaum perempuan pribumi adalah lewat pernikahan dengan seorang lelaki Belanda.

Kartini pun menegaskan, “Jadi kami yang mendambakan ilmu dan pengetahuan ini mengincar seorang residen atau asisten residen? Ini sungguh lucu! Jadi mungkin kami ini menginginkan Tuan Sijthoff!!!”

Elisabeth melihat sebaliknya dalam soal modus kalimat Sijthoff kepada Kartini yang sering menyatakan “kau harus kawin”. Menurutnya, anjuran itu malah “seakan Oom Piet sendiri pernah terpikir untuk kawin dengan salah seorang dari mereka.”

Elisabeth yakin Kartini dan Roekmini tidak terpikir untuk memiliki suami lelaki Belanda. Mereka mencari hubungan perkawinan yang lebih layak untuk gadis Jawa. Apalagi Kartini menjadi saksi tentang banyaknya pernikahan usia dini yang mendatangkan penderitaan bagi kaum perempuan.

“Karena itu mereka mencari dukungan ahli agama Islam Snouck Hurgronje, yang pada tahun 1899 diangkat menjadi penasihat urusan pribumi dan Arab,” tulis Elisabeth.

Namun, jawaban Snouck Hurgronje mengecewakan Kartini. Alih-alih menguatkan pendirian Kartini untuk tak buru-buru menikah, Snouck malah bilang “Gadis Islam tidak pernah dewasa. Jika dia ingin bebas, dia harus menikah dahulu. Setelah itu boleh cerai lagi.”

“Jawaban itu tak dapat dijadikan pegangan. Tetapi yang lebih celaka ialah bahwa tokoh besar yang diharapkan pengertian serta dukungannya itu menentang cita-cita Kartini,” tulis Elisabeth. Maka wajar jika Kartini kemudian bertanya dengan nada meragukan pengetahuan Snouck, “Apakah Dr. S(nouck Hurgronje, red) itu mengenal betul Jawa?”

Kartini juga kecewa pada Snouck yang sama sekali tak pernah bersikap tegas dalam urusan poligami, malah terkesan seperti mendukung praktik permaduan itu. Kartini lantas menyindir Snouck yang pernah mengatakan padanya kalau “hidup perempuan Muslim di dalam perkawinan baik sekali.”

Padahal dalam banyak suratnya, Kartini menguraikan kasus penderitaan perempuan di rumah yang penuh dengan anak dan istri dari seorang suami. Pernah pula Kartini mengungkapkan kisah seorang perempuan yang menjadi gila karena penderitaannya: dimadu oleh suami dan terpaksa hidup seatap dengan perempuan lain dalam kehidupan rumah tangganya. (Baca: Memadu Perempuan dan Madu Berapa?)

“Apakah dr. Snouck masih dengan darah dingin akan mengatakan, ‘hidup mereka baik sekali’, apabila beliau melihat segala yang telah kami saksikan, dan mengetahui apa yang kami ketahui?” kata Kartini menggugat Snouck.

Setiap kali Kartini menguraikan kasus poligami yang tragis, menurut Elisabeth, “dengan nada mengejek dia mengutip kata-kata ‘hidup mereka baik sekali’.”

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Kartini, Kardinah, dan Roekmini, 1902.
Foto
Kartini, Kardinah, dan Roekmini, 1902.
Foto