Pilih Bahasa: Indonesia

Jejak Orang Prancis di Kesultanan Banten

Jean Baptiste de Guilhen melarikan diri dari hukuman mati di negerinya. Merantau sampai ke Banten.
Peta Banten, 1724, karya Francois Valentijn.
Foto
Historia
pengunjung
3.7k

AKUNTAN sekaligus ahli tekstil Prancis, Jean Baptiste de Guilhen, masih menyelesaikan pembukuan perusahaannya. Suara langkah terdengar memasuki rumahnya pada malam di tahun 1668. Dia mengambil senjata dan menembak dua orang yang dia anggap rampok itu. Seorang tewas, seorang lagi berhasil diselamatkan. Ternyata, kedua orang itu anak buahnya yang tinggal serumah di Beaucaire, Prancis. Guilhen tak pernah menduga peristiwa itu bakal mengubah jalan hidupnya.

Lahir di Tarascon, Foix, Prancis pada 8 September 1634, Guilhen merupakan anak keluarga borjuis kaya yang menganut Katolik taat. Sejak kecil dia dititipkan ke neneknya, seorang Katolik puritan, agar mendapat pendidikan yang baik. Selain itu, dia mendapat pendidikan ilmu umum dari guru privat. Minat belajar besar dan dia berbakat. Setahun setelah neneknya meninggal, dia berangkat ke Lyon.

Menurut Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII, pada 1649, ayahnya memutuskan untuk menghentikan pendidikannya dan mengirimnya ke Lyon untuk bekerja di sebuah perusahaan perdagangan tekstil ternama. Ayahnya menyuruh dia bekerja di perusahaan tekstil ternama. Dia memulai kariernya dari penjaga gudang. Namun hasratnya untuk terus belajar membuatnya cepat maju. Pertemuan sehari-hari dengan tekstil membuatnya jadi ahli tekstil dengan spesialisasi sprei. Dia juga belajar akuntansi waktu menjadi penjaga gudang, ini yang membuatnya diminta perusahaan menangani pembukuan.

Atasan Guilhen sangat terkesan oleh prestasinya. Selain menaikkan pangkat Guilhen, sang atasan juga meminta Guilhen menjadi mitra perusahaan. Dia diminta menangani pengiriman barang ke Italia, tempat yang sering dia kunjungi. Guilhen pula yang mendapat kepercayaan untuk membawa uang gaji prajurit yang bertugas di Pignerol dan Casal di Piemont, Italia utara. Guilhen sadar, risiko kerjanya sangat tinggi. Pernah beberapakali dia hampir dirampok di daerah antara Bologna dan Modena ketika mengantarkan uang perusahaan.

Namun, peristiwa di Beaucaire tak bisa membuatnya tetap di perusahaan. Salah satu anak buah yang menjadi korban penembakan Guilhen, atas dorongan teman-temannya, bersaksi di pengadilan. Guilhen divonis hukuman mati.

Setelah memutuskan keluar dari perusahaan, Guilhen melarikan diri. Tak lama kemudian dia mendapatkan pekerjaan di Royale Compagnie Francaise des Indes (Kongsi Dagang Prancis di Hindia Timur), yang sedang meluaskan jaringan ke Asia Timur dan membutuhkan tenaga kerja. Menggunakan kapal Vautour, Guilhen berangkat pada awal Mei 1670 dan tiba di Surat, India, awal tahun berikutnya.

Namun di Surat, Francois Caron, pimpinan Kongsi Dagang Prancis di Asia sekaligus pemimpin armada pelayaran, mendapat ide untuk membuka kantor perwakilan di Banten. Hal itu berangkat dari pengalaman Caron yang pernah bekerja pada VOC dan berambisi membuat kongsi dagang Prancis sebesar VOC. “Perancis, atau lebih tepatnya personil Belanda yang direkrut oleh mereka, serta partisipan Belanda di East India Company Perancis, akrab dengan kondisi di kepulauan Indonesia, seperti yang ditunjukkan oleh pilihan mereka terhadap Banten sebagai pelabuhan impian,” tulis Thomas G. Watkin dalam Legal Record and Historical Reality: Proceedings of the Eighth British Legal.

Guilhen ikut di dalam rombongan tersebut. Pada Maret 1671, tiga kapal niaga yang baru tiba dari Prancis itu pun berlayar menuju Banten.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Peta Banten, 1724, karya Francois Valentijn.
Foto
Peta Banten, 1724, karya Francois Valentijn.
Foto