Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Enam Perintis TNI AU yang Meninggal Tragis

Para perintis TNI AU ini meninggal tragis karena kecelakaan pesawat sampai ditembak jatuh pesawat Belanda.
 
Korban jatuhnya pesawat VT-CLA. Kiri-kanan: Adisucipto, Abdulrachman Saleh, dan Adisumarmo.
Foto
Historia
pengunjung
5.5k

Setiap tanggal 29 Juli diperingati Hari Bhakti TNI AU. Selain memperingati serangan udara pertama TNI AU ke Ambarawa dan Salatiga pada 29 Juli 1947, juga untuk mengenang meninggalnya tiga perwira perintis TNI AU.

Hari Bhakti TNI AU tahun ini diperingati dengan napak tilas hingga ziarah KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto di Monumen Ngoto, Bantul, Yogyakarta, serta upacara militer di Lapangan Dirgantara Akademi Angkatan Udara.

Dalam catatan sejarah, TNI AU dibangun oleh KSAU pertama Komodor Udara Suryadi Suryadharma. Dia merekrut sejumlah perwira alumnus ML KNIL (Militaire Luchtvaart Koninklijke Nederlandsch Indisch Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda Angkatan Udara). Sayangnya, beberapa dari mereka tutup usia.

Berikut ini enam printis TNI AU yang meninggal secara tragis.

Husein Sastranegara

Opsir Udara I Husein Sastranegara lahir di Cianjur, 20 Januari 1919. Dia mengikuti pendidikan ML KNIL dan lulus dengan ijazah Kleine Militair Brevet atau Brevet Penerbang Tingkat Pertama dalam pendidikan Aspirant Officier Kortverband Leerling Vlieger.

Husein salah satu penerbang terbaik pada awal perkembangan TNI AU di masa revolusi. Nahas, dia meninggal saat berlatih bersama Sersan Mayor Rukidi. Pesawat Ki-55 Cukiu yang diterbangkannya jatuh di Gowongan Lor, Yogyakarta pada 26 September 1946, karena mesin pesawat macet.

Buku Sedjarah Pertumbuhan AURI mencatat, sedianya setelah latihan, Husein dijadwalkan mengantar Perdana Menteri Sutan Sjahrir dari Pangkalan Udara Maguwo ke Malang, Jawa Timur. Sjahrir tetap terbang ke Malang dengan pilot pengganti, Kadet Wim Prayitno, menggunakan pesawat Yokosuka K5Y Cureng. Pada 1952, namanya diabadikan jadi Bandara Husein Sastranegara di Bandung menggantikan Pangkalan Udara Andir.

Abdulrachman Saleh

Komodor Muda Udara Abdulrachman Saleh satu dari tiga perintis TNI AU yang meninggal dalam kecelakaan pesawat Dakota VT-CLA di Desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta pada 29 Juli 1947. Pesawat milik Kalinga Airlines itu mengangkut obat-obatan sumbangan dari Palang Merah Malaya. Pesawatnya pun memakai tanda Palang Merah. Pesawat itu bertolak dari India dan transit di Singapura. Ketika hendak mendarat di Maguwo, dua pesawat pemburu P-40 Kitty Hawk Belanda menembak jatuh pesawat itu. Dari sembilan awak dan penumpang, hanya seorang yang selamat, yaitu Abdul Gani Handonotjokro dari GKBI Tegal yang duduk di ekor pesawat.

Pesawat P-40 Kitty Hawk juga melancarkan serangan balasan ke Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta, setelah dini hari sebelumnya tangsi-tangsi Belanda di Semarang, Ambarawa dan Salatiga dihantam serangan udara.

Abdulrachman Saleh lahir pada 1 Juli 1909. Setelah mengenyam pendidikan Sekolah Tinggi Kedokteran Bumiputra (Stovia), dia mengalihkan ketertarikannya pada radio dengan memimpin perkumpulan pemuda radio (VORO).

Pada 1946, setelah bergabung dengan Tentara Republik Indonesia Oedara (TRI Oedara, cikal-bakal TNI AU), Abdulrachman Saleh yang dijuluki Karbol diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Maospati, Madiun. Ketika tewas dalam tragedi Dakota VT-CLA, dia merangkap jabatan Danlanud Bugis Malang dan Deputi II KSAU.

Jenazah Abdulrachman Saleh dimakamkan di pemakaman Kuncen. Pada 14 Juli 2000, dipindahkan ke Kompleks Monumen Perjuangan TNI AU di Ngoto, Bantul. Pangkatnya dinaikkan secara anumerta jadi marsekal muda dan diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 1974. Pendiri Sekolah Teknik Udara dan Radio Udara di Malang itu juga diabadikan jadi nama bandara di Malang menggantikan Lanud Bugis.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Korban jatuhnya pesawat VT-CLA. Kiri-kanan: Adisucipto, Abdulrachman Saleh, dan Adisumarmo.
Foto
Korban jatuhnya pesawat VT-CLA. Kiri-kanan: Adisucipto, Abdulrachman Saleh, dan Adisumarmo.
Foto