Pilih Bahasa: Indonesia

Elisabeth Fisher, Kekasih Henk Sneevliet Genap Berusia 100 Tahun

Pada usianya yang kian senja, dia masih mampu menuturkan kisah masa lalunya bersama Henk Sneevliet, tokoh komunis pertama di Indonesia.
Elisabeth Fisher, kekasih Henk Sneevliet.
Foto
Historia
pengunjung
9.7k

FLAT itu terletak di Osdorp, sebelah utara Amsterdam tak jauh dari stasiun Slotterdijk. Sudah lebih dari 30 tahun Elisabeth Fisher–Spanjer menempati flat berlantai dua itu. Dia tinggal sendirian sepeninggal Frank Fisher, suami keduanya, dan dua anaknya yang terlebih dulu wafat meninggalkannya.

Di usia senjanya, mantan sekretaris Nationaal Arbeids-Sekretariaat (NAS, Sekretariat Buruh Nasional) periode 1933-1938 itu masih mampu menuturkan tentang apa saja yang terjadi pada hidupnya. Tak terkecuali: hubungan asmaranya dengan Henk Sneevliet yang terjalin secara diam-diam, sejak 1933 sampai 1938.

Perempuan kelahiran 21 Juni 1915 itu baru saja merayakan ulangtahunnya yang ke-100. Koran NRC Handelsblad secara khusus menulis profilnya dua pekan lalu. “Saat itu adalah sebuah abad yang gila,” kata dia kepada NRC Handelsblad mengenang kembali masa-masa kehidupannya yang penuh dengan petualangan.

Ketika saya temui pertama kali pada 2013 lampau, dan kemudian pada pertemuan kedua Mei tahun lalu, Elisabeth menuturkan kisah pertemuannya dengan Henk Sneevliet. Saat itu, dalam tahun 1933, Elisabeth bekerja sebagai sekretaris di Nationaal Arbeids-Sekretariaat (Sekretariat Buruh Nasional) di Amsterdam, di mana Henk menjabat sebagai ketuanya.

Jauh sebelum bertemu langsung dengan tokoh gerakan kiri Belanda itu, nama Henk sudah akrab di telinga Elisabeth. “Ibu saya pun sudah mengenal dia. Dia tokoh politik yang cukup terkenal. Mungkin saya sudah mengenal namanya sekira tahun 1930 atau 1931. Waktu itu saya sudah menjadi anggota Persatuan Pemuda Revolusioner (Revolutionaire Jeugdbond -Red.), Henk sering menjadi pembicara,” kenangnya.

Elisabeth, saat itu masih berusia 18 tahun, terpukau pada Henk yang berusia 50 tahun. Pria yang dekat dengan Semaun, tokoh Sarekat Islam Semarang, itu masih digdaya memikat gadis sepantaran Elisabeth dengan gaya orator ulungnya. “Dia seorang pembicara yang simpatik. Mampu membuat para pendengarnya terkesima saat dia bicara atau sedang pidato. Dia bisa memperdaya Anda,” kata Elisabeth dengan sorot mata meyakinkan.

Dalam pandangannya, Henk seorang politikus kawakan yang disegani dan terkenal periang. Elisabeth merasa cocok dengan Henk karena memiliki beberapa kesamaan sifat. Henk, katanya, “Seorang sybarite (penikmat kesenangan -Red.) yang sangat menyukai makanan, menyukai anggur dan tentu saja mencintai perempuan. Saya sering menikmati waktu bersamanya.”

Mereka berdua sering bepergian bersama menghadiri pertemuan-pertemuan penting, termasuk menemui Leon Trotsky, ideolog Marxis yang sering dilabel sebagai seorang revisionis. Atas perintah Joseph Stalin, Trotsky tewas dibunuh di Meksiko, 21 Agustus 1940.

Kisah Elisabeth penuh kontroversi. Selain menjalin hubungan dengan Henk Sneevliet, pada masa mudanya, Elisabeth juga memiliki hubungan dengan Willy Brandt. Willy dan Elisabeth bertemu pertama kali di Laren, Belanda, Februari 1934 dalam pertemuan pemuda sayap kiri radikal.

Kelak Willy jadi kanselir Jerman Barat periode 1969-1974. Pengujung 2012 lalu, koran Die Welt Jerman menulis profil Elisabeth, di mana dia mengungkapkan hubungannya dengan pemenang Nobel perdamaian pada 1971 itu. Namun menurut Rob Hartmans, penulis biografi Elisabeth, mereka hanya bersahabat. “Tak ada pernah ada hubungan yang lebih jauh.”

Elisabeth punya dua anak dari dua lelaki. Anak pertama, Victor Sebastiaan (dipanggil ‘Bas’), lahir di Buckow, Jerman, 11 Desember 1944, meninggal di Amsterdam pada 1999. Ayah biologis anak itu adalah Louis Thijssen, seorang wartawan yang bekerja untuk penerbitan Nazi-Jerman. Louis mengaku kalau pekerjaannya itu hanyalah kamuflase untuk menutupi aktivitas bawah tanahnya sebagai aktivis anti-fasis. Elisabeth percaya itu. Terlebih mereka berdua pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Scheveningen dan Vught, Belanda. Louis dan Elisabeth tak pernah menikah.

Pada 1946, Elisabeth menikah dengan Joop Zwart, seorang komunis, pengikut Trotsky dan wartawan. Joop pernah pula ditahan di kamp konsentrasi Nazi. Mereka bercerai pada 1962 dan punya seorang anak, Elisabeth Annie Gertrude (biasa dipanggil ‘Pop Zwart’). Pop meninggal pada 2008 yang lalu.

Pernikahan kedua berlangsung pada 1967 dengan seorang warga Amerika kelahiran Polandia, Frank S. Fisher. Frank dan Elisabeth mendirikan Yayasan Alexander Herzen, untuk menghormati nama penulis Rusia yang menjadi pelarian saat Stalin berkuasa di Uni Soviet itu. Frank meninggal pada 1970. Tak ada anak dari pernikahan kedua itu.

Elisabeth juga disebut-sebut terlibat dalam aksi spionase yang menyebabkan terbunuhnya Ignaz Reiss di Chamblandes dekat Lausanne, Swiss pada 4 September 1937. Ignaz adalah agen intelijen GPU (dinas rahasia Uni Soviet, kemudian berubah menjadi NKVD, cikal bakal KGB-Red.). Dia jadi buruan agen rahasia Soviet karena mengkritik Stalin dan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai spion.

Nyawa Ignaz dihabisi agen rahasia suruhan Stalin, beberapa jam sebelum dia menemui Henk Sneevliet. Namun demikian, baik Elisabeth dan juga Rob Hartmans menolak tuduhan tersebut. “Sampai sekarang tidak ada satu pun bukti kuat yang bisa menunjukkan keterlibatan Elisabeth dalam peristiwa itu,” kata Rob di sela-sela wawancara.

Menurut Elisabeth, Henk pembaca sastra yang baik. Pada zaman itu, membaca sastra tak lazim di kalangan pemimpin gerakan buruh. “Tapi Sneevliet sangat senang membaca buku sastra,” katanya.

Ketika ditanya apakah Henk pernah bercerita tentang kisah hidupnya semasa di Indonesia, Elisabeth menjawab kalau dia kenal beberapa tokoh pergerakan dari Indonesia.Ya, tentu saja. Dan saya juga kenal beberapa kamerad dari Indonesia, Darsono, Semaun. Ya, saya kenal mereka semua,” ujar perempuan yang masih lincah bergerak tanpa bantuan kendati berumur seabad itu.

Dalam soal hubungan dengan Indonesia, Elisabeth juga punya pengalaman jadi sekretarisnya Frans Goedhart, anggota parlemen Belanda dari Partai Buruh Sosial-Demokrat (SDAP) yang sangat pro-kemerdekaan Indonesia. Berbeda dari kebanyakan politikus Belanda yang menyokong agresi militer Belanda, Goedhart mengutuk keras invasi Belanda ke Indonesia. (Baca: Goedhart, Tuan Baik Hati Anti Agresi Militer Belanda ke Indonesia)

Yang menarik ketika Elisabeth merefleksikan kembali masa-masa mudanya ketika masih berhubungan dekat dengan Henk. “Kami adalah orang-orang yang kalah. Saya merasa kalah. Anda lihat, dunia berubah sekarang dan ini semua tak sesuai dengan apa yang kami cita-citakan, kami impikan. Waktu itu kami, hanya sedikit orang saja, yang ingin mengubah dunia. Dan sekarang, lihatlah, kami gagal mengubah dunia. Namun bagaimana pun saya merasa Henk berjasa memberikan saya pengalaman di dalam gerakan politik internasionalis itu,” pungkasnya.

 
Terpopuler di Historia 
Berita terkait
Nomor 13 Tahun 2 | Henk Sneevliet
Pada bukubuku sejarah di Indonesia nama
Pada bukubuku sejarah di Indonesia nama Henk Sneevliet selalu disebut dalam sederet kalimat saja Henk Sneevliet adalah orang pertama yang membawa ajaran komunisme ke Hindia Belanda Indonesia Selebihnya sudah bisa ditebak komunisme adalah momok yang menakutkan sehingga upaya untuk menguak perannya berhenti seketika Henk Sneevliet orang yang membawa ajaran itu ternyata memang punya peran penting dalam sejarah di Indonesia Dia memang berkulit putih orang Belanda totok kelahiran Rotterdam tapi ketika berada di Hindia Belanda sejak 1913 sampai 1918 dia justru menjadi advokat terdepan di dalam membela rakyat Mas Marco Kartodikromo jurnalis bumiputera terke muka saat itu menulis bahwa rakyat jajahan seharusnya malu kepada Sneevliet Berapa orang bangsa kita yang berani membela kepada bangsa kita seperti Sneevliet yang dibuang lantaran membela kita orang itu Apakah pemimpin pergerakan kita juga berani dibuang kata Marco dalam tulisannya di Sinar Hindia 10 Desember 1918 menggugat pembuangan Sneevliet keluar Hindia Belanda Sneevliet akhirnya memang dibuang pada 1918 Dia dianggap menghasut rakyat Hindia Belanda untuk melawan pemerintah kolonial Tapi pembuangan tak menghentikan langkahnya Dia tercatat sebagai orang yang menggagas kongres pertama Partai Komunis Tiongkok yang dihadiri Mao Zedong sekaligus berperan memperkuat pondasi awal partai itu Usai tugas dari Tiongkok dia tak pernah berhenti melawan Sampai akhirnya senjata serdadu Nazi menuntaskan riwayat hidupnya pada 13 April 1942
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Elisabeth Fisher, kekasih Henk Sneevliet.
Foto
Elisabeth Fisher, kekasih Henk Sneevliet.
Foto