Pilih Bahasa: Indonesia
Monopoli Amerika II

(Bukan) Lafayette Amerika Modern

Matthew Fox melanjutkan bisnisnya di Indonesia dengan memonopoli mesin tulis hingga impor mobil.
Historia
Historia
pengunjung
4.7k

SEORANG aristokrat Prancis, kurus dan tak tampan, menyeberangi lautan untuk ikut berjuang dalam perang kemerdekaan Amerika Serikat melawan Inggris. Amerika merdeka. Marquis de La Fayette, atau Lafayette, kembali ke Prancis. Di negerinya, setelah Revolusi Prancis pecah, dia justru tersisih. Dia sempat menghabiskan waktu lima tahun di penjara. Bahkan Napoleon Bonaparte tak mengizinkannya kembali ke negerinya. Pada akhirnya dia meninggal dunia pada 1834.

Amerika Serikat abad ke-20 mengenal seorang “Lafayette” modern. Dia memang tak kurus seperti Lafayette, tapi gemuk, pendek, dan botak. Tapi dia orang terpandang di Amerika, yang kemudian berhasrat membantu perjuangan kemerdekaan negara lain: Indonesia. Namanya Matthew Fox.

Matthew Fox lahir di Racine, Wisconsin, pada 1911. Semula dia bekerja sebagai manajer teater, pembeli film, dan asisten direktur Skouras Theatre Corporation sebelum menjadi wakil direktur perusahaan film Universal Pictures pada 1937, di usia 25 tahun. Karena berhasil menyelamatkan perusahaan itu dari kebangkrutan, Fox dikenal sebagai “anak ajaib” dari dunia bisnis Amerika.

Selama Perang Dunia II, Fox bertugas di War Planning Board dan kemudian di US Army. Pada Februari 1947, Fox kembali ke Universal Pictures sebagai wakil presiden eksekutif dan juga ketua dewan United World Film. Tapi dia lalu mengundurkan diri dari Universal Pictures, dengan gaji $150.000, agar bisa mencurahkan waktu dan energinya untuk Indonesia. Kala itu Fox juga agen yang ditunjuk Army Navy Munitions Board (ANMB) yang bertanggungjawab atas ketersediaan bahan baku bagi Amerika Serikat –bahan baku itu berasal dari Indonesia dengan pengapalan di Singapura.

“Fox imajinatif, agresif, dinamis, cukup cerdas, dan juga agak idealis dan romantis. Jadi, sekalipun dia niscaya berharap dapat meraih keuntungan dari usaha bisnis barunya, dia juga sungguh-sungguh tertarik untuk membantu Republik Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan,” tulis Gerlof D. Roman dalam “American Business Interests In The Indonesian Republic, 1946-1949”.

Pada 3 Januari 1948, Matthew Fox dan Sumitro Djojohadikusumo, perwakilan Indonesia di Amerika Serikat, menandatangani apa yang dikenal dengan istilah Fox-contract. Isinya antara lain pembentukan American-Indonesian Corporation (AIC), dengan kantor pusat di New York.

Sejak itu Fox menjadi penyokong paling antusias sekaligus kontroversial dalam komunitas bisnis Amerika. Dia pun mendapat julukan bombastis. The New York Times menyebutnya “godfather ekonomi” di kawasan itu. Kolomnis Drew Pearson menyebutnya bapak revolusi di Indonesia yang membawa Sukarno ke tampuk kekuasaan.

Kontrak Fox menjadi isu luar negeri yang menambah bumbu sengketa Indonesia-Belanda, dengan Amerika Serikat berpihak pada Belanda dan berusaha menggagalkan kontrak itu. Kontrak itu pun nyaris tak berjalan begitu ditandatangani.

Peran Fox untuk Republik tak sebatas dalam hubungan dagang. Sebelum Belanda menggelar agresi militer II dan menyerang ibukota Republik di Yogyakarta, Sukarno meminta Fox mendapatkan pesawat berukuran besar untuk mengangkut anggota kabinetnya keluar dari negeri itu. Fox dan Sumitro menjelaskan situasi itu kepada pejabat Departemen Luar Negeri, tapi “mereka menganggapnya sebagai plot film Fox,” tulis Theodore Friend dalam Indonesian Destinies.

Sementara untuk membantu membayar kembali uang muka dari Fox, Sumitro dan Sudarpo mencoba mengambil-alih emas batangan yang tersimpan di cadangan Bank Sentral milik Republik di Yogya –“di bawah perwalian,” ujar Sumitro. Kepala bank itu adalah ayahnya, Margono. Mereka mendapat restu dari Hatta.

Pada 18 Desember 1948, pesawat pesanan Sukarno tiba di Jakarta. Namun Sukarno tiba-tiba memutuskan tak memakainya dan memilih menunggu kedatangan pesawat pribadi dari Perdana Menteri India Nehru –belakangan tertahan di Singapura. Ketika Belanda melancarkan serangan keesokan harinya, pesawat Fox sudah terbang mengangkut kotak-kotak emas, bukan manusia, dan terbang menuju Amerika melalui Filipina, sementara para pemimpin Republik ditangkap Belanda.

Soal emas itu, Yolande Betbeze, istrinya, bercerita pernah duduk di atas emas batangan yang akan dikirimkan ke Sukarno dan hanya dijaga oleh satu penembak bersenjata mesin. Dan di antara dokumen-dokumen yang dimiliki pengacaranya, ada janji yang ditandatangani Sukarno yang memberikan Fox hak atas mineral, minyak, ekspor-impor, dan hampir semua hal di Indonesia, “kecuali konsesi hot dog,” tulis The Blade, 14 Juni 1967. Matty Fox tak hidup cukup lama untuk melakukan semua yang dia rencanakan.

Pada Maret 1950, tak lama setelah Republik memperoleh kedaulatan, pemerintah Indonesia membatalkan Kontrak Fox. Namun, sekalipun kontrak itu berakhir, kiprah Fox di Indonesia masih berlanjut.

Menurut Theodore Friend, untuk membalas kebaikan hati Fox, orang-orang Indonesia mengizinkannya untuk perniagaan tekstil dan memberinya pabrik perakitan mobil pertama di Indonesia, juga lisensi untuk agen Chrysler. Pengembalian yang kecil. “Seorang teman yang baik… seorang operator. Selalu dengan masalah likuiditas," Sumitro tersenyum, “terlalu banyak proyek. Tapi dia benar-benar manusiawi.”

Bisnis Fox di Indonesia adalah Zorro Corporation, beralamat di Jalan Majapahit No 30 Jakarta, yang mendapat hak monopoli untuk impor dan perakitan Dodge, Chrysler, dan jip Willys Overland. Perusahaan ini mendirikan pabrik perakitan mobil di Tanjung Priok, bernama Indonesian Service Corporation (ISC), yang jadi simbol kebanggaan nasional dan model bagi kebijakan ekonomi luar negeri Indonesia untuk menarik investasi asing. Salah seorang direkturnya adalah Tan Goan Po, politisi Partai Sosialis Indonesia (PSI). Pemegang sahamnya adalah Matthew Fox, perusahaan ekspor-impor C.V. Putera (anak perusahaan Bank Negara Indonesia atau BNI), dan Zorro Corporation.

Zorro juga memegang hak monopoli Remington (mesin tulis dan permesinan kantor) dan perusahaan elektronik Radio Corporation of America (RCA).

Sudarpo Sastrosatomo, yang kenal Fox sejak berdinas di New York, menjadi salah satu koleganya. Setelah mundur dari birokrasi dan terjun ke dunia bisnis, dia menjadi direktur Zorro Corporation. Ketika Sumitro, menteri perdagangan dan perindustrian, menekankan agar ISC tak berada di bawah kendali asing, Soedarpo menjadi direktur Zorro Corporation sementara Hasjim Ning menjadi presiden direktur –keduanya politisi terkemuka PSI.

Karena Remington dan RCA tak bisa memperoleh lisensi untuk distribusi domestik –lisensi harus berada di tangan orang Indonesia–, Soedarpo mengundurkan diri dari Zorro pada Oktober 1952. Dia lalu membangun Soedarpo Corporation. “Saya mendapat lisensi impor yang diperlukan dan kemudian mengambil-alih hak distribusi Remington dan RCA, berbagi keuntungan dengan Matthew Fox yang masih memegang hak monopoli,” ujar ujar Soedarpo seperti terangkum dalam Pelaku Berkisah karya Thee Kian Wie.

Melihat kontak awal Sumitro dengan Fox, tak heran jika pengaruh PSI begitu kuat. Dan di awal 1950-an, bukan hal aneh jika partai membentuk struktur bisnis yang meliputi bank, perusahaan induk, dan perusahaan dagang, yang menjadi kendaraan untuk menyalurkan lisensi impor, pinjaman valuta asing, dan konsesi lainnya. Bank Niaga (salah satu pemegang sahamnya adalah Tan Goan Po) dan Zorro Corporation diasosiasikan dengan PSI. “Selama periode dominasi PSI di dalam BNI, ISC mampu, bersama sejumlah perusahaan swasta PSI, mengamankan kontrak-kontrak impor pemerintah yang penting,” tulis Richard Robinson dalam Indonesia: The Rise of Capital.

Di Amerika, nama Fox tak lantas menghilang. Dia melihat kemungkinan pada medium komersial yang bergerak cepat dan maju –televisi. Dia membeli Skiatron, sebuah perusahaan yang masih baru dan dan kelak menjadi Subscription Television Inc. (STV), di mana dia menjadi direkturnya. Mulailah dia merintis dan mengembangkan TV berlangganan.

“Fox tak hanya benar soal TV berlangganan tapi meramalkan dengan tepat saluran komersial yang menjual barang-barang secara langsung… Home Box Office meraih sukses satu dekade kemudian,” tulis Theodore Friend.

Pada 4 Juli 1954, dia menikahi Yolanda Betbeze, Miss America 1951, yang dua kali lipat lebih muda darinya dan pernah bikin kontroversi dengan menolak berpose dengan pakaian renang. Pada 1964, setahun setelah putrinya lahir, Matthew Fox terjatuh dan meninggal dunia karena serangan jantung pada usia 53 tahun di New York. Yolanda, setelah kematian suaminya, menghabiskan hari-harinya di Washington, D.C., di rumah yang pernah menjadi milik Jackie Kennedy.

Lantas, bagaimana memposisikan Mathhew Fox dalam sejarah Indonesia? Bagi Gerlof D. Roman, Fox adalah seorang pengusaha Amerika yang pintar tapi agak idealis dan naif, yang berpikir dia bisa meraih banyak keuntungan dan pada saat yang sama membuat kontribusi bagi kemerdekaan Indonesia. “Tak satu pun dari harapannya terpenuhi. Fox tidak mendapatkannya secara materi, dan kontribusi untuk kemerdekaan Indonesia juga minim,” tulis Gerlof D. Roman.

“Dia bukan ‘Lafayette Amerika’ modern maupun ‘godfather ekonomi’ Republik Indonesia, sebagaimana dia kerap digambarkan.”

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Historia
Historia