Pilih Bahasa: Indonesia

Bing Slamet, Lucu Sejak Dalam Pikiran

Kisah Bing Slamet, seniman serbabisa berjuluk Presiden Pelawak. Mahaguru para pelawak Indonesia.
Voice of America (VOA). Bing Slamet (kanan) tampil bersama Sam Saimun (tengah).
Foto
Historia
pengunjung
3.9k

BAGI mereka yang melewati masa kecil dan remaja di era tahun 1960-an dan 1970-an tentu akrab dengan nama Bing Slamet, seniman serbabisa, komedian yang masyhur berjuluk “Presiden Pelawak” Indonesia. Namun, ayah kandung Adi Bing Slamet yang pada masa jayanya sangat digandrungi Presiden Sukarno itu, kini tak banyak lagi dikenal orang.

Slamet kecil tak pandai berhitung. Di sekolah, bila ada pelajaran berhitung, dia menyontek kawan-kawannya. Sialnya, ulahnya ketahuan sang guru. Dia pun kena hukuman. Di depan kelas, Bing harus berdiri sembari menggerakkan alis, mengedipkan sebelah mata, atau mengeryitkan kening. Tak urung teman-temannya tak kuasa menahan tawa.

Kelihaiannya pasang mimik dan tingkah jenaka kelak menjadi modal melawak. Namun modal itu tentu tak cukup untuk menjadikannya pelawak andal. Dia menggunakan keahlian lainnya: menyanyi. Dia juga memperkayanya dengan bahan-bahan lawakan baru.

“Saya selalu memperhatikan kehidupan masyarakat sehari-hari. Saya perhatikan humor mereka. Terutama lelucon dari daerah-daerah,” ujar Bing Slamet seperti ditulis Sumohadi Marsis dalam Album Kenangan Bing Slamet.

Kendati ayahnya menginginkannya jadi dokter atau insinyur, Bing jalan terus. Dia melakoninya dengan serius, tak sekadar mengikuti suratan nasib. Dan inilah yang membuatnya jadi pelawak besar.

“Dia multi-talented. Seniman besar. Ia nyanyi juga. Ketika seseorang komedian bisa menyanyi, mengarang lagu, pasti ada kelebihan,” ujar Indrodjojo Kusumonegoro yang lebih dikenal dengan Indro Warkop. “Buat saya dia maestro, jenius.”

Karier Bing mulai mencuat ketika ikut lomba lawak yang diadakan di Gedung Kesenian Jakarta oleh majalah Ria pada 29 Juli 1953. Dia menang dan menyandang gelar “Bintang Pelawak”. Namun jalan kariernya terbuka ketika bekerja di Radio Republik Indonesia (RRI). Di sana dia bergaul dengan Mang Udel (Poernomo) dan Mang Cepot (Hardjodipuro).

Sejak 1946 Mang Udel dan Mang Cepot mengisi acara obrolan “Sepintas Lalu”, memadukan humor dan penerangan. Mereka punya grup Cepot-Udel, yang sempat bikin film komedi berjudul Heboh. Begitu melihat Bing, kedua pelawak itu mengajaknya bergabung dan jadilah trio Los Gilos pada 1953.

Acara “Panggung Merdeka” menjadi awal kemunculan Los Gilos di pentas. Penampilannya mendapat sambutan publik. Los Gilos mengangkat komunikasi via telepon di ibukota yang lelet. Sehari suntuk tiga serangkai ini tak bisa bicara dengan temannya. Karena kesal, mereka minta sambungan internasional. Dalam sekejap, masing-masing sudah bicara dalam bahasa Spanyol, Inggris, Jerman, dan lain-lain. Begitu selesai, sambungan telepon dengan temannya di kota belum juga kesampaian.

“Sejak itu setiap pendengar radio di seluruh Indonesia mengenal nama dari tiga sejoli itu,” tulis majalah Merdeka, 1 Juni 1957.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Voice of America (VOA). Bing Slamet (kanan) tampil bersama Sam Saimun (tengah).
Foto
Voice of America (VOA). Bing Slamet (kanan) tampil bersama Sam Saimun (tengah).
Foto