top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

The Singing Commodore

Pendiri dan pemilik Irama Records, label rekaman pertama di Indonesia.

Oleh :
Historia
24 Apr 2014

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Soejoso Karsono.

Diperbarui: 18 Jul 2025

PENSIUN dari Angkatan Udara, Soejoso Karsono atau biasa dipanggil Oom Yos menyulap garasi rumahnya di Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat, menjadi studio musik. Mula-mula dia bermusik bersama keluarga dan kawan-kawannya. Seiring waktu, dia melengkapi studionya dan pada 1954 mendirikan perusahaan rekaman Irama Records. Irama menjadi label rekaman pertama di Indonesia.


Di awal kiprahnya, Irama Records memproduksi album piringan hitam Sarinande (1956) buah karya The Progressief, band jazz yang digawangi Nick Mamahit (piano), Dick Abel (gitar), Dick van der Capellen (drum), dan Max van Dalm (bass). Album instrumentalia ini cukup mendapat tempat di hati pendengar. Dalam perjalanannya, Irama merekam hampir semua jenis musik. “Mulai dari jazz, rock ‘n roll, pop, keroncong, melayu, hingga gambang kromong,” tulis Theodore KS dalam Rock ‘n Roll Industri Musik Indonesia.


Suatu waktu Mas Yos mengunjungi perusahaan rekaman di Jepang, Amerika Serikat, Jerman Barat, dan Belanda. Selain mendapat pengetahuan soal rekaman musik, dia juga dipercaya mencetak dan mengedarkan piringan hitam di Indonesia. Dari pengalaman itu pula, tulis Theodore, Mas Yos terinspirasi memproduksi piringan hitam stereo pertama di Indonesia pada 1961. Dirilislah Semalam di Malaya, dengan iringan Orkes Studio Djakarta pimpinan Sjaiful Bahri.


Irama kemudian menelorkan album-album musik dari musisi papan atas Indonesia. “Bing Slamet dan Sam Saimun adalah andalan Mas Yos di samping penyanyi lainnya seperti Ratna, Heriati, serta ibu penyanyi Diah Iskandar, Coryati,” tulis Theodore.


Soejoso Karsono dijuluki The Singing Commodore. Dia lahir di Tanjung Pandan, Bangka Belitung, 18 Juli 1921. Adik perempuannya, Nien Karsono, dipersunting Jack Lesmana. Usai menyelesaikan studinya di sekolah dagang, Mas Yos menjadi codanco (komandan kompi) pada masa pendudukan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, dia masuk AURI.


“Semasa menjadi penerbang,” tulis Theodore, “Mas Yos memuaskan hobi menyanyinya bersama grup musik Hawaiian Lieve Souveniers yang didirikan di Semarang.”


Setelah purnabakti dengan pangkat terakhir komodor pada 1952, Mas Yos mencurahkan hidupnya untuk mengembangkan Irama. Sayang, Irama gulung tikar pada 1967. Mas Yos lalu menjadi operator sekaligus penyiar radio amatir milik anaknya. Dia menamai radionya dengan nama putrinya: Elshinta. Radio ini kerap memutar lagu-lagu Hawaiian.


Mas Yos berduet dengan Hoegeng Imam Santoso, mantan Kapolri yang legendaris, memainkan musik Hawaiian di Elshinta. Bersama musisi lainnya, mereka lalu mendirikan grup musik The Elshinta Hawaiian Seniors. Setelah kurang lebih delapan tahun mengudara, Mas Yos mengundurkan diri sebagai pimpinan The Elshinta Hawaiian Seniors, digantikan Hoegeng. Kata “Elshinta” dihapus dan sejak 9 Maret 1976, grup musik itu bernama The Hawaiian Seniors. 


Setelah Elshinta berpindah tangan, Mas Yos mendirikan radio Suara Irama Indah, radio FM pertama di Indonesia –kemudian berubah jadi B-FM. Dua tahun kemudian, dia menghidupkan kembali Irama pada masa rekaman kaset.


Keranjingannya pada musik membuat Mas Yos merogoh kocek sendiri untuk membiayai grup jazz The Indonesian All Stars untuk berangkat ke Berlin Jazz Festival 1967 di Jerman Barat.

Mas Yos meninggal dunia di Jakarta, 26 Oktober 1984 pada usia 63 tahun.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Sumitro Djojohadikusumo Ingin BNI Jadi Bank Sentral

Sumitro Djojohadikusumo Ingin BNI Jadi Bank Sentral

Sumitro Djojohadikusumo sebagai ketua komisi ekonomi dalam KMB ingin BNI menjadi bank sentral. Namun, De Javasche Bank yang ditetapkan sebagai bank sentral untuk melancarkan pembayaran utang Indonesia kepada Belanda.
Juragan Tembakau dari Parakan

Juragan Tembakau dari Parakan

Rumah keluarga Siek di Parakan menyimpan kejayaan masa lalu dalam perdagangan gambir hingga tembakau di Jawa.
Tatkala Wolter Mongisidi Diburu KNIL

Tatkala Wolter Mongisidi Diburu KNIL

Ketika anggota Harimau Indonesia berhasil melarikan diri dengan bantuan warga, tentara KNIL mulai mengancam masyarakat sekitar untuk mencari Wolter dan teman-temannya.
Sekilas Perjalanan Sukarno ke Venezuela

Sekilas Perjalanan Sukarno ke Venezuela

Kunjungan singkat Sukarno yang berkesan. Terinspirasi bikin jembatan yang tak kalah megah dari Venezuela.
Bung Karno Berhadapan dengan Bos Preman Medan

Bung Karno Berhadapan dengan Bos Preman Medan

Huru-hura penumpasan PKI menjalar ke Sumatra Utara. Presiden Sukarno sampai memarahi pimpinan pemuda yang menggerakan massa ke Konsulat Republik Rakyat Cina di Medan.
bottom of page