top of page

Kisah Tragis Akhir Hidup Bapak Film Nasional

Kerjasama produksi film dengan perusahaan film Italia membuat Usmar Ismail kecewa berat. Sampai dia jatuh sakit dan meninggal dunia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Adegan film Incontro damore a Bali, hasil edit ulang dari Bali, film hasil kerjasama Usmar Ismail dengan perusahaan film Italia pada 1970. (ivid.it).

30 Mar 2015
3 menit membaca

Diperbarui: 30 Mar

USMAR Ismail ditahbiskan sebagai Bapak Film Nasional. Dia mendirikan Perfini (Pusat Film Nasional Indonesia) dan pada 30 Maret 1950 memulai shooting pertama filmnya, Darah dan Doa di Purwakarta. Tanggal 30 Maret kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional.


Selama hidupnya, antara tahun 1950-1970, Usmar Ismail membuat 33 film layar lebar: drama (13 film), komedi atau satire (9 film), aksi (7 film), musical/entertainment (4). Namun, ada satu film yang membuatnya tertekan dan berakhir dengan kematiannya.


Menurut Rosihan Anwar, wartawan senior dan ipar Usmar Ismail, tidak semua publik tahu tentang cerita tragis yang dialami Usmar Ismail dan yang membawanya kepada kematian relatif muda.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page