Duta Tentara di Mancanegara

Sebagai orang kepercayaan Jenderal Nasution, dia terlibat dalam berbagai misi rahasia TNI di era Orde Lama.

1513068098000
  • BAGIKAN
Duta Tentara di Mancanegara
Jenderal Nasution, Presiden Sukarno dan Jenderal Soeharto Inset: Ujeng Suwargana. Foto: Nasution/Public Domain, Ujeng Suwargana/ Repro buku Tokoh-tokoh etnis Tionghoa di Indonesia karya Sam Setyautama.

Ketika mengantar kepergian Ujeng Suwargana pada 7 Mei 1979, di depan khalayak Abdul Haris Nasution menyampaikan kesan dan kenangan terakhir bagi sahabat lamanya itu.

“Dengan biaya sendiri Uyeng (Ujeng) membuat buku-buku kecil dalam bahasa Inggris yang menjelaskan perjuangan Irian Barat,” ujar Nasution sebagaimana dituturkannya dalam memoar Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan masa Orde Lama. Hingga akhir hayatnya, menurut Nasution, pemerintah belum pernah memberikan tanda penghargaan atas jasa-jasa Ujeng.

Ujeng Suwargana alias Oey Eng Soe lahir di Bandung pada 12 November 1917. Perkenalan Ujeng dan Nasution bermula saat keduanya menempuh pendidikan militer untuk korps perwira cadangan Belanda di Bandung (CORO) tahun 1940. Di masa perang kemerdekaan, keduanya pun menjadi sejawat seperjuangan. Ketika Nasution menjabat Panglima Divisi Siliwangi tahun 1946, Ujeng adalah komandan logistiknya.

Karier militer Ujeng tak panjang. Dia mengundurkan diri dari ketentaraan pada 1950 dengan pangkat terakhir mayor. Jauh dari hingar bingar ketentaraan, Ujeng menggeluti dunia penerbitan buku. Dia merintis peruntungan di perusahaan Belanda NV AC NIX yang menerbitkan buku pelajaran untuk sekolah-sekolah di Bandung. Sementara kompatriotnya, Nasution, tetap bertahan di militer. Pada 1955 Nasution telah menjabat Kepala Staf Angkatan Darat.

Pada penghujung 1950, TNI AD yang dipimpin Nasution menasionalisasi semua aset Belanda. Kepemilikan perusahaan swasta Belanda dialihkan kepada pengusaha pribumi. Ujeng Suwargana ikut kecipratan lahan basah nasionalisasi.

Dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa yang disunting Sam Setyautama, Ujeng memperoleh saham perusahaan penerbitan Belanda di Bandung dan mengubahnya menjadi PT Penerbit dan Percetakan Ganaco. Kemudian dia mendirikan PT Masa Baru dan PT Sangga Buana yang menerbitkan buku-buku umum. Memasuki tahun 1960, Ujeng Suwargana telah dikenal sebagai juragan penerbitan.

Pelobi Ulung

Perkoncoan Ujeng dan Nasution yang sempat terputus berlanjut kembali. Ketika sengketa Irian Barat tak kunjung mereda, Nasution menugaskan Ujeng untuk menjajaki kemungkinan perundingan dengan pihak Belanda. Menurut Pieter Drooglever, sejarawan Universitas Nijmegen, Presiden Sukarno, Menteri Luar Negeri Soebandrio, dan Jenderal Nasution merancang cara guna memasuki otoritas-otoritas penting di Belanda melalui jalur informal.

“Akibatnya adalah bahwa seorang utusan khusus, Ujeng Suwargana, yang berteman dengan Nasution, dikirim ke luar negeri untuk melacak kemungkinan-kemungkinan perundingan semacam itu,” tulis Drooglever. Karena itulah, lanjut Drooglever, Ujeng mengunjungi Amerika Serikat dan berbagai negara Eropa. Para perantaranya yang paling penting adalah atase-atase militer di London, Paris, dan Bonn.

Menurut Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama, dengan koneksi yang dimilikinya, Ujeng mempersiapkan kontak-kontak dengan tokoh politik, tokoh gereja, dan pengusaha Belanda yang punya kepentingan di Indonesia. Koneksi itu kemudian diteruskan kepada para atase militer Indonesia untuk agenda diplomasi TNI.

Jejaring Ujeng ternyata tak sembarangan. Penengah Belanda yang paling efektif dalam lobinya adalah ahli hukum tata negara Universitas Katolik Nijmegen, Profesor Willem Duynstee. Sebagai kader Partai Katolik terkemuka di Belanda, Duynstee berhubungan baik dengan berbagai penguasa Belanda. Salah seorang diantaranya adalah Perdana Menteri de Quay yang juga berasal dari Partai Katolik.

Duynstee kerap mengkritisi kebijakan pemerintahnya soal Irian Barat dan mengharapkan dipulihkannya hubungan dengan Indonesia. Pada 3 Agustus 1961, sebagaimana dicatat Ganis Harsono dalam Cakrawala Politik Era Sukarno, sebanyak 21 orang profesor Belanda dari Universitas Nijmegen - yang dipelopori Duynstree - melayangkan petisi pada pemerintah Belanda untuk menolak perang antara Belanda dan Indonesia.

Ujeng Suwargana juga melakukan kontak dengan pemimpin kelompok pengusaha swasta Belanda yang tergabung dalam Bilderberg Groep, yaitu Paul Rijkens dari perusahaan Unilever Brothers. Kelompok ini berpendapat bahwa Indonesia lebih penting daripada Irian Barat bagi ekonomi Belanda. Mereka kemudian banyak melakukan tekanan terhadap politisi yang bersikukuh mempertahankan kekuasaan Belanda atas Irian Barat.

Nasution menuturkan, ketika dirinya berkunjung ke Paris, Ujeng berhasil membawa orang-orang dari salah satu televisi Belanda meliput dirinya. Kesempatan itu dimanfaatkan Nasution. “Maka mendadak rakyat Belanda melihat saya berpidato di TV mereka, menjelaskan tuntuan RI terhadap Irian Barat,” kata Nasution.

Di Amerika Serikat untuk misi yang sama, Ujeng mendekati penasihat politik Presiden Kennedy, Profesor Walt Rostow. Kelak, di masa pemerintahan Kennedy, sengketa Irian mencapai penyelesaian melalui Perjanjian New York pada 1962.

Dari mana Ujeng mempunyai jaringan yang begitu luas? Di kalangan beberapa jurnalis Belanda, Ujeng cukup dikenal baik. Henk Hofland, misalnya. Jurnalis Handelsblad (kini Nieuwe Rotterdamsche Courant/NRC) dalam Tegels Lichtenmenggambarkan Ujeng Suwargana sebagai sosok yang ramah, banyak tersenyum, seorang pendengar yang baik serta menguasai bahasa Belanda yang sangat baik. Tak heran mengapa Ujeng piawai dalam mengadakan lobi dan mendekati orang penting.

Namun Willem Oltmans, wartawan investigasi Belanda mencurigai Ujeng sebagai agen intelijen. Dalam bukunya Dibalik Keterlibatan CIA: Bung Karno Dikhianati, Oltmans menyebut jika Ujeng memiliki koneksi dengan dinas intelijen Amerika (CIA).

“Pak Ujeng yang ramah itu adalah pengkhianat nomor satu, yang menjadi kurir Jenderal Nasution pada CIA di Washington,” ujar Oltmans.

ujeng suwargana
  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK