Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 3

Anton Lucas dan Cerita Kutilnya

Dia memilih menekuni sejarah Indonesia ketimbang meneruskan studi pertaniannya. Berjasa menyatukan serpihan fragmen revolusi sosial di wilayah pantai utara Jawa Tengah.
 
Seniman Dadang Christanto dan sejarawan Anton Lucas. Dadang pernah jadi "korban" kisah Kutil pada masa kanak-kanaknya.
Foto
Historia
pengunjung
2.8k

Salah satu temuan menarik dari riset Anton itu adalah kisah seorang tokoh lokal bernama Kutil. Kutil alias Sakhyani terkenal sebagai jagoan rakyat dari Kecamatan Talang, Tegal. Daerah Talang menurut Anton, “menjadi contoh terkenal selama revolusi sosial di Tiga Daerah” karena siapa saja yang melewati Talang semasa revolusi sosial berisiko ditangkap bahkan dibunuh.

“...Kecamatan Talang terkenal terutama karena Kutil, jagoan rakyat Talang, yang kehidupan dan kematiannya telah dimitoskan oleh sejarah,” tulis Anton dalam bukunya. Ada pula anggapan umum yang berkembang di luar wilayah Talang bahwa “Kutil adalah algojo yang telah membunuh banyak orang, kejam, buas, anarkis, alat PKI, tapi ada juga yang beranggapan bahwa dia adalah agen NICA (pemerintahan Belanda di pengasingan Australia semasa Jepang berkuasa di Indonesia – Red.),” lanjut Anton mengungkap kisah Kutil.

Sakhyani alias Kutil (dilingkari merah) di Penjara Wirogunan, Yogyakarta. Sumber foto: repro buku Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi

Dalam sidang pengadilan di Pekalongan, Kutil mengaku telah melakukan banyak pembunuhan , dan menurut pendukungnya hal itu dilakukan demi melindungi teman-temannya di Talang. “Ia adalah orang pertama dalam sejarah Republik Indonesia yang dijatuhi hukuman mati melalui proses pengadilan formal di Pekalongan. Peristiwa Tiga Daerah sering disebut sebagai ‘gerakan Kutil’,” tulis Anton.

Di tengah tuduhan bahwa Kutil seorang komunis yang kerap digambarkan anti-Tuhan dan agama, Anton mengungkapkan kenyataan lain bahwa Kutil sebenarnya datang dari kalangan santri yang berprofesi sebagai guru agama. Mengutip keterangan dari anak Kutil, ayahnya seringkali bepergian jauh untuk memimpin pengajian dan baru pulang lewat tengah malam.

Ketika masa revolusi tiba, Kutil mendirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) di Talang. “Tujuan AMRI bentukan Kutil di masa revolusi sosial adalah pembagian kekayaan (kepada rakyat-Red). Tujuan lain adalah menumpas setiap orang yang dicurigai menjadi agen NICA, yang dianggap sebagai pengkhianat Republik,” kata Anton.

Salah satu yang dilakukannya adalah mendistribusikan kain di Talang dan wilayah sekitarnya. Saat itu kain menjadi kebutuhan mendesak karena selama pendudukan Jepang menjadi langka sehingga membuat sebagian besar rakyat menjadikan karung goni untuk pakaian. Kutil mementingkan pembagian itu atas dasar asas “sama rata sama rasa” tanpa pengecualian.

Sebegitu legendarisnya Kutil sehingga kisahnya tetap bertahan sebagai mitos di kalangan masyarakat Tegal. Dadang Christanto seniman kelahiran Tegal yang kini bermukim di Australia bahkan masih ingat bagaimana nama Kutil digunakan untuk menakuti-nakuti anak-anak kecil. “Kalau ada anak nakal, orangtua zaman dulu suka bilang ‘awas nanti diculik sama Kutil’,” ujar Dadang kepada Historia pekan lalu.

Anton merekam kisah tersebut dengan baik dalam bukunya. Tak hanya itu, riset yang dilakukannya selama lebih dari enam tahun itu berhasil membangun gambaran utuh peristiwa Tiga Daerah yang sebelumnya terpecah dalam beberapa kepingan cerita. Bahkan karya Anton diakui sebagai karya sejarah pertama yang menggunakan metode sejarah lisan (oral history) sebagai ikhtiar melengkapi kekurangan dokumen tertulis atas peristiwa tersebut.

Kini Anton menikmati masa pensiunnya di kota Adelaide, Australia Selatan bersama istri tercintanya Sri Kadarsih. Anton bertemu Kadarsih ketika perempuan Yogyakarta itu bekerja sebagai asisten antropolog Masri Singarimbun. “Dulu waktu saya masih penelitian sering lewat mejanya di kantor Pak Masri,” kenang pria kelahiran Melbourne tahun 1946 itu mengingat kembali masa-masa awal cintanya bersemi. Mereka dikaruniai dua anak Trina dan Darma Lucas.

Kecintaannya kepada Indonesia tak pernah padam. Sebagai wujudnya, seluruh koleksi dokumentasi yang dia kumpulkan sepanjang kariernya disumbangkan ke Flinders University sehingga bisa digunakan oleh para peneliti yang hendak meneliti Indonesia. Dia dan istrinya juga rajin mempromosikan sejarah dan kebudayaan Indonesia dalam berbagai acara di Australia.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Komentar anda
Seniman Dadang Christanto dan sejarawan Anton Lucas. Dadang pernah jadi "korban" kisah Kutil pada masa kanak-kanaknya.
Foto
Seniman Dadang Christanto dan sejarawan Anton Lucas. Dadang pernah jadi "korban" kisah Kutil pada masa kanak-kanaknya.
Foto