Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 2

Anton Lucas dan Cerita Kutilnya

Dia memilih menekuni sejarah Indonesia ketimbang meneruskan studi pertaniannya. Berjasa menyatukan serpihan fragmen revolusi sosial di wilayah pantai utara Jawa Tengah.
 
Seniman Dadang Christanto dan sejarawan Anton Lucas. Dadang pernah jadi "korban" kisah Kutil pada masa kanak-kanaknya.
Foto
Historia
pengunjung
2.1k

Selama di Yogyakarta, dia menekuni bahasa Indonesia dan mengikuti kelas perkuliahan di Universitas Gadjah Mada. “Setiap sore saya naik sepeda ke rumah Ibu Sulastin Sutrisno untuk belajar bahasa Indonesia. Saya juga jadi mahasiswa pendengar kuliah kapita selekta sejarah Indonesia di kelas Pak Sartono,” kenangnya.

Sulastin Sutrisno pengajar di Fakultas Sastra UGM (kini Fakultas Ilmu Budaya) jurusan bahasa Belanda, penerjemah surat-surat RA Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang. Sedangkan Sartono yang dimaksud Anton adalah Sartono Kartodirdjo, mahaguru sejarah UGM yang menulis disertasi Pemberontakan Petani Banten 1888.

“Bu Sulastin sering mengingatkan saya. Mas Anton jangan bilang ‘pelan-pelan’, itu bahasa untuk tanda jalan,” kata Anton meniru ucapan Sulastin menegurnya pada masa-masa awal belajar bahasa Indonesia.

Seiring makin mahirnya kemampun Anton berbahasa Indonesia, hasrat menekuni sejarah Indonesia pun makin meningkat. Namun Anton harus menemukan satu tema penelitian yang kelak bisa dijadikan bahan menulis disertasinya. “Dari Pak Sartono saya mendengar kisah tentang Sarimin Reksodiharjo, bupati Brebes zaman Jepang yang pernah ditangkap oleh pemuda,” ujar Anton.

Kisah itu Anton peroleh langsung dari Sartono yang secara tak sengaja bertemu Sarimin dalam perjalanan kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta. “Waktu itu Pak Sarimin ditangkap pemuda, “didaulat” istilahnya, digembleng dikasih pengertian tentang revolusi dan proklamasi kemerdekaan.”

Sartono menilai kisah Sarimin menarik untuk diperluas menjadi sebuah tema penelitian tentang masa revolusi. Menurut dia apa yang dialami Sarimin juga terjadi pada pangreh praja lainnya. Bak kepingan fragmen yang harus dirangkai menjadi sebuah gambaran peristiwa sejarah yang utuh, peristiwa tersebut menggejala di wilayah karesidenan Pekalongan.

Peristiwa Tiga Daerah bermula dari pergolakan sosial yang terjadi pascaproklamasi kemerdekaan Indonesia, di mana seluruh elite birokrat di wilayah tersebut diganti oleh kalangan revolusioner yang datang dari golongan Islam, sosialis dan komunis. Struktur pemerintahan yang semula dikuasai oleh golongan birokrat dari kalangan feodal, dipreteli satu per satu sehingga sepenuhnya menjadi pemerintahan baru yang senafas dengan semangat revolusi kemerdekaan.

Peristiwa tersebut acapkali diiringi pula oleh kekerasan serta aksi-aksi kriminal lainnya. Namun demikian menurut Anton, berbagai kasus yang mengiringi peristiwa Tiga Daerah itu harus dipandang sebagai akumulasi kekecewaan yang berbuntut panjang hingga ke masa kolonialisme Belanda dan kemerosotan ekonomi di masa Jepang.

“Saya juga membaca disertasi Ben Anderson yang baru terbit waktu itu. Di situ disebutkan tentang apa yang terjadi di Pekalongan. Ben cerita secara garis besarnya. Dia bilang cerita lengkap kejadian itu belum pernah ditulis dan perlu ada penelitian lanjutan lagi,” kata Anton.

Untuk itu dia pergi ke Semarang, melacak saksi-saksi yang kemungkinan masih ada. Tempat pertama yang ditujunya dinas sejarah militer Kodam Diponegoro (Semdam), di mana dia menemukan dokumentasi mengenai peristiwa Tiga Daerah. Menurut Anton, di sanalah dia menemukan nama Wadyono, salah satu tokoh kunci dalam peristiwa tiga daerah.

Wadyono adalah komandan TKR Resimen XVII wilayah Pekalongan. Dialah yang menyusun rencana kontra atas kaum revolusioner yang menguasai wilayah Tiga Daerah. “Dari Semdam saya langsung ke rumah Wadyono, ketok-ketok pintu rumahnya. Saya memperkenalkan diri dan memulai bertanya tentang peristiwa Tiga Daerah,” kenang Anton.

Selain memperoleh keterangan dari Wadyono, Anton juga mendapat bantuan sejarawan Djoko Suryo yang berasal dari Pekalongan untuk mengenali wilayah penelitiannya. “Kebetulan Djoko Suryo berasal dari wilayah selatan Pekalongan dan dia juga mengetahui peristiwa Tiga Daerah.”

Pelacakan informasi dimulai dari mengumpulkan data-data dan saksi-saksi yang pernah terlibat di dalam peristiwa yang terjadi di wilayah Brebes, Pemalang dan Tegal itu. Sejak saat itu Anton mulai rajin bolak-balik pergi mengunjungi ketiga daerah penelitiannya.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Komentar anda
Seniman Dadang Christanto dan sejarawan Anton Lucas. Dadang pernah jadi "korban" kisah Kutil pada masa kanak-kanaknya.
Foto
Seniman Dadang Christanto dan sejarawan Anton Lucas. Dadang pernah jadi "korban" kisah Kutil pada masa kanak-kanaknya.
Foto