Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Anton De Kom, Pejuang Suriname yang Terinspirasi Gerakan Kemerdekaan Indonesia

Orang Jawa di Suriname percaya lelaki ini dikirim Tuhan dari Jawa untuk membebaskan mereka dari penindasan.
Anton de Kom ber
foto
Foto
Historia
pengunjung
12.6k

KALENDER menunjukkan tanggal 13 Juli 1929. Beberapa pemuda Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia terlihat berdiskusi serius di kafe Hollandaise, Den Haag. Mereka mencari solusi bagaimana kolonialisme Belanda atas Indonesia dapat diakhiri. Berdasarkan laporan dinas intelijen Belanda, sekitar 50 orang hadir dalam pertemuan tersebut. Tiga di antaranya orang Eropa. Tampak juga seorang Suriname mengikuti jalannya diskusi.

Dalam pertemuan itu Haji Agus Salim didaulat bicara. Dia membahas sejarah kolonialisme Belanda dan kondisi para kuli Indonesia. Menjelang akhir diskusi, Agus Salim bertutur kepada para pemuda agar mereka tidak kembali ke Indonesia hanya sekadar mencari pekerjaan.

"Alangkah lebih baik jika kalian dapat mengasah kemampuan berpolitik di sini (Belanda) supaya ketika kelak kalian kembali ke Indonesia, kalian akan lebih peka dalam melihat permasalahan bangsa," ujar Agus Salim seperti dikutip dari Martijn Blekendaal dalam artikel berjudul Het gekleurde front van Hatta en De Kom.

Di akhir diskusi, seorang pemuda Suriname berkulit gelap melontarkan pertanyaan kepada Agus Salim terkait isu kemerdekaan dua koloni Belanda lainnya, Suriname dan Curacao. "Seperti layaknya perjuangan kemerdekaan Indonesia, perjuangan di Hindia Barat juga harus diwujudkan melalui kerjasama dan dukungan internasional," ujar Agus Salim.

Jawaban itu rupanya membekas di hati pemuda Suriname tadi. Dia adalah Anton de Kom, lengkapnya Cornelis Gerard Anton de Kom, lahir di Paramaribo, Suriname, 22 Februari 1898. Setelah pertemuan itu, Anton berharap agar Suriname dan Curacao dapat bekerjasama dengan Indonesia untuk melepaskan diri dari jerat kolonialisme Belanda.

Anton datang ke Belanda untuk kali pertama pada 1920. Berbeda dari kebanyakan pemuda Indonesia seperti Hatta yang datang ke Belanda untuk kuliah, Anton bekerja sebagai akuntan dan agen bisnis. Ketika tinggal di Belanda kesadaran politik Anton tumbuh semakin kuat. Latar belakang keluarganya sebagai budak yang dibesarkan dalam lingkungan miskin oleh keluarga Afro-Suriname di Frimangron, turut mengasah pemikiran kritis dan kepekaan sosialnya.

Cita-citanya untuk membebaskan Suriname membawanya kepada para pemuda Indonesia dari pelbagai latar belakang ideologi politik, mulai komunis sampai nasionalis. Dalam buku Links Richten tussen Partij en Arbeidersstrijd (Aliran Kiri di Antara Partai dan Perjuangan Kelas), sejak 1926 Anton terlibat aktif di organisasi sayap kiri di Belanda, seperti Links Richten (Arah Kiri), Liga tegen Imperialisme en voor Koloniale Onafhankelijkheid (Liga anti-Imperialisme dan Dukungan Kemerdekaan terhadap Koloni Belanda)), dan Communistische Partij Holland (Partai Komunis Belanda/CPH). Ketiga organisasi tersebut dikenal peduli pada nasib negara-negara koloni.

Selain pernah bertemu Agus Salim, Anton juga mendengar tentang bagaimana Hatta memimpin delegasi PI yang turut berpartisipasi dalam Liga Anti Imperialisme dan Kolonialisme. Kongres yang diselenggarakan pada 10-15 Februari 1927 di Brussels, Belgia itu dihadiri 140 organisasi dari 34 negara. Dalam kongres itu Hatta berhasil memasukkan beberapa butir pernyataan yang isinya menentang penjajahan Belanda di Indonesia ke dalam resolusi akhir.

Pada 1929 Anton menulis untuk majalah De Communistische Gids (The Communist Guide) yang dipimpin David Joseph Wijnkoop, mantan ketua Partai Komunis Belanda. Dia menggunakan nama pena ′Adek′ yang merupakan singkatan dari namanya sendiri. Di dalam tulisannya, Anton berupaya menunjukkan kepada pembaca bahwa posisi Suriname dan Curacao setara dengan Indonesia: sama-sama menderita akibat kolonialisme Belanda.

Di tahun yang sama Anton berbicara dalam kongres akbar ke-18 Partai Komunis Belanda. Dalam pidatonya, dia menyinggung keinginan Suriname untuk merdeka. Ia juga berbicara mengenai kesejahteraan penduduk Suriname, rasisme dan represi terhadap penduduk kulit berwarna di Suriname, dan kebutuhan untuk bekerjasama dengan Indonesia.

Kampanye Anton mulai menampakkan hasilnya. Suriname dan Curacao yang sebelumnya tidak pernah mendapatkan perhatian khusus dari parlemen Belanda (Tweede Kamer), mulai dibahas secara khusus. Pada Juli 1929, Tweede Kamer menggelar pertemuan dengan tajuk "Indonesia, Suriname, Curacao ingin segera merdeka sepenuhnya dari Belanda."

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Komentar anda
Anton de Kom ber
foto
Foto
Anton de Kom ber
foto
Foto