Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Adinegoro, Penulis Buku Perjalanan Wartawan Pertama

 
Adinegoro dan Presiden Sukarno. Buku perjalanannya, "Melawat ke Barat."
Historia
pengunjung
2.9k

Di kalangan wartawan Indonesia, nama Adinegoro dikenal sebagai nama sebuah penghargaan jurnalistik yang diberikan kepada para wartawan Indonesia sejak pertengahan tahun 1970-an. Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Adinegoro –dianugerahi gelar Perintis Pers Indonesia pada tahun 1974– adalah orang Indonesia pertama yang menempuh kuliah jurnalistik di Jerman pada tahun 1926. Karya tulisnya yang berjudul Melawat ke Barat mungkin bisa dikatakan sebagai buku pertama yang menulis kisah perjalanan wartawan Indonesia ke luar negeri. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka dalam tiga jilid pada tahun 1936.

Kalau mendengar nama Adinegoro, banyak orang akan berpikir apakah dia seorang Jawa? Nama sesungguhnya adalah Djamaluddin Adinegoro gelar Datuk Maradjo Sutan (1904-1967), seorang “urang awak” dari tanah Minang, Sumatera Barat. Nama Adinegoro sebenarnya adalah nama pena atau nama samaran yang disarankan oleh temannya, Landjumin Datuk Tumenggung, yang juga memiliki nama pena Nitinegoro.

Adinegoro diminta oleh ayahnya untuk melanjutkan pendidikan di Jawa untuk masuk sekolah kedokteran STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputra). Pada saat di STOVIA ini Adinegoro menunjukkan minatnya yang besar pada dunia tulis menulis dan dia pun menjadi pembantu tetap dari koran Tjahaja Hindia. Dia lalu keluar dari sekolah kedokteran tersebut (sedikit mirip dengan kisah Tirto Adhisoerjo yang juga sempat sekolah kedokteran di STOVIA namun lebih tertarik dengan dunia tulis menulis) dan memutuskan untuk sekolah ke Eropa mendalami jurnalistik.

Nah, pada saat perjalanan menuju Eropa tersebut, sekitar tahun 1926, di situlah Adinegoro menuliskan catatan yang kemudian dibukukan menjadi buku Melawat ke Barat. Naskah Melawat ke Barat sebenarnya adalah kumpulan dari tulisan yang dikirimkan oleh Adinegoro ke majalah Pandji Poestaka, milik Balai Poestaka, oleh karena itu wajar kemudian ketika Balai Pustaka –sebagai satu-satunya lembaga penerbitan yang ada di masa penjajahan Belanda, dan kemudian diteruskan setelah masa kemerdekaan– menerbitkan naskah ini. Selain itu, Adinegoro juga mengirimkan karangannya ke koran Pewarta Deli (Medan) dan Bintang Timoer (Jakarta). Setelah Melawat ke Barat, Adinegoro juga dikenal dengan buku lain yang dia tulis berjudul, Falsafah Ratu Dunia. “Ratu Dunia” di sini adalah istilah Adinegoro untuk menyebut tentang “Pers”. Dari buku yang saya miliki, Falsafah Ratu Dunia diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1951 dan disebutkan itu adalah cetakan kedua, namun dalam pengantar buku tersebut, Adinegoro selesai menulis naskah ini pada Desember 1948.

Di Eropa, Adinegoro juga belajar tentang geografi dan kartografi di Wuerzburg dan geopolitik di Munchen, Jerman. Ilmunya soal perpetaan ini berguna ketika pecah Perang Dunia II, Adinegoro sendiri yang menggambarkan peta pergerakan perang itu, dan hal ini ternyata sangat disukai oleh para pembaca. Ketika Jepang masuk, Pewarta Deli dihentikan penerbitannya, namun kemudian didirikan koran Sumatera Shimbun, dan Adinegoro ditunjuk menjadi pemimpinnya.

Setelah Indonesia merdeka, pada 1948 Adinegoro lalu pindah ke Jawa dan di Jakarta dia mendirikan majalah Mimbar Indonesia bersama dengan Prof. Soepomo, Prof. Moh. Noor, Soekardjo Wirjopranoto, dan Mr. Yusuf Wibisono. Setelah proklamasi, Adinegoro juga sempat ditunjuk oleh Sukarno, Presiden Republik Indonesia pertama untuk menjadi Ketua Komite Nasional Sumatera, untuk mengambil-alih administrasi pemerintahan dari tangan Jepang. Dia pun sempat memimpin kepala penerangan Republik Indonesia di wilayah Sumatera, dan di Bukit Tinggi, Adinegoro juga sempat mendirikan koran Kedaulatan Rakyat (tak ada kaitannya dengan koran Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta yang juga terbit tak lama setelah kemerdekaan Indonesia) yang berhenti terbit ketika terjadi clash kedua akibat serangan tentara Sekutu pada 1948.

Ketika Adinegoro pindah ke Jakarta setelah masa revolusi itu, pada tahun 1951dia mendirikan Yayasan Persbiro Indonesia dan mendirikan Perguruan Tinggi Publisistik (kemudian berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Publisistik dan kemudian diperluas menjadi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik –sekarang bertempat di Lenteng Agung, Jakarta Selatan) dan juga Fakultas Publisistik di Universitas Padjajaran, Bandung.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Adinegoro dan Presiden Sukarno. Buku perjalanannya, "Melawat ke Barat."
Adinegoro dan Presiden Sukarno. Buku perjalanannya, "Melawat ke Barat."