Pilih Bahasa: Indonesia

Politik Olahraga Negeri Dunia Ketiga 

Ganefo terselenggara karena Indonesia menolak keikutseraan Israel dan Taiwan. Terinspirasi dengan semangat Dasasila Bandung.
Historia
Historia
pengunjung
34.9k

PENYELENGGARAAN Ganefo berawal dari persoalan sikap Indonesia menolak keikutsertaan Israel dan Taiwan pada Asian Games IV di Jakarta, 24 Agustus–4 September 1962. Akibatnya Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang berpusat di Lausanne, Swiss, memutuskan untuk menskors Indonesia dari keanggotaan IOC.

Indonesia tak bersedia mengeluarkan visa untuk kontingen dari Taiwan dan Israel. Alasannya, seperti dikemukakan Sukarno dengan tegas: Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan kedua negara tersebut dan solidaritas rakyat Indonesia terhadap perjuangan negara-negara Arab dan Republik Rakyat Tiongkok.

Saat itu, negara-negara Arab sedang bersengketa dengan Israel yang ditopang Barat. Sedangkan Tiongkok dikucilkan dunia internasional setelah Barat hanya mengakui Taiwan sebagai pemerintahan Tiongkok yang sah. Sukarno melihat hal ini sebagai bentuk penindasan negara-negara Old Established Forces (Oldefos) terhadap New Emerging Forces (Nefos).

“Presiden Indonesia, Sukarno, sangat antusias mendukung pelaksanaan Asian Games. Dia melihatnya sebagai sarana untuk mengejahwantahkan serangkaian tujuan politik, termasuk politik luar negeri yang mengokohkan dirinya sebagai pemimpin negara-negara non-blok,” ujar Charles Little dalam “Games of the Newly Emerging Forces”, termuat di Sports Around The World: History, Culture and Practice.

Kecaman atas sikap Indonesia berdatangan. Paling keras datang dari Guru Dutt Sondhi, pendiri dan wakil presiden Asian Games Federation (AGF). Dia menolak mengakui keabsahan Asian Games IV. Publik Indonesia menganggap ini hinaan besar bagi Sukarno, yang berujung pada pecahnya kerusuhan di depan kedutaan besar India di Jakarta.

“Rombongan demonstran juga menyerbu hotel tempat Sondhi menginap, mencarinya dari kamar ke kamar. Beruntung baginya, dia bisa menyelinap pergi dan sore itu juga dia berhasil keluar dari Jakarta (menuju India),” tulis Mihir Bose dalam The Spirit of The Game: How Sport Has Changed the Modern World.

Di tengah kecaman, Asian Games IV berlangsung dengan sukses. Jepang menjadi pemuncak medali, diikuti Indonesia, India, dan Pakistan.

AGF melemparkan masalah ini ke IOC. IOC bersidang, dan hasilnya Indonesia diskors dari keanggotaan IOC dalam batas waktu yang tak ditentukan sampai Indonesia meminta maaf dan berjanji tak akan mengulangi tindakannya. Penolakan Indonesia terhadap Israel dan Taiwan dianggap IOC sebagai tindakan yang menciderai cita-cita Olimpiade. Indonesia dianggap terlalu jauh mencampurkan urusan olahraga dengan politik

“Untuk kali pertama dalam sejarahnya yang membentang selama 69 tahun, IOC harus memutuskan untuk mengeluarkan sebuah negara yang sudah menjadi anggotanya,” tulis Rusli Lutan dan Fan Hong dalam “The Politicization of Sport: GANEFO–A Case Study” yang terhimpun dalam Sport, Nationalism, and Orientalism: The Asian Games karya Fan Hong.

Sukarno meradang dan memerintahkan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) keluar dari IOC pada 14 Februari 1963. Dia mencap India sebagai pengkhianat semangat Dasasila Bandung 1955. Sementara IOC, menurutnya, sudah menjadi kepanjangan tangan kaum imperialis untuk mendominasi urusan olahraga untuk kepentingan sendiri; kecaman mereka terhadap Indonesia yang mencampuri urusan olahraga dengan politik adalah sebuah sifat munafik.

“Jika pandangan dan sikap mayoritas anggota AGF, yang merepresentasikan 13 negara yang menandatangani konvensi Asia-Afrika di Bandung, bahwa Asian Games tidak benar-benar merefleksikan semangat Bandung dengan benar, maka kita harus mengadakan Asian Games baru, yang benar-benar merefleksikan semangat Bandung. Sekarang juga, kita akan mengadakan ajang olahraga baru di antara negara-negara Nefos, secepat mungkin terlaksana, ya, pada tahun 1963 ini,” ujar Sukarno, dikutip India and the Olympics karya Boria Majumdar dan Nalin Mehta.

Karena itu, atas usul Menteri Olahraga Maladi dan juga Sukarno, Indonesia bertekad untuk membuat pesta olahraga sebagai tandingan Olimpiade.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Historia
Historia