Pilih Bahasa: Indonesia

Ganefo, Olimpiadenya Bangsa Asia Afrika

Demi menandingi Olimpiade, Sukarno membuat pesta olahraga untuk negara-negara non-blok.
Presiden Sukarno memberikan pidato pembukaan Ganefo, 1963.
Historia
pengunjung
36k

SEJAK pagi publik Jakarta berbondong-bondong datang ke Stadion Utama Gelora Bung Karno. Mereka melalui Jalan Sudirman yang berhiaskan ratusan umbul-umbul dan bendera merah putih. Kendaraan berjejalan. Lautan manusia tak terhindarkan. Maklum, tiket masuknya gratis.

Pukul tiga sore, stadion sudah dipenuhi 100 ribu penonton. Di luar gerbang tak kalah ramai. Satu jam kemudian, Presiden Sukarno tiba menggunakan helikopter. Dimulailah rangkaian acara pembukaan pesta olahraga akbar The Games of the New Emerging Forces (Ganefo). Satu per satu kontingen tiap negara berparade, defile, sambil disambut riah-riuh penonton.

Lalu seorang atlet Indonesia, Harun Al-Rasjid, berlari membawa obor untuk menyalakan tungku api Ganefo. Api berkobar, dibarengi pengerekkan bendera dan nyanyian himne Ganefo. Acara seremonial yang tidak asing namun bermakna besar bagi para peserta.

Sukarno naik ke podium. Suasana tiba-tiba hening. Dengan satu kalimat singkat dalam tiga bahasa, Indonesia, Inggris, dan Prancis, dia menyatakan, “dengan ini, Ganefo I saya buka.”

Suara meriam menyambut. Balon-balon diterbangkan ke langit. Ribuan merpati lambang perdamaian terbang mengepakkan sayap. Dan para penonton bersukaria.

Setelah resmi dibuka pada 10 November 1963, cabang-cabang olahraga mulai dipertandingkan. Para atlet dari 51 negara berlaga memperebutkan medali.

Diinisiasi Indonesia, Ganefo bukan hanya pesta olahraga semata, namun juga sarana pertukaran budaya di antara negara-negara berkembang di dunia yang hubungannya telah dibina sejak Konferensi Asia Afrika 1955.

Persiapan Ganefo dilaksanakan secara kilat sesuai instruksi Sukarno. Menteri Maladi ditugaskan untuk mengurusinya. Konferensi persiapan dilaksanakan di Jakarta pada 27-29 April 1963. Sepuluh negara hadir sebagai anggota penuh: Kamboja, Tiongkok, Guinea, Indonesia, Irak, Pakistan, Mali, Vietnam Utara, Republik Persatuan Arab, dan Uni Soviet. Sedangkan Srilanka dan Yugoslavia hadir sebagai pengamat. Nama pesta olahraga ini pun dikemukakan ke publik untuk kali pertama: The Games of The New Emerging Forces (Ganefo).

Dalam pidato pembukaan konferensi di Hotel Indonesia, Presiden Sukarno menjelaskan Ganefo memiliki tujuan politisuntuk menandingi IOC dan kubu imperialisme di dalamnya. Dia tidak menentang idealisme Olimpiade yang dicetuskan Baron de Coubertin (pendiri sistem olimpiade modern) sebagai sarana persatuan, perdamaian, dan persahabatan antarmanusia di seluruh dunia.

“Kami dengan senang hati bergabung ke dalam IOC karena kami sependapat dengan ide yang disampaikan oleh Baron de Coubertin. Tapi apa yang ternyata kami dapatkan dari IOC? Sikap mereka menunjukkan bahwa mereka sekarang hanyalah sebuah alat imperialisme dan politik! Kami punya pengalaman pahit dengan Asian Games! Bagaimana perasaanmu, komunis Cina! Ketika kamu dikucilkan dari olahraga internasional hanya karena kamu negara komunis? Ketika mereka tidak bersahabat dengan Republik Persatuan Arab, ketika mereka mengucilkan Korea Utara, ketika mereka mengucilkan Vietnam Utara, bukankah itu keputusan politik?” kecam Sukarno.

Kegiatan Ganefo I didasarkan pada semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung dan idealisme olimpiade yang sejati: bertujuan mempromosikan kemandirian perkembangan kebudayaan berolahraga di seluruh negara-negara Nefos, menstimulasi hubungan baik di antara pemuda-pemudi Nefos, serta mempromosikan jembatan persahabatan dan perdamaian dunia pada umumnya.

Ganefo I dilaksanakan pada 10-22 November 1963 di Jakarta, dengan Indonesia sebagai panitia pelaksananya. Ada tiga program utama, yakni ajang kompetisi olahraga, pesta seni, dan tur delegasi ke beberapa wilayah di Indonesia.

Sementara Jakarta bergegas mempersiapkan Ganefo, IOC mengamati gerakan ini. “IOC dan federasi internasional tidak dapat menoleransi pergerakan olahraga yang terang-terangan bertujuan politis, terutama yang ingin menyaingi Olimpiade,” tulis Richard Espy dalam The Politics of the Olympic Games: With an epilogue, 1976-1980.

IOC kemudian mengumumkan bahwa mereka tak mengakui Ganefo dan akan mempertimbangkan kembali hak untuk mengikuti Olimpiade Tokyo 1964 bagi para atlet-atlet yang berpartisipasi dalam Ganefo. Indonesia tak bergeming dan tetap melayangkan undangan ke negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Sejumlah negara, kendati dilanda bimbang karena seruan IOC, menyambut uluran Sukarno.

Satu hal yang menarik dari penyelenggaraan Ganefo adalah minimnya ongkos yang dikeluarkan Indonesia selaku tuan rumah. Tiongkok menyumbangkan 18 juta dolar untuk transportasi semua delegasi Ganefo sebagai bentuk dukungan, juga karena diberi kesempatan berkompetisi di ajang olahraga internasional. Dilihat dari permukaan, konsep Ganefo tak lain adalah replika dari Olimpiade, begitu pula cabang-cabang olahraganya.

“Kompleks olahraga sudah tersedia dan didanai pembangunannya oleh Soviet untuk Asian Games IV. Amerika baru saja menyelesaikan jalan layang yang mempermudah akses dari Tanjung Priok ke Senayan. Jepang mengucurkan dananya untuk membangun hotel berstandar internasional yang dapat mengakomodasi peserta Ganefo dari perkampungan atlet. Meskipun ongkosnya rendah, namun timbal balik politisnya sangat tinggi bagi Indonesia,” tulis Ewa T. Pauker dalam artikel “Ganefo I: Sports and Politics in Djakarta” seperti termuat dalam JurnalAsian Survey, Vol. 5, No. 4, April 1965.

Gencarnya pengaruh dari Uni Soviet dan Tiongkok mengundang kritik. “Indonesia saat itu begitu dilematis. Ekonomi dalam negeri sedang hancur, namun di sisi lain Indonesia ingin bangkit sebagai pelopor Dunia Ketiga,” ujar Suditomo, salah satu anggota panitia logistik selama pelaksanaan Ganefo.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Presiden Sukarno memberikan pidato pembukaan Ganefo, 1963.
Presiden Sukarno memberikan pidato pembukaan Ganefo, 1963.