Pilih Bahasa: Indonesia
Gesang

Gesang yang Telah "Terbang"

Hidupnya bagaikan sungai Bengawan Solo yang berliku. Kini ia telah bermuara ke samudera keabadian.
Historia
Historia
pengunjung
4.9k

BENGAWAN Solo akan tetap sebagai sungai apabila Gesang tidak menuangkannya menjadi syair lagu nan syahdu. Semuanya bermula saat musim kemarau di tahun 1940, saat Gesang muda duduk di tepian sungai menatap Bengawan Solo yang surut. Ia pun mulai mengungkai kata demi kata, merangkainya menjadi syair pada secarik kertas pembungkus rokok. Enam bulan kemudian, Gesang menjuduli tembang barunya itu Bengawan Solo. Sejarah pun terukir.

Bengawan Solo begitu populer. Kepopulerannya mengalir jauh hingga ke mancanegara. “Lagu dengan irama keroncong ini telah diterjemahkan dan dinyanyikan dalam bahasa-bahasa asing,” tulis IzHarry Agusjaya Moenzir dalam Gesang: mengalir meluap sampai jauh. Di Jepang, Bengawan Solo sangat digemari sehingga pernah dijadikan soundtrack sebuah film layar lebar. Jepang pula yang mendirikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi Gesang di dalam memopulerkan keroncong.

Beberapa tahun Bengawan Solo diciptakan dan melejit tenar, sebetulnya Gesang sudah menciptakan dua buah lagu, salah satu yang terkenal adalah Keroncong Piatu. Lagu-lagu lain yang juga tak kalah tenarnya adalah Jembatan Merah, Sapu Tangan, Pamitan (dipopulerkan Broery Pesulima), dan Caping Gunung.

Lahir di Surakarta, 1 Oktober 1917, Gesang mengawali perjalanan kesenimanannya sebagai penyanyi keroncong. Dia berkeliling manggung dari satu acara ke acara lainnya, dari satu pesta kecil ke pesta kecil lainnya. Sambil jadi penyayi, Gesang juga mencipta lagu. “Sebenarnya dia itu seorang ‘otodidak’ di dalam bidang lagu yang luar biasa,” tulis T. Wedy Utomo dalam Gesang tetap Gesang.

Meskipun Bengawan Solo tenar di mana-mana, kehidupan Gesang tidak lantas berubah seratus delapan puluh derajat. Gesang tetap seperti sediakala: lugu dan bersahaja. Tiada peduli royalti lagu-lagunya dibayar atau tidak, Gesang tak pernah pusing.

Gesang tinggal di rumah sederhana, di Perumnas Palur, Solo, Jawa Tengah, yang ia dapatkan sebagai hadiah dari Gubernur Soepardjo Roestam (ada sumber lain yang menyebuktkan kalau rumah itu hadiah dari walikota Surakarta-Red). Kondisi rumah itu pun tak pernah berubah sejak pertama ia menempatinya.

Dalam berkeluarga, Gesang punya kisah yang “tidak mulus”. Ia pisah dengan istrinya. Gesang tak punya anak dari pernikahan itu dan memilih untuk tetap sendiri semenjak perceraian tersebut.

Gesang tidak pernah berkeluh-kesah. Ia melakoni hidup seperti hari-hari sebelumnya. “Suka dan duka hidup manusia di dunia itu menurut Gesang adalah kehendak-Nya,” tulis Wedy Utomo, mengutip Gesang.

Keluguan Gesang menarik simpati PT Penerbit Karya Musik Pertiwi (PMP). Perusahaan itu berjuang mengumpulkan royalti dari karya Gesang di seluruh dunia sejak 1996. Hasilnnya yang berjumlah puluhan juta rupiah setahun, lalu diberikan kepada Gesang.

Tiga tahun silam, Gesang memilih meninggalkan rumahnya di Perumnas Palur. Dia lebih memilih tinggal bersama saudaranya, Toyibi, di Kampung Kemplayan. Rumah pemberian Soepardjo Roestam itu lalu dihuni keponakannya.

Gesang menghabiskan hari-hari masa tuanya dengan bercengkerama bersama sejumlah burung kesayangannya. Sesekali dia juga masih menyempatkan berjalan-jalan menikmati alam pedesaan. Walaupun, hal itu dia lakukan dengan susah payah, dia harus tertatih-tatih untuk berjalan.

Pada 12 Mei 2010, Gesang melakukan cek kesehatan rutin. Dokter lalu menyarankan keluarganya agar Gesang diopname. Sang “maestro” kekurangan cairan. Keluarganya pun menuruti saran dokter. Gesang dirawat inap di rumah sakit PKU Muhammadiyah Solo. Semenjak masuk rumah sakit kondisi kesehatannya terus menurun. Bahkan, di beberapa media sempat tersiar kabar kalau pria yang dielu-elukan oleh warga Jepang itu meninggal dunia.

Kamis, 20 Mei 2010, kesehatan Gesang kian memburuk. Pada pukul 14:00 dan 17.30 ia sempat kritis. Sepuluh menit lewat dari pukul 18:00, sang “maestro” menghembuskan nafas terakhir pada usia 92 tahun. Tidak ada pesan atau wasiat khusus yang ia tinggalkan sebelum wafat. Gesang telah menorehkan tinta emas dalam blantika musik Indonesia. Namanya akan tetap dikenang, lagunya akan tetap berkumandang. Gesang tetap Gesang (Jawa: hidup).

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 35 Tahun 3
Kuliner Nusantara Rasa dan Cerita
Kali ini kami menyajikan kisah tentang makanan, tentang citarasa nusantara yang merentang sejak zaman dahulu kala. Tak hanya tentang masakan..
 
Komentar anda
Terpopuler
Historia
Historia