Pilih Bahasa: Indonesia

Perempuan Melawan Jerman

Kepala perempuan ini sampai dibanderol satu juta Franc. Dia dan pasukannya berhasil menewaskan ribuan pasukan Jerman.
 
Pearl Witherington, pemimpin perlawanan terhadap Jerman di Prancis.
Historia
pengunjung
3.4k

PEARL Witherington bangun dari duduknya. Dia menuju pintu belakang pesawat lalu merebahkan tubuhnya di dinding pesawat. Tiba-tiba pesawat pembom Halifax yang ditumpanginya bermanuver tajam. Jantungnya berdegup kencang. Matanya terus menatap petugas pemberi aba-aba untuk terjun. Misi penerjunan ke Prancis pada 15 September 1943 itu menjadi puncak mimpinya selama beberapa tahun belakangan.

Pendudukan Jerman membuat Pearl dan keluarganya terpaksa keluar dari Prancis. Dia kembali ke Prancis setelah bergabung dengan Special Operation Executives (SOE), badan intelijen yang dibentuk pemerintah Inggris untuk membantu perjuangan bawah tanah negara-negara yang diduduki Jerman.

Ketika Halifax mengurangi ketinggian sampai 500 kaki, perasaan Pearl campur aduk antara senang, bangga, dan khawatir. Kekhawatirannya makin bertambah karena perintah terjun tak kunjung datang. Ketidakpastian itu baru usai setelah pilot mengumumkan: misi dibatalkan. Pearl kecewa.

Pearl merupakan anak diplomat Inggris di Prancis. Lahir dan besar di Prancis, dia menganggap Prancis sebagai rumahnya. Itulah yang membuatnya amat marah ketika Prancis diduduki Jerman dalam Perang II. “Yang membuatku sangat marah adalah pendudukan. Dan itu adalah sesuatu yang tak bisa membuatku tinggal diam,” kata Pearl dalam memoarnya, Code Name Pauline: Memoirs of a World War II Special Agent yang ditulis bersama Kathryn Atwood.

Saat pendudukan Jerman, Mei 1940, Pearl belum lama bekerja di kantor Atase Udara Kedutaan Inggris di Paris. Dia menjadi tulang punggung keluarga lantaran ayahnya terjerembab dalam alkohol. Dia menyerahkan semua gaji kepada ibunya, sementara untuk uang saku dia memberi les bahasa Inggris.

Lantaran dianggap sebagai staf lokal, pemerintah Inggris tak mengevakuasi Pearl dan keluarganya. Dia terpaksa bersusah payah untuk membawa ibu dan ketiga adik perempuannya keluar Prancis. Sayang, di Normandy mereka tertinggal kapal menuju Inggris. Dia terpaksa kembali ke Paris. Mereka baru berhasil ke Inggris pada akhir tahun lewat Portugal lalu Gibraltar.

Tak lama setelah kedatangannya di Inggris, Pearl mendapat pekerjaan di Kementerian Udara. Tapi dia tak puas hanya duduk di balik meja. Hasratnya untuk membantu Prancis keluar dari pendudukan tetap membara. Melalui seorang teman, dia lalu bergabung dengan SOE pada 8 Juni 1943. Dia mengikuti pelatihan intens, termasuk terjun payung, selama beberapa pekan.

Pada 15 September 1943, Pearl dan agen-agen SOE mendadak batal diterjunkan ke Prancis. Penyebabnya, “Hector”, kepala jaringan SOE yang sedianya membawahi Pearl, ditangkap Gestapo, polisi rahasia Nazi-Jerman. Saat pesawat Halifax hendak menerjunkan Pearl dan kawan-kawan, Hector tepat berada di bawah pesawat.

Lima hari kemudian, Pearl kembali ke Prancis menggunakan pesawat angkut dari Lapangan Udara Hazells Hall, dekat Pangkalan RAF Tempsford. “Ini adalah kesempatan terakhir saya, kesempatan terakhir saya,” kata Pearl dalam hati, dikutip Carole Seymour-Jones dalam She Landed by Moonlight: The Story of Secret Agent Pearl Witherington.

Pearl bekerja dalam jaringan SOE bernama “Wrestler” yang dipimpin Maurice Southgate. Dengan nama samaran Marie Verges, dia berperan sebagai kurir. Dia mengantar pesan ke banyak orang dan melaporkannya ke London. Untuk menjalankan tugas itu Pearl menyamar sebagai agen kosmetik.

Pada Mei 1944, Southgate ditangkap Gestapo dan dimasukkan ke Kamp Buchenwald. Pearl mengambilalih kepemimpinan Wrestler. Dia dan tunangannya, Henri Cornioley, sempat tertangkap Gestapo dan hampir dibunuh. Keduanya melarikan diri ke lembah Sungai Cher, Prancis Tengah, dan bersembunyi di rumah penjaga perkebunan.

Pearl dan Henri mengubah struktur Wrestler menjadi kelompok kecil perlawanan dan mengganti metode kerjanya. Pearl berganti nama menjadi Pauline. Rumah penjaga perkebunan menjadi markasnya.

Mereka merekrut penduduk setempat yang kebanyakan petani. Dalam waktu singkat, pengikutnya mencapai 1500 orang dibagi menjadi empat subregu. Selain mengumpulkan informasi, mereka melakukan sabotase yang meningkat menjelang D-Day. “Saat menerima pesan aksi D-Day di BBC, Maquis (kaum perlawanan Prancis, red.) Pearl mulai menebangi pohon di jalan-jalan dan memutus kabel telepon,” tulis Marcus Binney dalam The Women Who Lived for Danger.

Setelah Juni, Pearl menyerukan kelompoknya angkat senjata. Dia dan Henri melatih mereka menggunakan senjata modern yang disuplai SOE. “Tampaknya pertandingan tak setara: petani melawan Nazi. Tapi orang-orang Indre, yang baru dipersenjatai oleh Pearl dengan senjata asing, senjata api dan peluncur roket, mampu belajar dengan cepat,” tulis Carole Seymour.

Maquis pimpinan Pearl makin sering merepotkan lawan sehingga kian dikenal. Bahkan Jerman sampai membanderol kepala Pearl sebesar satu juta Franc. “Pearl menyanyi saat dia memimpin sekelompok orang Prancis memasuki pertempuran. Lagu yang dia pilih, Avec mes Sabots, juga merupakan lagu marching Joan of Arc. Bagi teman-teman Pearl, Henri Cornioley, Mayor Clutton dari Jedburgh, dan mungkin pasukannya, kepemimpinan visioner Pearl dalam rentang waktu Mei-September 1944 mengingatkan orang pada kepemimpinan Joan,” tulis Carole Seymour.

Pada subuh lima hari setelah D-Day, sekira dua batalyon Jerman menyerang Maquis di Les Souches. Pertempuran sengit berlangsung hingga malam. Pearl tak ikut bertempur karena harus menyelamatkan uang operasional yang didrop SOE. Nyawanya hampir melayang saat masuk ke ladang jagung untuk mengambil uang. Hampir bersamaan pasukan Jerman membakar gudang yang merembet ke kebun. Dia merangkak keluar dari ladang sembari menghindari para personel Jerman. Dia selamat karena pasukan Jerman hanya membakar dan istirahat. “Beberapa orang Jerman yang sudah lelah perang hanya tinggal di rumah pertanian terdekat, termasuk pondok tempat Pearl dan Henri tidur, dan meminta makan,” tulis Binney.

Serangan Jerman membuat Pearl dan mayoritas anggotanya terdesak terus mundur ke arah timur hingga Doulcay. Mereka ditampung suami istri petani, Trochet. Tak lama kemudian sekira 45 personel Jerman mendatangi tempat itu. Namun, mereka salah memberikan nama buruan sehingga Pearl dan pasukannya selamat. “Sejak saat itu, kami tidur di hutan dan makan dari pertanian,” kata Pearl dikutip Binney.

Menjelang 24 Juni, Maquis Pearl mendapatkan banyak kiriman senjata api, ransum dan pakaian. Perlawanan kembali menguat. Pada 18 Agustus, mereka melakukan penyergapan heroik. Sekira 30 personel Maquis menyerang satu detasemen SS di Reuilly. Dalam pertempuran satu setengah jam, Maquis hanya kehilangan seorang prajurit sementara Jerman kehilangan 20 personel. Delapan hari kemudian, satu kelompok Maquis di sub-sektor lain menyerang konvoi 128 kendaran pasukan Jerman. Selain memaksa mereka memutar balik, serangan itu memakan korban jiwa 150 personel Jerman.

Pada akhir perang, Maquis Pearl berhasil menewaskan setidaknya seribu personel Jerman dan melukai ribuan lainnya. Mereka juga berperan dalam penyerahan 18 ribu Jerman di sektor Issoudun, yang selanjutnya dikirim ke Orleans, Amerika Serikat.

Meski pemerintah Inggris merendahkan peran Pearl dan Maquis-nya, Jenderal Eisenhower menganggap mereka justru berkontribusi besar. “Berkat mereka, Jerman kehilangan kendali atas posisi belakang mereka selama Overlord, dan lelaki maupun perempuan dari kaum perlawanan yang membebaskan Prancis di selatan Loire,” kata Ike, sapaan akrab panglima tertinggi Sekutu di Eropa Barat semasa PD II itu. Dan Pearl merupakan satu-satunya agen SOE yang memimpin pasukan mengangkat senjata.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Pearl Witherington, pemimpin perlawanan terhadap Jerman di Prancis.
Pearl Witherington, pemimpin perlawanan terhadap Jerman di Prancis.