Pilih Bahasa: Indonesia

Nasib Serdadu Hitam Paman Sam

Warna kulit menyebabkan perjuangan Afro-Amerika hampir dilupakan dalam sejarah.
 
Para serdadu kulit hitam AS di Prancis saat berlatih menembak
Historia
pengunjung
5.8k

Amerika Serikat (AS) tahun ini merayakan 100 tahun keterlibatannya dalam Perang Dunia I. Perayaan berlangsung meriah. Militer beberapa negara sekutu AS ikut meramaikan. Jet-jet tempur Prancis melakukan airshow di atas Pelabuhan New York.

PD I merupakan ajang pertama keterlibatan AS dalam kancah politik internasional. PD I juga mengubah tatanan sosial, politik, dan ekonomi global yang menguntungkan AS dan negara-negara sekutunya sebagai pemenang.

Dalam perang itu, AS mengerahkan hampir lima juta warganya. Dari jumlah itu, sekira 350 ribu merupakan orang-orang Afro-Amerika yang kala itu masih mendapatkan perlakuan diskriminatif.

Meski awalnya banyak kalangan menolak keterlibatan Afro-Amerika, termasuk sebagian kecil Afro-Amerika sendiri, militer AS berhasil menggunakan warga Afro-Amerika berdasarkan Espionage Act tahun 1917 dan Sedition Act tahun 1918. Bagi banyak Afro-Amerika, masuk dinas militer dan terjun ke medan tempur merupakan sebentuk tanggung jawab kepada negara seperti yang ditunjukkan oleh Charles Brodnax, petani asal Virginia. Menurutnya, dirinya merupakan milik pemerintah negerinya dan harus menjawab semua panggilan (untuk ikut perang –red.) dan mematuhi perintah guna mempertahankan demokrasi.

Selain itu, terjun ke medan perang merupakan kesempatan untuk menunjukkan patriotisme dan kesetaraan hak mereka sebagai warga negara yang kala itu masih sebatas impian. Para pemimpin kulit hitam, seperti Richmond Planet, terus menghembuskan pandangan seperti itu. Dengan pengorbanan diri melalui perang, negara pada akhirnya tak punya pilihan selain menghormati mereka dengan memberi hak-hak sipil lebih besar.

Dari sekitar satu juta Afro-Amerika yang mendaftarkan diri ke dinas militer, 350 ribu di antaranya berhasil diterima. Mereka lalu dilatih di kamp-kamp militer yang kebanyakan berada di kota-kota selatan, yang masih kental perbudakannya. Selama pelatihan pun para Afro-Amerika mendapatkan diskriminasi berupa segregasi seperti pemisahan latihan antara serdadu kulit putih dan kulit hitam. Orang kulit putih masih khawatir terhadap akan munculnya perlawanan rasial dari kulit hitam bila latihan disatukan. Kerusuhan rasial di St. Louis pada 2 Juli 1917 yang memakan korban lebih dari 100 Afro-Amerika menjadi ujian bagi tekad para Afro-Amerika, yang dalam PD I ditempatkan dalam Divisi Tempur ke-92 dan Divisi Tempur ke-93.

Diskriminasi itu tetap berlangsung hingga ketika mereka sudah di Prancis. Alih-alih mendapat kesempatan memanggul senapan, kebanyakan mereka mendapat tugas non tempur seperti menggali parit, mengangkut logistik, atau menguburkan mayat. Bahkan karena ketidakpercayaan, militer AS meminjamkan Divisi ke-93 ke militer Prancis –menjadi satu-satunya divisi AS yang langsung berada di bawah komando militer asing.

Bagi Afro-Amerika di Divisi ke-93, peminjaman itu justru menjadi berkah. “Serdadu-serdadu kulit hitam menerima sambutan hangat dari warga Prancis, yang, tak seperti pasukan kulit putih AS, hanya sedikit menunjukkan perilaku rasis,” tulis Chad Williams dalam "African American and World War I, dimuat di exhibitions.nypl.org. Di militer Prancis, mereka juga lebih sering berinteraksi dengan serdadu kulit hitam, yang meningkatkan kesetiakawanan. Yang terpenting, kesetaraan dalam militer Prancis yang lebih besar dari militer AS memberi kesempatan mereka untuk terlibat dalam pertempuran –hal yang tak didapatkan para Afro-Amerika di Divisi ke-92; mereka kemudian menjadi sasaran fitnah para komandan kulit putih.

Para prajurit Divisi ke-93 menunjukkan semangat juang mereka di berbagai pertempuran. Kopral Freddie Stowers dari Resimen Infantri ke-371 berhasil memimpin penyerangan terhadap pasukan Jerman di hutan Ardennes, September 1918. Thomas Davie dari Resimen Kaveleri ke-10 juga menunjukkan prestasi mengesankan dalam pertempuran di Meuse-Argonne.

Perjuangan paling populer dilakukan Kopral Henry Johnson, serdadu Resimen Infantri ke-369, sekitar pertengahan 1918. Demi menyelamatkan rekannya yang terluka, Needham Roberts, dia nekat menyerang sekelompok kecil pasukan Jerman di Hutan Argonne dengan hanya bermodalkan pistol dan pisau komando. Kerjasama keduanya menewaskan empat serdadu Jerman dan melukai selusin lainnya. Meski Johnson kemudian juga terluka, keduanya selamat.

Resimen 369, dikenal sebagai “Harlem Hellfighters”, jadi populer karena dedikasi patriotik mereka dalam pertempuran sengit yang mereka ikuti. Meski kehilangan 1500 prajuritnya, resimen itu tak pernah punya catatan anggotanya tertawan dan tidak satu pun wilayah yang mereka kuasai jatuh ke tangan lawan. Lebih dari 100 prajurit resimen itu mendapatkan penghargaan atas keberanian mereka.

Henry Johnson dan Needham Roberts menjadi serdadu AS pertama yang memperoleh penghargaan French Croix de Guerre. Meski kalah cepat dari publik Prancis, publik Amerika kemudian memuji prestasi para prajurit Afro-Amerika itu. Lebih dari 70 tahun setelah itu, militer AS menganugerahi Medal of Honor kepada mendiang Henry Johnson dan Freddie Stowers, dan US Victory Medal kepada mendiang Thomas Davie. “Pahlawan Needham Roberts dan Henry Johnson dari Infanteri ke-369 berjasa sebagai pahlawan rasial historis dan simbol individu dari potensi kemampuan orang kulit hitam dalam memerangi dan mengalahkan serangan rasial kulit putih,” tulis Chad L Williams dalam Torchbearers of Democracy: African American Soldiers in the World War I Era.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Komentar anda
Para serdadu kulit hitam AS di Prancis saat berlatih menembak
Para serdadu kulit hitam AS di Prancis saat berlatih menembak