Pilih Bahasa: Indonesia

Mengembalikan Sejarah ke Publik

Sejarah publik melibatkan para pedagang buah dan pekerja pembangkit listirk.
Paul Ashton, profesor pada University of Technology Sydney (kiri).
Historia
pengunjung
4.4k

TIGA bersaudara dari Salina, Italia, tiba di Sydney, Australia pada musim dingin tahun 1880. Iklim di sana sangat berbeda dari Italia. Lebih dingin dan berangin. Tapi mereka tetap berusaha membangun mimpinya: hidup lebih baik. Jeli melihat peluang, mereka berjualan bebuahan dengan mendirikan toko di sebuah tepi jalan di Sydney. Meski ramai pengunjung, toko itu hanya bertahan tiga tahun.

Mereka memilih kembali ke Italia. Menyerah lantaran iklim yang tak bersahabat. Beberapa tahun kemudian, orang Italia lainnya kembali membuka toko bebuahan. Bertahan lebih lama dari pendahulunya. Selama puluhan tahun, toko itu memengaruhi cara makan, hidup, dan berpikir orang Australia. Hingga kini, warga Sydney merawat dan membanggakan toko itu. “Ini semua karena peran sejarah publik,” tutur Paul Ashton, profesor pada University of Technology Sydney, dalam seminar internasional tentang sejarah publik di Universitas Indonesia, 26-27 September 2012.

Sejarah publik bukan barang baru di Australia. Di sana sejarah publik dipahami sebagai cara sejarawan menghadirkan dan mengembalikan masa lalu kepada masyarakat. Sebab, masyarakatlah pemilik sah masa lalu, bukan sejarawan.

Karena itu, sejarah publik memberikan peran yang besar pada masyarakat dalam membangun kembali sejarahnya. “Di Australia, saya merancang beberapa program sejarah publik, salah satunya sejarah toko buah orang Italia di Sydney,” ujar Paul. Dia memulainya sejak 2001.

Untuk mengerjakan proyeknya, Paul menghubungi para pemilik toko buah di Sydney yang berkebangsaan Italia. Mewawancarai mereka dan meminta foto, dokumen, dan arsip keluarga. Sebab, toko buah dijalankan secara turun-temurun.

Hanya keluarga dan warga sekitar yang memiliki pengalaman mengenai toko-toko itu. Sulit mencari arsip mereka di lembaga pemerintah. Tak tercatat. Padahal, kontribusi mereka, sebagaimana diutarakan Paul, sangat besar. Terutama dalam pembentukan masyarakat multikultural Australia.

Dibantu kecanggihan teknologi, Paul lalu membuat situs internet mengenai toko buah di Australia. Dalam situs itu, Paul mempersilakan warga yang mempunyai arsip, foto, dan dokumen lain terkait toko buah itu untuk saling berbagi informasi.

Hasilnya luar biasa. Arsip, foto, dan dokumen yang tercecer di warga bisa dikumpulkan. Bahkan warga ikut mendanai proyek Paul. Maka, jadilah sebuah narasi sejarah yang melibatkan sejarawan dan masyarakat. Tak berhenti sampai di tulisan, Paul dan warga lalu menyelenggarakan eksebisi toko buah orang Italia di Sydney, setahun sekali.

Usai proyek itu, Paul beralih ke sejarah Snowy Mountain. Ini bukan gunung biasa. Di gunung itu, terletak fondasi masyarakat multikultural Australia. Sebuah pembangkit listrik didirikan di gunung itu pada 1949. Tujuannya menyalurkan listrik ke seluruh wilayah Australia Tenggara. “Melibatkan pekerja lebih dari 30 bangsa, pembangkit ini menjadi monumen hidup multikultural Australia,” kata Paul.

Untuk menghadirkan kesadaran itu, Paul bersama lembaganya, Public History Center, mengumpulkan foto-foto pembangunan pembangkit itu. Tampak banyak pekerja dari beragam bangsa bekerja sama menghidupkan Australia Tenggara. Foto-foto itu dapat dilihat di kompleks pembangkit listrik itu. Dengan demikian, masyarakat Australia dapat mengenali keragaman budaya mereka. Fungsi sejarah menjadi konkret dan nyata.

Berbeda dari Australia, sejarah publik baru dikenal setelah reformasi. Sebelum reformasi, sejarah hanya ditulis untuk kepentingan penguasa. Tafsir tunggal sejarah dipegang pemerintah. “Rakyat seolah tak mempunyai sejarah. Sejarah dimiliki kaum pemenang,” kata Bondan Kanumoyoso, doktor sejarah jebolan Leiden University, yang hadir sebagai penanggap. Ini membuat sejarah tak mempunyai banyak fungsi bagi masyarakat. Barulah ketika keran kebebasan terbuka, sejarah ditafsir ulang.

Tema-tema kecil bermunculan. Misalnya, bagaimana rakyat mengkritik pemerintah lewat pelesetan. Saat Orde Baru berkuasa, beredar pelesetan kritis menyangkut P4 (Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila). Tapi banyak mahasiswa dan intelektual memelesetkan menjadi Pergi Pagi Pulang Pegel. Meski terkesan remeh-temeh, tema seperti ini dapat mengungkap pandangan masyarakat terhadap Orde Baru.

Ini terkadang luput dari catatan. “Arsip Nasional tak mungkin mencatat ini,” terang Mona Lohanda, arsiparis terkemuka Indonesia. “Sejarawan harus mulai mengumpulkan catatan ini. Termasuk humor kritis. Tentu bekerja sama dengan masyarakat. Ini namanya memori kolektif,“ lanjut Mona. Memori kolektif sering tak diacuhkan. Padahal, di sinilah sejatinya letak sejarah masyarakat.

Pembicara lainnya, Manneke Budiman, ahli linguistik, juga berpendapat serupa. “Kini sejarah jadi lebih cair. Tak ada yang bisa mendominasi. Tiap orang bisa membangun sejarah lewat memorinya.” Dia mencontohkan kemunculan milis dan situs internet yang menjadi narasi alternatif. “Ada juga sumber-sumber sejarah seperti foto yang selama ini jarang kita ketahui,” kata Manneke. Semua usaha itu tak hanya datang dari sejarawan, tapi juga dari publik. Dan ini memperkaya pemahaman publik terhadap sejarah bangsanya.

Lantaran itu, tujuan sejarah publik untuk mengembalikan daulat sejarah pada masyarakat hanya bisa tercapai lewat kerja bersama sejarawan dan masyarakat. “Masyarakat di sini artinya luas. Bisa media, sekolah, lembaga penelitian, kampus, perusahaan, dan museum,” tutur Susanto Zuhdi, profesor sejarah Universitas Indonesia. “Jangan lagi penelitian sejarah itu tersimpan di laci akademis,” lanjutnya. Dengan demikian, pertanyaan apa guna sejarah menjadi tak relevan lagi di masa sekarang.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Paul Ashton, profesor pada University of Technology Sydney (kiri).
Paul Ashton, profesor pada University of Technology Sydney (kiri).