Pilih Bahasa: Indonesia

Jalan Propaganda

Sebuah jalan dan bangunan di salah satu sudut kota Roma. Sarat makna dan nilai historis.
Historia
Historia
pengunjung
4.7k

ROMA, Italia. Sebuah bangunan tua bergaya baroque berdiri dekat sebuah lapangan di Spagna. Berlantai enam dan berdinding batu, dengan begitu banyak jendela dan pintu. Ukuran jendelanya bervariasi; mayoritas berbentuk kotak, beberapa di antaranya memiliki lengkungan di bagian atas. Sementara semua pintunya berbagian atas lengkung.

Meski menyambung, bangunannya terdiri dari dua bagian: satu membentang dari barat ke timur, satu lagi dari selatan ke utara. Arsitek bangunan yang menghadap Piazza di Spagna adalah Gianlorenzo Bernini, sedangkan satunya Fransesco Borromini –menggantikan Bernini pada 1644. Dinding bangunan yang diarsiteki Bernini berwarna krem sedangkan yang diarsiteki Borromini berwarna merah bata.

Bangunan tersebut dibangun kali pertama pada 1622 atas prakarsa Paus Gregory XV. Di bangunan inilah markas de Propaganda Fide, perkumpulan suci untuk penyebaran agama Katolik, terletak.

Tak jauh dari markas de Propaganda Fide, di selatannya terdapat sebuah jalan yang memanjang dari utara ke selatan. Namanya Via di Propaganda. Lebarnya tak terlalu besar. Dua pedestrian kecil selebar kira-kira dua meter mengapit kedua bahunya. Deretan bangunan bertingkat memagari kiri-kanan jalan; gerai sepatu, hotel, rumah makan, toko cinderamata, dan sebagainya.

Area di Jalan Via di Propaganda merekam pertarungan keyakinan di masa lalu. Ini bermula dari beberapa abad silam ketika pengaruh Protestanisme telah keluar dari daratan Jerman. Kedudukan gereja terancam. Paus lalu memprakarsai gerakan untuk membendung pengaruh Protestanisme.

Protestan mulai berkembang pada abad ke-6. Pionirnya Martin Luther, seorang biarawan Katolik dari Ordo Santo Agustinus sekaligus guru besar di Universitas Wittenberg di Jerman sebelah timur. Di mata gereja Katolik, dia seorang yang berbalik menjadi bidah. Luther sendiri, “secara mendalam tak senang akan apa yang dilihatnya sebagai dominasi Italia terhadap gereja, ‘kekuatan magic’ gereja dan komersialisasinya,” tulis Asa Briggs dalam Sejarah Sosial Media.

Dia mengkritisi gereja, menganggap ajaran-ajaran Kristen yang dibawa gereja sudah jauh melenceng dari Alkitab. Dia menyodorkan bukti-bukti: moralitas orang-orang gereja sangat rendah, perzinahan di mana-mana, dan korupsi yang begitu akut. “Luther menantang kepausan dengan mengajukan argumentasi bahwa satu-satunya sumber otoritas agama adalah kitab suci itu sendiri, bukan di tangan pejabat-pejabat gereja,” tulis Jonathan Gabay dalam Soul Trader, Para Pedagang Jiwa.

Luther memusatkan gerakannya di universitas tempat dia mengajar dan tinggal. Luther juga bekerjasama dengan Lufft dan Lotter, yang menyebarkan gagasan-gagasannya dalam bentuk barang cetakan. Gagasannya segera menyebar ke timur laut Jerman, sementara di wilayah barat daya gagasan Zwingli lebih dominan.

Menurut Jonathan Gabay, Luther merupakan salah seorang yang pertama menggunakan propaganda untuk menyampaikan pesan-pesan. Bentuk propagandanya beragam. Selain lewat tulisan dan khotbah, dia menggunakan media visual dan audio. Dia membuat poster, pamflet, lukisan, parodi, pentas di teater jalanan, dan menciptakan lagu-lagu agama –salah satu yang terkenal berjudul Ein’ feste Burg ist unser Gott (Benteng Pertahanan yang Kokoh adalah Tuhan Kita).

“Dia mengambil banyak bentuk yang berbeda di lingkungan yang berbeda pula, dari khotbah dan kuliah di gereja dan universitas hingga desas-desus dan kabar angin di pasar dan kedai kopi,” tulis Briggs.

Gereja Katolik Roma, yang merasa terancam, mulai membenahi diri. Mereka meningkatkan sistem pengajaran terhadap penduduk-penduduk asli di wilayah yang mereka temukan. Institusi-institusi pendidikan diperkuat. Pada 1622, di bawah Paus Gregory XV, mereka membentuk lembaga formal yang lebih kokoh. Menurut Garth S. Jowett, Garth Jowett, dan Victoria O′Donnell dalam Propaganda and Persuasion, Vatikan mendirikan Sacra Congregatio de Propaganda Fide, yang artinya perkumpulan suci untuk menyebarkan keyakinan Gereja Katolik Roma. Markasnya di dekat Spagna, Roma, tak jauh dari Jalan Via di Propaganda.

“Sacred Congregation for the Propagation of the Faith (Propaganda Fide) didirikan untuk menyadarkan kembali jiwa-jiwa yang hilang ke Protestanisme di Eropa dan untuk membawa gospel ke tanah-tanah tak bertuan (tempat para penyembah berhala),” tulis Donald F. Lach, Edwin J. Van Kley dalam Asia in the Making of Europe, Volume III: A Century of Advance.

Awalnya, Propaganda Fide merupakan sebuah lembaga yang terdiri dari 13 kardinal, dua wali gereja, dan seorang sekretaris, yang mengadakan rapat tiap bulan. Juan Bautista Vives, seorang promotor pendidikan, mendonasikan Palazzo Ferrantini di Piazza di Spagna dan kekayaannya untuk membentuk Yayasan Urban College (disebut juga College of Propaganda).

Sesuai nama dan tujuan pendiriannya, Gereja Katolik menggunakan propaganda untuk mencapai maksudnya. Propaganda Gereja Katolik Roma tak sevariatif Protestan. Minim tulisan; pamflet maupun poster. Pengajaran tetap menjadi perhatian penting. Seiring waktu, menurut Carl Russell Fish dalam Guide to the Materials for American History in Roman and Other Italian Archives, “tugas Propaganda tak hanya mengurusi orang kafir. Faktanya, juga menangani perburuhan dan urusan duniawi.”

“Dengan terbentuknya Propaganda Fide, seluruh pelayanan Gereja Katolik Roma di antara orang-orang non-Katolik dengan teguh dan sepenuhnya diserahkan kepada paus,” tulis David J. Bosch Transformasi Misi Kristen.

Dampak perang propaganda Katolik-Protestan sangat banyak. Yang mencolok, ia mempengaruhi penggunaan barang cetakan, variasi, teknik, dan metodenya untuk kebutuhan propaganda –istilah yang sejak abad ke-20 memiliki konotasi negatif.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Komentar anda
Historia
Historia