Pilih Bahasa: Indonesia

Hiu Taklukkan Angkatan Laut AS

Sebuah "pertempuran" lain dalam Perang Pasifik.
 
Evakuasi korban selamat dari insiden USS Indianapolis.
Foto
Historia
pengunjung
5.4k

Loel Dean Cox ingat betul suasana ketika kapal tempatnya bertugas, USS Indianapolis (CA-35), dihantam torpedo kapal selam Jepang pada dini hari 30 Juli 1945. “Ada air, puing, api, semuanya terlempar ke atas dan kami berada 81 kaki dari garis air,” ujarnya, sebagaimana dilansir dailymail.co.uk.

Ketika pria yang waktu itu masih berusia 19 tahun tersebut langsung berlutut tak lama kemudian, torpedo kedua kembali menghantam kapal yang sedang membawa misi khusus itu. USS Indianapolis, yang berada di perjalanan antara Guam-Leyte, Filipina, langsung terbelah dua.

Sinyal SOS yang dikirim USS Indianapolis ke markas Angkatan Laut Amerika Serikat (AL AS) sebelum kapal itu tenggelam tak mendapat respon. AL, yang amat ceroboh lantaran gagal mendeteksi masih aktifnya kapal selam Jepang di perairan itu dan sengaja melepas USS Indianapolis tanpa pengawalan, menganggap sinyal itu merupakan jebakan Jepang.

Sekira 900 dari 1100-an awak pun langsung menyelamatkan diri. “Orang-orang langsung terjun dari buritan, dan Anda bisa lihat keempat turbin kapal masih berputar,” ujar Cox. Sebagian dari mereka tertampung di sekoci-sekoci, sementara yang lain mengambang dengan jaket pelampung dan banyak dari mereka bertahan tanpa alat bantuan apapun –bahkan ada yang tak berpakaian. Dengan membentuk kelompok-kelompok, mereka mengambang di kegelapan malam laut yang penuh hiu itu. Mereka berharap regu penyelamat datang saat hari terang.

Beberapa di antara mereka yang terluka, baik luka bakar maupun patah tulang. Perwira medis Dokter Haynes, tak bisa berbuat banyak dan jadi frustrasi karena tak ada obat untuk digunakan. Akibat syok, banyak di antara yang menderita luka bakar dan patah tulang itu lalu tewas di jam-jam pertama.

Namun ketika matahari mulai terang, regu penyelamat tak kunjung tiba. Justru masalah mulai menghinggapi. Tumpahan minyak kapal mereka yang menutupi air membuat mata dan hidung mereka merasa terbakar dan leher tercekik. Sebelum matahari naik ke cakrawala Senin pagi, sekira 50 orang di antara mereka meregang nyawa.

Ombak besar yang datang pada siang membuat mayoritas dari mereka menelan air laut yang telah tercemar minyak. “Semuanya muntah. Rasa haus mulai menghinggapi orang-orang itu,” tulis Raymond B Lech dalam The Tragic Fate of the USS Indianapolis: The US Navy’s Worst Disaster. Dehidrasi dan lapar yang mereka derita kemudian menyebabkan photophobia dan delusi.

“Terkadang seluruh kelompok memiliki halusinasi yang sama. Dalam satu kasus, sebuah kelompok bermalam pada suatu malam dan kembali keesokan paginya, mengklaim bahwa Indianapolis tidak tenggelam. Mereka mengatakan bahwa mereka telah naik ke atasnya sepanjang malam, minum air dan susu. Orang-orang lain mempercayai mereka dan berenang bersama mereka. Mereka tidak pernah terlihat lagi,” tulis Marc T Nobleman dalam The Sinking of the USS Indianapolis.

Namun, bahaya baru datang kemudian. Hiu-hiu datang menghampiri mereka, dan memakan mayat-mayat. Seorang marinir, Giles McCoy, melihat seekor hiu menyerang mayat yang ada di dekatnya. Jumlah ikan karnivora itu bertambah saat matahari mulai tenggelam.

Para pelaut mulai ketakutan. “Orang-orang yang diteror dalam air, banyak di antaranya bisa merasakan tekstur kasar kulit hiu yang menggores kaki mereka, tidak yakin harus melakukan apa,” tulis Dan Kurzman dalam Fatal Voyage: The Sinking of the USS Indianapolis. Mereka lalu menendang, memukul, dan membuat kegaduhan untuk mengusir hiu-hiu yang mendekat. Tapi upaya itu hanya berhasil pada saat-saat awal. Hiu-hiu itu pun kemudian memangsa orang-orang yang masih hidup secara tiba-tiba.

“Hiu-hiu itu kemudian menjadi lebih berani dan menyerang orang-orang secara acak dalam kelompok yang lebih besar,” kata penyintas Lyle M Pasket, sebagaimana dimuat dalam The Sinking of the USS Indianapolis. “Sepertinya hiu itu pintar.”

Kian banyaknya serangan hiu membuat darah yang tumpah ke laut semakin banyak. Bau anyir darah semakin memancing hiu-hiu untuk datang. Setiap malam, tiga sampai empat pelaut hidup jadi mangsa hiu-hiu itu.

“Di air yang jernih itu Anda bisa melihat hiu-hiu berputar-putar. Lalu sesekali, bak kilat, seekor langsung naik dan mengambil seorang pelaut dibawa ke dalam. Seekor hiu datang dan mengambil pelaut di sampingku,” kata Cox.

Keadaan mengerikan itu berlangsung hingga hari keempat. Malam menjelang pergantian dari hari keempat ke hari kelima, mereka ditemukan oleh pilot AL Letnan Wilbur C Gwinn yang sedang melakukan patroli rutin menggunakan pesawat PV-1 Ventura. Melihat banyaknya orang di atas air, Gwinn segera mengontak pangkalannya di Peleiu. Sebuah pesawat amfibi di bawah komando Letnan Adrian Marks langsung dikirim untuk membantu. Marks mengontak kapal destroyer USS Cecil Doyle (DD-368) untuk datang membantu, dan permintaannya berhasil. Sekira 300-an pelaut dan marinir USS Indianapolis yang tersisa akhirnya berhasil diselamatkan.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Evakuasi korban selamat dari insiden USS Indianapolis.
Foto
Evakuasi korban selamat dari insiden USS Indianapolis.
Foto