Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Hasrat Amerika Menguasai Niaga Lada di Sumatera

Bermula dari hasrat untuk mengeruk laba dari niaga lada di Sumatera, Amerika beranjak lebih jauh ke dominasi politik-dagang di mana-mana.
Replika kapal Friendship. Setelah kapal aslinya tidak ditemukan, Amerika Serikat membuat replika kapal bersejarah itu untuk museum.
Foto
Historia
pengunjung
2.4k

Tak terima kapal niaganya, Friendship, dibajak, senator sekaligus pengusaha Aaron Waite komplain kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Andrew Jackson. Pemerintah langsung mengirim kapal perang Potomac, yang berangkat dari pelabuhan New York pada 21 Agustus 1831.

Kapal berkekuatan senjata 44 meriam itu berlayar lebih dari 20 ribu mil menuju Sumatera. Di perairan teramai sepanjang era perdagangan rempah itulah kapal Friendship mengalami nahas dibajak oleh kawanan bajak laut Sumatera.

Lezatnya Laba Lada

Kehadiran kapal-kapal niaga AS di perairan Sumatera, mulai Aceh hingga Bengkulu, ikut meramaikan perniagaan rempah dunia, yang pusatnya di Selat Malaka. Jonathan Carnes, seorang pelaut asal Salem, Massachusetts memelopori keterlibatan AS dalam perniagaan rempah dunia dengan pelayarannya langsung ke Bengkulu pada 1793. Dalam kunjungan untuk mempeluas areal perdagangannya itu, dia mendapat pelajaran bahwa rempah, terutama lada, merupakan komoditas paling baik untuk mengeruk laba.

Setelah selesai membuat kapal Rajah berbobot 130 ton, Carnes memulai perniagaan itu dengan modal dua pipe (satu pipe setara empat galon) brandy, 58 kotak gin, 12 ton besi, tembakau, salmon, dan masih banyak komoditas lain. “Delapan belas bulan kemudian, kapal itu kembali dengan sebagian besar muatan lada yang menuai keuntungan 700 persen,” tulis Fred Czarra dalam Spices: A Global History.

Pelayaran itu menarik perhatian orang-orang Salem. Setelah bersusah payah mencari tahu lokasi yang dirahasiakan Carnes, banyak orang Salem lain kemudian terjun dalam perniagaan rempah. “Pada 1795, kapal-kapal dari Salem menemukan jalan menuju pusat perkebunan lada yang besar dan masih baru di wilayah yang kini termasuk ke Aceh selatan, yakni pantai yang terletak antara Susoh (waktu itu disebut Susu) dan Trumon. Hingga 1803, pantai tersebut menghasilkan sekitar 5000 ton lada, dan sebagian besar dikirim ke New England,” tulis Anthony Reid dalam Sumatera Tempo Doeloe.

Banyak pebisnis Amerika, terutama dari Salem, yang terjun dalam perniagaan rempah dengan Sumatera. Hal itu ditunjang oleh adanya kerja sama dengan Aceh yang kala itu merupakan entitas politik terpenting di Sumatera. Simbiosis mutualisme terjadi di antara keduanya. “Kerajaan Aceh menjadi kekuatan utama di dalam perniagaan rempah di Tenggara, dengan penolakan invasi Belanda dan menjalin hubungan dagang dengan para niagawan asal Salem,” tulis buku berjudul Liberty, Equality, Power: History of the American People, Compact Edition.

Wanginya laba dari niaga lada membuat pelayaran pantai timur Amerika-Sumatra kian meningkat. “Sepanjang lebih dari tiga perempat abad sejak timbulnya niaga itu, hampir 1000 pelayaran antara Salem dan Sumatera di Hindia Timur. Salem tercatat menjadi pelabuhan lada untuk dua sisi Atlantik, pada paruh pertama abad ke-19. Salem tak hanya mensuplai lada hitam ke pantai timur AS tapi juga ke Eropa,” lanjut Czarra.

“Amerika menjadi penyedia utama lada bagi Eropa,” tulis Reid.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 35 Tahun 3
Kuliner Nusantara Rasa dan Cerita
Kali ini kami menyajikan kisah tentang makanan, tentang citarasa nusantara yang merentang sejak zaman dahulu kala. Tak hanya tentang masakan..
 
Replika kapal Friendship. Setelah kapal aslinya tidak ditemukan, Amerika Serikat membuat replika kapal bersejarah itu untuk museum.
Foto
Replika kapal Friendship. Setelah kapal aslinya tidak ditemukan, Amerika Serikat membuat replika kapal bersejarah itu untuk museum.
Foto