Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Enam Pelaut Amerika di Perang Pasifik yang Menjadi Presiden

Serangan Jepang membuat mereka bergabung dengan Angkatan Laut. Mereka kemudian terjun ke politik hingga menjadi presiden Amerika Serikat.
Kiri (atas)-kanan (bawah): John F. Kennedy, Lyndon B. Johson, Richard Nixon, Gerald R. Ford, Jimmy Carter, dan George HW Bush.
Historia
pengunjung
3.9k

Serangan Jepang terhadap pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii, pada 7 Desember 1941, menyebabkan pecahnya Perang Pasifik. Kedua negara mengerahkan sebagian besar kekuatan militernya untuk saling mengalahkan.

Sebelum masuk ke perang darat, pertempuran laut dan udara mendominasi hingga akhir perang. Berbagai jenis kapal perang dan pesawat dikerahkan kedua belah pihak, mulai yang usang hingga keluaran terbaru. Pun para kombatan. Amerika Serikat tak hanya mengerahkan pasukan reguler tapi juga wajib militer. Ada yang sebagai marinir, ada juga yang pelaut.

Di antara ribuan pelaut itu, enam di antaranya kemudian menjadi presiden. Siapa saja keenam pelaut itu?

John F. Kennedy

Lantaran tulang belakangnya bermasalah, Kennedy gagal masuk sekolah Angkatan Darat pada 1940. Namun, upaya pemulihan berhasil membuatnya masuk Angkatan Laut dan bergabung dalam US Naval Reserve. Tak lama setelah masuk Naval Reserve Officer Training School, dia mendapat tugas pertamanya di Panama. Tugas selanjutnya sebagai komandan beberapa kapal patroli torpedo selama Perang Pasifik. Kapal patroli PT-109 yang dipimpinnya mengalami kerusakan ketika patroli malam di perairan Kepulauan Solomon.

“Awak PT-109 tak bisa meyakinkan diri apakah sebentuk gelap di depan mata adalah kapal musuh, tipuan cahaya, atau kapal PT lain,” tulis Catherine Corley Anderson dalam John F. Kennedy. Destroyer Jepang, Amagiri, tiba-tiba berada di kanan PT-109 dan menabrak kapal cilik itu. PT-109 terbelah dan terbakar, dua orang meregang nyawa.

Kennedy terlempar dan punggungnya hampir patah. Dia dan sepuluh personel yang selamat berkerumun di haluan yang masih mengambang, lalu berenang ke pulau terdekat. Dia memotong tali pelampung yang dipakai McMahon yang terluka bakar parah, dan menggigitnya kuat-kuat. Dengan McMahon di punggungnya, dia berenang menuju pulau terdekat.

“Mengabaikan rasa sakit di punggungnya, Jack (Kennedy) akhirnya mencapai pantai berkarang,” lanjut Catherine. Sesampainya di pula terdekat, ternyata tak ada tanaman dan air. Dalam keadaan lapar dan haus, mereka berenang menuju Plum Pudding Island dan Ferguson Passage, juga tak ada apa-apa. Mereka mendapatkan pohon kelapa di Pulau Olasana, tapi tetap tak ada makanan.

Kennedy dan Barney Ross berenang ke Pulau Naru dan mendapat air hujan, sekotak besar permen, dan kano yang ditinggalkan pengintai lokal. Setelah semua kru berkumpul di Pulau Naru, dia membuat tulisan pada buah kelapa. Tanpa diketahuinya, para personel juga melakukan hal sama. Pesan buah kelapa itu sampai kepada Letnan Reginald Evans, penjaga pantai asal Australia. Evans mengirim anak buahnya menggunakan kano dengan membawa barang-barang kebutuhan dan pesan untuk Kennedy. Para kru PT-109 pun selamat.

Selesai mendapat perawatan dan pulih dari cedera punggung, Kennedy kembali ke medan tempur pada awal September 1943. Sebulan kemudian, pangkatnya naik menjadi letnan dan ditugaskan sebagai komandan kapal PT-59. Sempat menyelamatkan 87 Marinir yang terdampar di dua kapal yang ditahan Jepang, dia diperintahkan pulang lantaran cedera. Dia menjalani perawatan selama tahun 1944. Setelah pulih, dia dibebastugaskan pada akhir 1944.

Pada 12 Juni 1944, Kennedy dianugerahi Navy and Marine Corps Medal atas tindakan heroiknya pada 1-2 Agustus 1943 dan Purple Heart Medal atas cedera parah yang dideritanya. Usai perang, dia sempat menjadi koresponden khusus Hearst Newspapers. sebelum terjun ke dunia politik untuk memenuhi keinginan ayahnya.

Kennedy memulai kariernya sebagai anggota House of Representatives. Keberanian dan gagasan-gagasan cerdas membuat karier politikya melejit. Namun, kesehatannya sempat menghambat kariernya. Dalam masa penyembuhan tahun 1956, dia menerbitkan biografi Profiles in Courage yang memenangkan Pulitzer Prize kategori biografi. Dia kembali menapaki dunia politik setelah kesehatannya berangsur pulih. Dia berhasil mencapai puncak karier sebagai presiden meski singkat.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 35 Tahun 3
Kuliner Nusantara Rasa dan Cerita
Kali ini kami menyajikan kisah tentang makanan, tentang citarasa nusantara yang merentang sejak zaman dahulu kala. Tak hanya tentang masakan..
 
Kiri (atas)-kanan (bawah): John F. Kennedy, Lyndon B. Johson, Richard Nixon, Gerald R. Ford, Jimmy Carter, dan George HW Bush.
Kiri (atas)-kanan (bawah): John F. Kennedy, Lyndon B. Johson, Richard Nixon, Gerald R. Ford, Jimmy Carter, dan George HW Bush.