Pilih Bahasa: Indonesia

Bukan Chungking Express

Demi menguasai China, militer Jepang membombardir ibukota sementara Chungking.
Historia
Historia
pengunjung
3k

CHUNGKING (kini Chongqing) pada 1891 merupakan pelabuhan darat komersial pertama di China. Ia menjadi pusat perdagangan dan distribusi barang. Kapal-kapal yang menuju ke sana akan membelah Sungai Yangtze dan melewati ngarai yang indah. Tak heran jika ia dikenal sebagai “kota gunung” dan “kota sungai”.

Tapi di daratan, keindahan itu lenyap. Saat kali pertama bertugas di sana, A.T. “Arch” Steele, koresponden New York Herald Tribune, Chicago Daily News, dan New York Times di China pada 1932-1950, menggambarkan situasi yang mencekam. Letaknya terpencil. Miskin. Rumah-rumahnya kumuh. Makanannya sangat menakutkan. Air hanya bisa diperoleh dari Sungai Yangtze, dengan mengambilnya menggunakan ember kayu.

Di malam hari, menurutnya, hampir tak ada keramaian selain suara tikus-tikus yang kelayapan. Sepanjang musim hujan, keindahan alam hampir tak terlihat selama berpekan-pekan. Awan-awan begitu rendah. Udara basah, kelembaban sangat tinggi. Semuanya licin, dingin, basah, dan berlumut. Hidup di Chungking teramat sulit.

Chungking menarik perhatian dunia sebelum dan selama Perang Dunia II. Kota terpencil ini punya arti penting ketika Hankow jatuh ke tangan Jepang pada Oktober 1938; menyusul kejatuhan kota-kota besar lainnya di China: Shanghai, Nanjing (kini Nanking), dan Wuhan. Jenderal Chiang Kai Shek menjadikan Chungking sebagai ibukota sementara (capital in wartime). Banyak sekolah dan pabrik ikut dipindahkan. Sejak itu, kesunyian lenyap; suasana sontak berubah ramai ketika bomber-bomber Jepang mulai menyerang Chungking pada 3 Mei 1939.

Bermula pada awal 1930-an, setelah negeri Sakura menginvasi Mansuria, kedua negara terlibat dalam banyak pertempuran. Namun skalanya terbatas dan tanpa deklarasi perang sehingga sering disebut insiden semata. Bagi China, insiden demi insiden tetap merupakan pendudukan. Satu per satu wilayahnya dikuasai Jepang. Jepang ingin mendominasi China secara politik, ekonomi, dan militer untuk menjaga cadangan bahan baku dan sumberdaya alam di sana.

Pada 1937, Jepang menyerang titik penting akses menuju Beiping (kini Beijing), yang dikenal dengan “Marco Polo Bridge Incident”. Dimulailah perang besar-besaran, Perang China-Jepang II, yang berlangsung hingga Perang Dunia II berakhir. Perang ini dianggap sebagai perang Asia terbesar pada abad ke-20.

Beiping dan Tianjin lepas. China terus tergusur sehingga pemerintah nasionalis Chiang Kai Shek masuk Chungking –sementara kaum komunis membangun kekuatan dan melancarkan perang gerilya di garis perbatasan yang diduduki Jepang. Kota ini pun menjadi sasaran Jepang dan porak-poranda karena dibombardir. Diperkirakan Jepang melakukan sekira 5.000 pemboman, dengan lebih dari 11.500 bom dijatuhkan, termasuk bom pembakar. Kebakaran hebat melanda kota, menghangus rumah penduduk dan fasilitas-fasilitas sipil. Penduduk berlindung di lorong-lorong perbukitan –yang mengurangi jumlah penduduk yang tewas. Mereka baru keluar ketika suara gemuruh pesawat musuh menghilang.

“Antara akhir 1938 dan pertengahan 1939 populasi Chungking, sebuah kota provinsi tua yang menjadi target tetap AU Jepang, meningkat dari 200.000 hingga lebih satu juta,” tulis Jacques Gernet dalam A History of Chinese Civilization.

Melihat situasi itu, Chiang Khai Shek menyarankan agar warga sipil mengungsi. Menteri Urusan Perang dan Kepala Staf Umum Jenderal Ho Ying Ching mendapat tugas untuk menangani pengungsi. Pada 10 Mei 1939 keluar maklumat pemerintah: para penduduk, terutama perempuan dan anak-anak, harus menyingkir. Pos-pos untuk para pengungsi didirikan di beberapa titik di luar kota.

Para petinggi juga memutuskan mendermakan uangnya untuk para pengungsi minimal sebulan gaji. Perserikatan Anti Fasis di Jepang, Korea, dan Formosa bersimpati atas nasih warga Chungking dengan mendermakan uang 300 dolar. Chiang sendiri, tulis Sin Po, 6 Mei 1939, “mengeluarkan 1 juta dolar buat kasih pertolongan pada pelarian-pelarian dari Chungking.”

Bagi orang-orang Tionghoa di Jawa, palagan Chungking punya tempat khusus. Sin Po, suratkabar Tionghoa berbahasa Melayu, selalu memberitakan kondisi aktual di sana. Bahkan Sin Po mendorong penggalangan dana untuk membantu rakyat Chungking. Pemerintahan Chungking juga berkomunikasi dengan orang-orang Tionghoa di Jawa, termasuk mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia. Antara lain dengan Organisasi Rahasia Chungking (Chung Yang Hai Wei Thing Chin) –organisasi bawah tanah Tionghoa yang didirikan untuk menyabotase berbagai instalasi milik Jepang.

Jepang tak mengurangi intensitas serangannya. Instalasi-instalasi militer dan konsulat negara lain juga menjadi sasaran. Sempat muncul anjuran agar Chiang Kai Shek memindahkan ibukota ke Chentu, 30 mil timur Chungking. Tapi Chiang dan pasukannya tetap bertahan dan melakukan perlawanan.

China berperang sendiri melawan Jepang. Setelah Jepang mengebom Pearl Harbor pada 1941, barulah Sekutu ikut membantu China dan membawa perang ini sebagai bagian dari Perang Dunia II. Karena Chungking terisolasi, Sekutu harus membebaskan Burma, satu-satunya jalan buat pengiriman bantuan militer ke pemerintahan Chiang Kai Shek. Amerika melatih dan melengkapi pasukan China. Chiang Kai Shek sendiri bersedia mengirimkan tiga divisi terbaiknya dan memperbesar jumlah pasukan Sekutu di Burma menjadi 81.000 personil.

Jenderal-jenderal Chiang dikenal pemberani dan tangguh. Jenderal Tai An Lan, komandan Divisi 200, mempertahankan kota Taoungoo selama 12 hari. Jenderal Sun Li Jen, komandan Divisi 38, berhasil memukul tentara Jepang dan membebaskan pasukan Sekutu yang tedesak dan terjepit di Yanangyaung. Tapi tentara Jepang terlalu superior. Burma jatuh pada Mei 1942; dan lengkaplah isolasi China dari sekutunya –kecuali melalui udara.

Menurut Peng Koen Auwjong dan R.B. Sugiantoro dalam Perang Pasifik, Jepang menaruh harapan bahwa perang di China bisa cepat berakhir dengan perdamaian yang terpisah. Jepang merasakan sekali bahwa pada pertengahan tahun 1942 itu paling sedikit 600.000 pasukannya tertahan oleh perlawanan rakyat China. Agar bisa menggunakan pasukannya di medan perang lain, Jepang ingin mencapai persetujuan dengan Chungking. Tapi Chiang Kai Shek menolak.

Karena fokus pada Burma, pemboman terhadap Chungking mulai mereda pada 1941. Sejumlah penduduk mulai kembali ke Chungking. Tapi kondisi Chungking masih mengenaskan. Sulit untuk membangun kehidupan baru, seperti dirasakan Wang Shufen, perempuan dari keluarga petani miskin. Dia dan suaminya mulai bisnis kecil-kecilan dengan berjualan sayuran dan buah, tapi inflasi sangat tinggi. Uang kertas tak berlaku. Apapun harus dibayar dengan dolar emas atau dolar perak. “Kami terus-terusan kelaparan dan kehausan,” ujarnya, sebagaimana ditulis Danke Li dalam Echoes of Chongqing: Women in Wartime China.

Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, berakhir pula status Chungking sebagai ibukota sementara. Tapi pemboman Chungking masih menyisakan luka hingga beberapa dekade kemudian. Pada 2006, 40 warga China yang terluka atau kehilangan anggota keluarga selama pemboman di Chungking menggugat pemerintah Jepang sebesar 10 juta Yen dan meminta maaf. “Dengan gugatan ini kami ingin orang-orang Jepang tahu tentang pemboman Chongking,” kata salah seorang korban, seperti dikutip The Japan Times online, 31 Maret 2006.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Komentar anda
Historia
Historia