Pilih Bahasa: Indonesia
Film | halaman 3

Begum Jaan Menolak Tunduk

Pahit getir pemisahan India-Pakistan dari pandangan seorang germo. Gagal berbunyi justru karena sesak oleh pesan.
 
Judul: Begum Jaan | Sutradara: Srijit Mukerji | Pemain: Vidya Balan, Gauhar Khan, Pallavi Shrada, Mishti, Naseerudin Shah, Chunky Pandey, Ila Arun, Ashish Vidyarthi, Rajit Kapoor, Sumit Nijhawan | Produser: Vishesh dan Mukesh Bhatt | Produksi: Vishesh Films, Shree Venkatesh Films, Play Entertainments | Rilis: April 2017.
Historia
pengunjung
5.6k

Gagal Berbunyi

Rumah bordil Begum Jaan adalah sebuah metafora atas masyarakat India yang multikultur. Lokasi, penghuni, dan pelanggannya adalah gambaran kecil India, di mana orang dari beragam latar etnis, agama, dan kasta berbaur. Rumah bordil itu sedang terancam oleh garis batas yang dibikin secara tiba-tiba dan mengoyak keragaman itu. Dan Begum Jaan menolak tunduk pada partisi itu. Di rumahnya tidak ada Muslim, Hindu, dan kasta.

Menilik gambar-gambar itu, penonton dengan segera dapat mengasosiasikannya dengan pesan humanisme. Tapi, anehnya, sutradara Srijit Mukerji menaruh sebuah adegan berlatar India kekinian di bagian awal filmnya yang memberikan sebuah pesan lain.

Digambarkan sekelompok lelaki mencoba menodai seorang gadis, setelah pacarnya dihajar. Seketika itu muncul sosok perempuan tua yang mencoba melindungi si gadis. Perempuan tua itu lantas meloloskan seluruh pakaiannya, membuat para lelaki yang mengejarnya muak. Mereka lantas berbalik pergi daripada dianggap pengecut karena melawan nenek tua.

Adegan ini dengan jelas bisa dibaca sebagai pesan perlawanan perempuan terhadap kuasa patriarki. Menilik adegan dan dialog saat Begum Jaan menerima Shabnam (Mashti), gadis korban perkosaan dan penelantaran akibat konflik di Punjab, di awal film pun penonton akan dengan mudah mengasosiasikannya dengan pesan feminisme.

Suatu pagi Saleem (Sumit Nijhawan), si penjaga, membawa seorang gadis bermata kosong ke hadapan sang germo. “Dia diperkosa saat kerusuhan terjadi, beberapa pria membuangnya ke pengungsian dalam keadaan kacau. Ayahnya tak mau menerimanya kembali dan meninggalkannya,” kata Saleem.

“Di luar rumahku ini semua orang adalah bajingan. Di dalam rumahku setiap kalian adalah angsa,” timpal Begum Jaan.

Si gadis bermata kosong itu kemudian dinamainya Shabnam (Mishti). Saleem disuruhnya ke kantor polisi, “Jika ada yang mencari gadis ini, katakan bahwa gadis ini dalam perlindungan Begum Jaan.”

Begum Jaan lalu menatap mata kosong Shabnam. Jelas dia dalam keadaan jiwa terpukul oleh kemalangan bertubi-tubi yang menimpanya. “Anakku, kau pasti merasakan kesakitan?” ujar Begum Jaan seraya menampar Shabnam. Lalu dua tamparan dan kemudian tiga. Shabnam bergeming. Begum Jaan menghujani pipi merah Shabnam dengan tamparan. Hingga kemudian matanya mendelik bersama dengan semburan teriakan dan tangis. Shabnam meratap sesenggukan. “Akhirnya semua itu keluar. Hidupmu akan lebih mudah sekarang,” kata Begum Jaan enteng.

Pesan-pesan inilah yang kemudian tumpang tindih dan menjadi musabab Begum Jaangagal “berbunyi”. Ia terlalu sesak oleh pesan-pesan yang saling berebut perhatian. Dan lagi pesan-pesan itu disampaikan dengan cara dangkal dan verbal di beberapa bagian sehingga terkesan menjadi khotbah yang klise.

Bila saja plotnya berjalan dengan mulus, tak ada masalah dengan semua itu. Sayangnya, naskah film ini kedodoran di sana-sini. Perpindahan antaradegan juga terbilang kaku. Lain itu, Vidya Balan membawakan karakter Begum Jaan secara datar. Seakan hanya mengulang apa yang dilakoninya dalam The Dirty Picture (2011), kecuali kini dia lebih fasih mengumpat. Dia tak menggali karakter Begum Jaan lebih dalam selain sebagai germo yang keras hati.

Meskipun begitu, sebagai film berlatar sejarah, acuan peristiwanya sebenarnya manarik dan layak di simak. Juga nisbi dekat dengan persoalan-persoalan yang tengah hangat di Indonesia: bagaimana kita menyikapi intoleransi yang mengemuka dan membikin “garis batas” di antara masyarakat Indonesia yang majemuk.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Judul: Begum Jaan | Sutradara: Srijit Mukerji | Pemain: Vidya Balan, Gauhar Khan, Pallavi Shrada, Mishti, Naseerudin Shah, Chunky Pandey, Ila Arun, Ashish Vidyarthi, Rajit Kapoor, Sumit Nijhawan | Produser: Vishesh dan Mukesh Bhatt | Produksi: Vishesh Films, Shree Venkatesh Films, Play Entertainments | Rilis: April 2017.
Judul: Begum Jaan | Sutradara: Srijit Mukerji | Pemain: Vidya Balan, Gauhar Khan, Pallavi Shrada, Mishti, Naseerudin Shah, Chunky Pandey, Ila Arun, Ashish Vidyarthi, Rajit Kapoor, Sumit Nijhawan | Produser: Vishesh dan Mukesh Bhatt | Produksi: Vishesh Films, Shree Venkatesh Films, Play Entertainments | Rilis: April 2017.