Pilih Bahasa: Indonesia

Yati Aruji Kartini Revolusi

RA Kartini menjadi inspirasi perjuangan Yati. Dia menanamkan semangat juang Kartini kepada para wanita anggota Laswi (Laskar Wanita Indonesia).
Yati Aruji memberikan sambutan dalam Musyawarah Nasional Wirawati Catur Panca di Palembang, 1-3 Juni 1983.
Foto
Historia
pengunjung
1.9k

SUMARSIH Subiyati Aruji Kartawinata, biasa dipanggil Yati Aruji, dilahirkan di Pekalongan pada 1918 dari keluarga pejuang. Lima saudaranya perempuan. Ayahnya, Kadhol, aktif menjadi anggota Syarekat Islam. Sementara Ibu Kadhol mendirikan dapur umum untuk karyawan kereta api dan kantor pegadaian yang tergabung dalam Syarekat Islam ketika mereka melakukan pemogokan menuntut penurunan pajak oleh penguasa Belanda.

Karena aktivitas mereka, dua reserse Belanda berjaga-jaga di depan rumah. Tapi, Kadhol merasa kasihan kepada kedua penjaga itu dan membuatkan “rumah-rumahan” untuk mereka. Tak jarang dia mengajak kedua penjaga itu untuk ngambeng atau kenduri. “Ibu Aruji dan adik-adiknya masih ingat kedua reserse sering pula mendapat dan membawa pulang berkat dari selamatan itu,” tulis Annie Bertha Simamora yang menulis profil Yati Aruji dalam Satu Abad Kartini 1879-1979.

Seingat Euis Sari’ah alias Saartje, anggota Laswi, postur tubuh Yati kecil. “Bicaranya suka campuran Belanda, padahal orang Jawa dari Pekalongan. Kalau Pak Aruji orang Garut,” kata Saartje. Meski bertubuh kecil, “Yati keras dan tegas, mungkin karena tidak punya anak, jadi disiplin sekali. Dia juga keras dalam soal agama, entah orangtuanya atau kakeknya, tokoh PSII.”

Tuti Amir Kartabrata, anggota Laswi, menambahkan. “Kalau Pak Aruji bageur (baik hati) dan merakyat, Yati agak menjaga jarak.” PSII singkatan dari Partai Syarikat Islam Indonesia, di mana Yati dan suaminya aktif di sana.

Aruji Kartawinata lahir di Garut pada 5 Mei 1905. Mulanya dia bekerja di swasta hingga kejatuhan kolonial Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, dia menjadi Daidancho Pembela Tanah Air (Peta) Cimahi. Sejak proklamasi, dia bertugas sebagai komandan Badan/Tentara Keamanan Rakyat dan membentuk Divisi III, cikal bakal Divisi Siliwangi. Dia sempat menjabat menteri muda pertahanan Kabinet Sjahrir II lalu duduk di parlemen hingga 1963. Di PSII, jabatan terakhirnya adalah ketua Dewan PSII merangkap wakil ketua Muslimin Indonesia.

Keluarga Yati sangat terinspirasi oleh perjuangan R.A Kartini. Sehingga ayahnya mendirikan Kartini School di dalam kompleks kabupaten. Sekolah ini didirikan pada 1 November 1916 dengan subsidi dari Vereeniging Kartinifonds, badan penggalang dana yang dibentuk di Den Haag, Belanda pada 26 Februari 1913. Badan ini pula yang mendirikan enam sekolah Kartini lainnya di Semarang, Batavia, Bogor, Malang, Madiun, dan Cirebon. Menurut sejarawan Soekesi Soemoatmaja dalam Sekolah Kartini Suatu Usaha untuk Menyebarkan dan Meningkatkan Kecerdasan Wanita pada Permulaan Abad ke XX, Kartinischool di Pekalongan sejak tahun 1928-1937 mendapat subsidi sebanyak f.5.000 (lima ribu gulden), dengan jumlah murid dari 125 orang menjadi 152 orang pada 1937. (Baca: Kartinischool, Habis Gelap Terbitlah sekolah)

Ketika adik Yati lahir pada 1926, orangtuanya memberi nama Kartini Achiriah. Yati dan Achiriah lalu berkecimpung dalam bidang pendidikan sebagai guru. “Perjuangan Kartini menjadi bahan diskusi dalam keluarga itu,” tulis Annie. Mereka mengkaji perjuangan Kartini mengenai pendidikan, perkawinan muda, emansipasi wanita, kebebasan bangsa, dan perjuangan kemerdekaan.

Menurut sejarawan J. Jogaswara dalam Lahirnya Badan-badan Perjuangan dan BKR di Kota Bandung sampai Timbulnya MDPP/MPPP, Yati mendapat pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan Normal Kweekschool. Pengalaman organisasi dimulai ketika dia menjadi pimpinan Syarikat Islam Afdeling Pandu Putri (SIAP), kemudian menjadi anggota Kepanduan Muslimin Indonesia. Yati lalu aktif di PSII, menjadi ketua Departemen Wanita PSII dari tahun 1936 sampai 1940.

Karena itu, Jogaswara menambahkan, yang mendorong Yati terjun ke dalam perjuangan kemerdekaan dengan mendirikan Laswi, “ingin meneruskan cita-cita dan perjuangan RA Kartini. Dengan demikian, dia dapat menghidupkan jiwa perjuangan RA Kartini di dalam hati para wanita pada waktu itu (1945-1949).”

“Karena Yati memiliki pendidikan dan pengalaman berorganisasi yang baik,” tulis Jogaswara, “Laswi sejak berdirinya sudah mempunyai susunan organisasi yang baik.”

Ketika di Laswi, perjuangan Kartini selalu ditanamkan kepada para anggota Laswi. Selesai apel sore, apabila semua Laswi lagi berkumpul di asrama dan magrib pun tiba, sang komandan mulai memberikan ceramah. “Di sinilah para wanita muda itu diberi semangat melalui perjuangan Kartini,” tulis Annie. “Agar mereka sadar bahwa jiwa revolusi itu tidak baru waktu mereka menyandang senjata di garis depan. Juga perjuangan bukan untuk satu kali saja dilakukan.”

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Yati Aruji memberikan sambutan dalam Musyawarah Nasional Wirawati Catur Panca di Palembang, 1-3 Juni 1983.
Foto
Yati Aruji memberikan sambutan dalam Musyawarah Nasional Wirawati Catur Panca di Palembang, 1-3 Juni 1983.
Foto