Pilih Bahasa: Indonesia

Wangsit Sarwo Edhie Wibowo

Soeharto menutup semua jalan yang memungkinkan Sarwo Edhie Wibowo naik takhta.
 
Letjen TNI Soeharto didampingi Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, komandan RPKAD, pada peringatan HUT ke-14 RPKAD di Parkir Timur Senayan, Jakarta.
Foto
Historia
pengunjung
14.7k

SARWO Edhie Wibowo ikut mengantarkan Soeharto ke tampuk kekuasaan. Sebagai komandan RPKAD (kini Kopassus), sang kolonel memimpin penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun, hubungan mereka tak bisa dibilang akur.

Pangkal perseteruannya terjadi setelah peristiwa G30S. Usai memimpin pasukannya mengamankan lapangan terbang Halim Perdanakusumah, Sarwo hendak melapor kepada Soeharto. Namun, Laksamana Muda Udara Herlambang meyakinkan Sarwo bahwa Soeharto berada di Bogor memenuhi panggilan presiden. Sarwo pun ikut rombongan AURI ke Bogor menggunakan helikopter. Tiba di Istana Bogor, Soeharto masih dalam perjalanan menuju Bogor. Soeharto curiga melihat Sarwo melapor kepada Sukarno.

“Soeharto bertanya-tanya dalam hati kenapa Sawo Edhie yang ada di sana bukan dirinya,” kata Jusuf Wanandi dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998. “Soeharto tak pernah percaya kepada Sarwo sejak itu.”

Menurut pengamat militer Salim Said, Soeharto menganggap Sarwo melapor kepada Sukarno sebelum kepada Pangkostrad. Soeharto marah. Pertemuannya dengan Sukarno membuat Soeharto menganggapnya punya rencana sendiri yang berbeda dengan kebijakannya sebagai pimpinan sementara Angkatan Darat.

“Kecurigaan dan kemarahan Soeharto kepada Sarwo berakibat fatal. Karier militer mantan komandan RPKAD itu dibunuh secara kejam meski perlahan-lahan,” tulis Salim Said dalam Dari Gestapu ke Reformasi Serangkaian Kesaksian.

Setelah meninggalkan RPKAD, Sarwo ditempatkan di Medan sebagai panglima Kodam Bukit Barisan. Dari Medan, dilempar ke Papua sebagai panglima Kodam Cendrawasih. Usai membantu memenangkan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) di Papua, Sarwo menempati pos baru yang tak strategis di Magelang sebagai gubernur Akabri. Sarwo juga sempat “didubeskan” ke Korea Selatan pada 1973-1978. Pulang ke Jakarta, Sarwo disipilkan di Departemen Luar Negeri sebagai inspektur jenderal. Sempat akan didubeskan lagi di Brasil, dia akhirnya mengurusi kursus Pancasila sebagai kepala BP7, lembaga indoktrinasi ideologi pemerintah Orde Baru.

Herawati Kristiani, putri Sarwo, menangkap kekecewan ayahnya sebagai kepala BP7. “Kepada kami anak-anaknya, Papi sempat mengutarakan rasa sedihnya. Ya, benar, dia sempat merasa kecewa dengan keputusan itu. Papi terlahir sebagai orang yang sangat mencintai dunia militer,” kenang Herawati dalam biografinya, Kepak Sayap Putri Prajurit karya Alberthiene Endah.

Salim Said mengungkap alasan mistik mengapa Soeharto menghabisi karier Sarwo. Tatkala menjabat duta besar Indonesia di Praha, Ceko, Salim bertemu paranormal yang dekat dengan Soeharto. Menurut paranormal itu, Soeharto meyakini bahwa Sarwo mempunyai wangsit (wahyu) setelah dirinya. Oleh karena itu, semua jalan yang berpotensi menjadikan Sarwo Edhie “naik takhta” harus ditutup. “Itulah, katanya, penyebab dihabisinya karier militer Sarwo Edhie sedini mungkin,” ujar Salim.

Kata paranormal itu lagi, “Soeharto lupa bahwa wangsit Sarwo tidak kembali ke langit ketika mantan komandan RPKAD itu wafat setelah koma selama sekitar setahun. Wangsit itu tetap padanya untuk akhirnya hinggap ke putrinya, Herawati Kristiani. Itulah penjelasan di balik terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono (suami Herawati Kristiani, red) menjadi Presiden Republik Indonesia.”

Namun, istri Sarwo, Sunarti, tak percaya dengan paranormal itu. “Ah, itu cerita omong kosong. Pak Harto marah kepada Bapak karena ke Bogor itu. Bapak dicurigai sebagai orang ambisius oleh Soeharto,” kata Sunarti kepada Salim Said pada 29 Desember 2012.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Letjen TNI Soeharto didampingi Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, komandan RPKAD, pada peringatan HUT ke-14 RPKAD di Parkir Timur Senayan, Jakarta.
Foto
Letjen TNI Soeharto didampingi Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, komandan RPKAD, pada peringatan HUT ke-14 RPKAD di Parkir Timur Senayan, Jakarta.
Foto