Pilih Bahasa: Indonesia

Upaya CIA Menggagalkan Konferensi Asia Afrika

Konferensi Bandung dipandang Amerika Serikat sebagai perkumpulan komunis. CIA merancang aksi pembunuhan untuk gagalkan KAA.
Beberapa pemimpin dari negara-negara anggota SEATO. Kiri-kanan: Perdana Menteri Nguyen Cao Ky (Vietnam Selatan), Perdana Menteri Harold Holt (Australia), Presiden Park Chung Hee (Korea), Presiden Ferdinand Marcos (Filipina), Perdana Menteri Keith Holyoake (Selandia Baru), Letnan Jenderal Nguyen Van Thieu (Vietnam selatan), Perdana Menteri Thanom Kittikachorn (Thailand), Presiden Lyndon B. Johnson (Amerika serikat) di Gedung Kongres di Manila Filipina, 24 Oktober 1966.
Foto
Historia
pengunjung
11.2k

AMERIKA Serikat tak suka pada rencana Sukarno mengadakan Konferensi Asia Afrika (KAA). Konferensi ini selain mendorong kemerdekaan bagi negara-negara Asia-Afrika, juga menetapkan sikap netral atau nonblok dalam perseteruan Blok Barat (AS) dan Blok Timur (Uni Soviet).

Padahal AS sedang berupaya membentuk SEATO (South East Asia Treaty Organization), sebuah aliansi militer-politik negara-negara Asia Tenggara, yang disponsori AS, guna membendung pengaruh komunis di wilayah itu. Bagi AS, KAA adalah ancaman untuk SEATO, yang didirikan di Bangkok, Thailand pada 19 Februari 1955. Anggota SEATO terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Australia, Selandia Baru, Pakistan, Filipina, dan Thailand.

Para pejabat dalam pemerintahan Eisenhower dan CIA (Dinas Intelijen Amerika Serikat), menurut sejarawan Baskara T. Wardaya, meyakini konferensi negara-negara Asia Afrika itu telah menjadi semacam “ajaran sesat” yang harus “dibereskan.”

“Bertolak dari pikiran tersebut,” tulis Baskara dalam Bung Karno Menggugat!, “CIA kemudian mengambil inisiatif untuk mempertimbangkan rencana pembunuhan sebagai salah satu cara untuk menggagalkan KAA.”

Setelah bertahun-tahun tersimpan sebagai rahasia, rencana jahat tersebut baru terungkap pada 1975. Komisi Church (Church Committee), yang diketuai senator AS, Frank Church, menyelidiki operasi-operasi rahasia CIA di luar negeri, termasuk di Indonesia. Komisi mendengarkan kesaksian-kesaksian berkaitan dengan operasi rahasia yang dilakukan para agen CIA di negara-negara Asia.

“Menurut kesaksian,” tulis Baskara, “para pejabat CIA telah mengusulkan suatu rencana untuk membunuh seorang pemimpin Asia Timur guna mengacaukan KAA yang mereka pandang sebagai Konferensi Komunis.”

Salah satu pemimpin Asia yang menjadi target pembunuhan adalah perdana menteri merangkap menteri luar negeri Tiongkok, Zhou Enlai. Pada 11 April 1955, pesawat Kashmir Princess, yang sedianya akan ditumpangi Zhou, meledak dan mendarat darurat di laut. 16 tewas dan tiga orang selamat.

Sehari setelah insiden itu, kementerian luar negeri Tiongkok mengeluarkan pernyataan yang menuding keterlibatan CIA dan Ching Kai-shek (pemimpin nasionalis Tiongkok, di Taiwan). “Mereka berencana menyabot pesawat carteran Air India, menjalankan rencana mereka untuk membunuh delegasi kami ke Konferensi Bandung yang dipimpin oleh Perdana Menteri Zhou Enlai, dan untuk menggagalkan Konferensi Bandung,” tulis Steve Tsang dalam The Cold War’s Odd Couple.

Menariknya, Zhou selamat karena sudah mengendus rencana pembunuhan dirinya. Menurut Steve Tsang dalam “Target Zhoe Enlai,” China Quarterly, September 1994, “Zhou mengetahui rencana itu sebelumnya dan diam-diam mengubah rencana perjalanan, kendati dia tak menghentikan sebuah delegasi kader yang lebih rendah untuk mengambil tempatnya.” (Selengkapnya baca: Bom di Tengah Konferensi Asia Afrika)

Ternyata CIA bukan saja mengincar Zhou Enlai, tapi juga merencanakan upaya pembunuhan Sukarno.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Beberapa pemimpin dari negara-negara anggota SEATO. Kiri-kanan: Perdana Menteri Nguyen Cao Ky (Vietnam Selatan), Perdana Menteri Harold Holt (Australia), Presiden Park Chung Hee (Korea), Presiden Ferdinand Marcos (Filipina), Perdana Menteri Keith Holyoake (Selandia Baru), Letnan Jenderal Nguyen Van Thieu (Vietnam selatan), Perdana Menteri Thanom Kittikachorn (Thailand), Presiden Lyndon B. Johnson (Amerika serikat) di Gedung Kongres di Manila Filipina, 24 Oktober 1966.
Foto
Beberapa pemimpin dari negara-negara anggota SEATO. Kiri-kanan: Perdana Menteri Nguyen Cao Ky (Vietnam Selatan), Perdana Menteri Harold Holt (Australia), Presiden Park Chung Hee (Korea), Presiden Ferdinand Marcos (Filipina), Perdana Menteri Keith Holyoake (Selandia Baru), Letnan Jenderal Nguyen Van Thieu (Vietnam selatan), Perdana Menteri Thanom Kittikachorn (Thailand), Presiden Lyndon B. Johnson (Amerika serikat) di Gedung Kongres di Manila Filipina, 24 Oktober 1966.
Foto