Pilih Bahasa: Indonesia
Tragedi Prambonwetan (1)

Tujuh Marinir Belanda Ditawan TNI

Suatu penghadangan berujung pembunuhan dan penangkapan para prajurit dari kesatuan elit militer Belanda.
 
Enam dari tujuh marinir Belanda saat baru diserahkan oleh TNI kepada pihak militer Belanda pada Oktober 1949.
Foto
Historia
pengunjung
9.1k

Selasa, 23 Juli 1949. Di antara Punggulrejo dan Banjararum, satu regu marinir pimpinan Letnan Satu Leen Teeken tengah menyusuri jalan pagi itu. Mereka datang dari arah Rengel dengan tujuan desa Prambonwetan, yang menurut militer Belanda “bermasalah” karena sering menjadi pangkalan gerilyawan.

Tanpa disadari regu Teeken, di balik tanggul sungai kecil antara Karuman dan Boro (dua dukuh yang masuk wilayah Desa Banjararum di Tuban), sepasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pimpinan Letnan Muda Noortjahjo dari Brigade Ronggolawe tengah mengintai pergerakan mereka. Ikut pula beberapa penduduk Prambonwetan. Salah satunya bernama Josephus Antonius Soetjipto, bocah berusia 12 tahun.

“Saat itu, saya membawa sebuah karaben pendek, ikut mengintai di balik tanggul dekat batas dukuh,” ujar Soetjipto (81 tahun) kepada Historia.

Satu, dua, hingga sepuluh langkah, para serdadu itu dibiarkan lewat begitu saja. Namun begitu mereka sampai di dekat batas dukuh Boro, terdengar teriakan keras dari Noortjahjo: “Salvoooo!” Dan peluru pun berhamburan. Suaranya berdesing bersanding dengan gelegar suara granat dan teriakan-teriakan menyeramkan dari pihak penyergap.

Menghadapi sergapan tiba-tiba itu, regu Teeken langsung panik. Alih-alih membalas tembakan, mereka malah menjadi sasaran empuk para gerlyawan. Lima sedadu langsung mati di tempat, termasuk Teeken yang batok kepalanya hancur kena pecahan granat. “Saya melihat isi kepalanya berceceran di pematang sawah,” kenang Soetjipto.

Mengetahui komandannya tewas, sisa regu patroli yang terdiri dari tujuh marinir dan seorang petunjuk jalan bernama Teng Tjing Teek lintang-pukang. Mereka kabur ke arah utara, melewati sawah-sawah berlumpur. Sementara itu, para pemuda desa yang sebagian besar bersenjata klewang, golok, tombak, dan bambu runcing memburu di belakang mereka.

Sebelum sisa regu pasukan tersebut mencapai tanah kering, dari balik tanah tinggi berbatu di depan mereka, bermunculan pasukan TNI. “Mereka adalah seksi Letnan Muda Sanyoto yang memang ditugaskan untuk menutup jalur pelarian musuh,” tulis buku Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe yang disusun Panitia Penyusunan Sejarah Brigade Ronggolawe.

Tak ada upaya yang bisa dilakukan para marinir itu kecuali menyerah. Hanya Tjing Teek, yang terlanjur kalap, nekat menembakkan karaben pendeknya. Dasar sial, senjatanya kehabisan peluru. Dia membanting senjatanya ke sebuah pohon dan langsung angkat tangan tanda menyerah. Namun sebutir peluru terlanjur menembus dadanya. Dia tewas seketika. Para pemuda yang dikuasai amarah langsung mencincang mayatnya tanpa ampun.

Tak jauh dari para peyincang mayat Tjhing Teek, penduduk desa mengepung ketujuh marinir yang sudah menyerah. Menghadapi situasi kritis tersebut, para serdadu yang sudah hampir kehabisan nafas hanya bisa pasrah menunggu nasib. Sebagian terlihat ketakutan.

Pateni wae!”

Londo asuuuu!”

“Bunuh saja!”

Sadar situasi gawat, Letnan Muda Sanyoto langsung bertindak. Dia memerintahkan pasukannya mengamankan para serdadu Belanda. Sebagai bentuk pelampiasan rasa marah, penduduk desa melucuti seragam ketujuh marinir itu. “Semuanya diambil, dari baju hingga sepatu, pokoknya yang tersisa di tubuh mereka hanya celana kolor,” ujar Soetjipto.

Dengan hanya menggunakan sarung, marinir-marinir itu digiring ke Prambonwetan. Setelah diberi pakaian layak dan istirahat beberapa jam, mereka dibawa ke Jatirogo dan Tempayang. Di kedua desa itu mereka ditahan di suatu tempat rahasia.

“Atas perintah Komandan Brigade I Ronggolawe Letnan Kolonel Soedirman, para tawanan itu diberikan perawatan kesehatan secara khusus oleh seorang dokter tentara,” ujar Letnan Jenderal (Purn) Rukmito Hendradiningrat, eks Kepala Staf Brigade I Ronggolawe, dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan jilid ke-2.

Bahkan untuk makan dan minum para tawanan, prajurit-prajurit Brigade Ronggolawe diperintahkan mencari roti, keju, dan susu. Padahal, kata Rukmito, untuk keseharian sendiri mereka kadang harus menahan lapar. “Memang mulanya kami marah dan kesal tapi lambat-laun kami paham, Pak Dirman ingin mengajari kami bagaimana memperlakukan sesama manusia walaupun itu musuh kita sendiri,” ujarnya.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Enam dari tujuh marinir Belanda saat baru diserahkan oleh TNI kepada pihak militer Belanda pada Oktober 1949.
Foto
Enam dari tujuh marinir Belanda saat baru diserahkan oleh TNI kepada pihak militer Belanda pada Oktober 1949.
Foto