Pilih Bahasa: Indonesia

Teror Granat Mengancam Ibukota Jakarta

Penggranatan terjadi lagi. Hampir 60 tahun silam, beberapa tempat di Jakarta menjadi sasaran penggranatan.
Gedung Sekolah Rakyat Perguruan Cikini, di Jalan Cikini Raya, Jakarta. Di depan gedung ini Presiden Sukarno digranat, 1957.
Historia
pengunjung
5.7k

GRANAT meledak di depan gedung perkantoran Multi Piranti Graha di Jalan Radin Inten 2 No. 2, Jakarta Timur, pukul 03.30 pada 16 November 2015. Plafon gedung rusak, beberapa kaca jendela pecah, dan penjaga keamanan, Maulana, terluka oleh pecahan kaca. Kepolisian masih menyelidiki kejadian tersebut.

Penggranatan mengingatkan kita pada teror serupa hampir 60 tahun silam. Kala itu, teror menyasar kantor, rumah pejabat, bahkan Presiden Sukarno. Penggranatan terjadi kali pertama pada 4 Juli 1957. Sasarannya kantor CC PKI di Jalan Kramat Raya dan kantor Dewan Daerah SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) Jakarta di Salemba. Penggranatan terjadi sekira pukul sebelas malam, menyebabkan kerusakan kecil, dan melukai Surja, penjaga kantor SOBSI.

Teror terjadi lagi di pengujung Juli 1957. Sasarannya empat tempat berbeda. Target pertama percetakan De Unie, tempat koran Bintang Timur dicetak, di Jalan Batu Ceper. Granat mengenai kawat pelindung jendela dan berbalik ke jalan. Tidak ada korban karena jalanan sepi.

Koran Bintang Timur menjadi target karena mengkritisi praktik korupsi dan pihak-pihak antidemokrasi. Menurut pihak Bintang Timur, sebelum penggranatan terjadi, redaksi kedatangan orang-orang mengaku anggota Gerakan Pemuda Sosialis. Mereka tak terima pemberitaan Bintang Timur.

Saksi mata, seorang penjaga kantor koran Merdeka persis di sebelah De Unie, mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, ada seorang berpakaian abu-abu mondar-mandir di depan rumah No. 7 yang terletak di seberang De Unie. Setelah penggranatan, tulis Harian Rakjat, 1 Agustus 1957, “nampak seorang pemuda berpakaian putih-putih melarikan diri ke jurusan Sawah Besar.”

Selang satu setengah jam dari penggranatan De Unie, penggranatan terjadi di Jalan Lembang, Jakarta Pusat. Targetnya rumah Letkol Sukendro, kepala intelijen Markas Besar Angkatan Darat. Granat meledak di atap rumah, dia tiarap sehingga selamat. Menurut beberapa saksi mata, dua mobil berjalan pelan saat sebelum mencapai sasaran. “Tidak lama kemudian mobil itu mempercepat jalannya setelah granat itu meledak,” lansir Harian Rakyat.

Tak jauh dari situ, sasaran berikutnya Asrama Reskrim (Reserse Kriminal) di Jalan Gondangdia Lama. Korbannya seorang penjaga mobil dan seorang anak.

Penggranatan terus terjadi selama kurun tahun 1957. Sasarannya berbeda-beda, baik orang kiri maupun orang kanan, juga nonpartai. Kantor pusat Masyumi dan rumah PM Djuanda sempat menjadi sasaran meski tak terwujud.

“Yang kita tahu, Pak Roem dan Pak Prawoto rumahnya digranat. Rumah kita (di Jalan Diponegoro No. 39) diancam berkali-kali mau digranat, tapi nggak tahu nggak kesampaian,” kenang mendiang Farid Prawiranegara, anak pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, Sjafruddin Prawiranegara, kepada Historia tahun lalu. Mohammad Roem, Prawoto Mangkusasmito, dan Sjafruddin Prawiranegara adalah tokoh Masyumi.

Penggranatan meneror warga ibukota. Nyawa mereka terancam kapan saja. “Takut kita di Jakarta ini. Anytime kita bisa dilempar granat. Ketakutan itu luar biasa. Sehingga, ayah memutuskan kita pergi ke Palembang,” ujar Farid.

Penggranatan terparah terjadi pada pengujung November 1957 saat Presiden Sukarno menghadiri inagurasi Perguruan Cikini, tempat kedua anaknya sekolah. Meski nyawa Sukarno selamat, penggranatan memakan belasan korban jiwa dan ratusan luka-luka. Salah satu korbannya, Budiono Kartohadiprodjo, mantan pemimpin redaksi majalah Gatra, yang saat itu murid kelas 5. “Ini yang mengubah kehidupan saya,” ujarnya kepada Historia. Cita-citanya menjadi pilot kandas karena serpihan granat memotong pembuluh jantungnya.

Pengadilan menghukum mati keempat pelaku penggranatan Cikini, yaitu Jusuf Ismail, Saadon bin Muhammad, Tasrif bin Husein, dan Wahab bin Arsat; dan memenjarakan beberapa orang lainnya, termasuk Kolonel RA Nasuhi. Kesemuanya merupakan anggota Front Anti Komunis, organisasi yang didirikan pada 1954. Meski didirikan oleh tokoh Masyumi, organisasi itu belakangan mendukung DI/TII sehingga dibubarkan pada 1958.

Menurut sejarawan R.Z. Leirissa dalam PRRI-Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis, selain ingin menghancurkan komunis, belakangan diketahui mereka ingin mendirikan negara Islam. Sebuah dokumen di Pusat Dokumentasi Sejarah TNI menyebutkan, perintah pembunuhan datang langsung dari S.M. Kartosoewiryo.

 
Terpopuler di Historia 
Berita terkait
Nomor 14 Tahun 2 | Membidik Nyawa Sang Presiden
MEMENUHI permintaan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Presiden Sukarno mengucapkan pidato Pelengkap Nawaksara pada 10 Januari 1967 Dalam pidatonya Sukarno menuding kekuatan kontrarevolusi dari dalam negeri dan kekuatan nekolim bersatupadu dan berupaya menggulingkannya melalui satu gerakan yang dia sebut Gerakan 1 Oktober atau GestokSukarno juga mempertanyakan dasar dia harus bertanggungjawab atas peristiwa tersebut ldquoKalau saya disuruh bertanggung jawab atas terjadinya G30S maka saya menanya siapa yang harus dimintai pertanggungan jawab atas usaha pembunuhan kepada PresidenPangti dalam 7 peristiwa yang saya sebutkan di atas itu Kalau bicara Kebenaran dan Keadilan maka saya pun minta Kebenaran dan KeadilanrdquoPidato Pelengkap Nawaksara pertanggung jawaban dirinya sebagai presiden ditolak Sukarno pun terjungkal dari kekuasaannyaEdisi kali ini kami menurunkan laporan utama tentang upaya pembunuhan terhadap Presiden Sukarno Tak semuanya dibahas Toh upaya pembunuhan itu mungkin bukan hanya tujuh Dan dia selalu selamat Kalau tidak tentu saya sudah mati terbunuh Dan mungkin akan Saudara namakan primetragedi nasionalprime pulaJatuhnya Sukarno mengubah segalanya dari semua aspek Termasuk hingga kini kita melihat sejarah dari satu aspek sejarah tunggal sejarah resmi Alam reformasi belum mampu mengubah semuanya Tak perlu jauhjauh lihatlah di sekitar kita Monumen Nama jalan Peringatan demi peringatanSejarah Indonesia juga masih Jawasentris Sejarah lokal belum tersentuh Jika kebudayaan nasional adalah puncakpuncak dari perkembangan kebudayaankebudayaan daerah begitu pula seharusnya sejarah nasional Historia ingin memberikan tempat bagi sejarah lokal Tentu kami tak bisa melakukannya sendirian Kami membutuhkan Anda pembaca kontributor dari Sabang sampai Merauke yang tentu lebih mengenal sejarah daerahnya sendiri untuk menuliskannya Kami menunggu kontribusi AndaEdisi kali ini juga mengangkat tematema aktual Dari wajib militer hingga impor sapi Beragam tema juga kami sajikan yang bisa menemani Anda mengisi libur lebaranEdisi kali ini terbit menjelang Hari Raya Idulfitri Untuk itu kami mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri Mohon maaf lahir dan batin
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Gedung Sekolah Rakyat Perguruan Cikini, di Jalan Cikini Raya, Jakarta. Di depan gedung ini Presiden Sukarno digranat, 1957.
Gedung Sekolah Rakyat Perguruan Cikini, di Jalan Cikini Raya, Jakarta. Di depan gedung ini Presiden Sukarno digranat, 1957.