Pilih Bahasa: Indonesia

Tambora Disangka Letusan Meriam Nyi Roro Kidul

Ketika Tambora meletus, banyak orang kebingungan. Suaranya menggelegar. Tentara bergegas, mengira musuh datang menyerang.
 
Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, 19 Juli 2009.
Foto
Historia
pengunjung
12.6k

DUA abad lalu, gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meletus. Lahar menyelimuti permukaan gunung dan bergerak menyapu desa-desa di sekitarnya. Abu vulkanik menyebar sampai Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, diikuti hujan abu seminggu kemudian.

Kala itu, mereka yang berada di pulau lain hanya bisa bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Laporan dari petugas kolonial di Makassar, Maluku, dan Jawa senada menyebutkan bahwa pada 5 April 1815 terdengar suara tembakan meriam dari seberang lautan, tetapi tak diketahui dari mana asal-usulnya.

“Suara itu, pada awalnya disangka suara tembakan meriam, sampai-sampai satu detasemen tentara siap dikirim dari Yogyakarta untuk memeriksa apakah wilayah terdekat sedang diserang. Dan di pantai kapal-kapal langsung disiagakan untuk merespons kemunculan asal suara tersebut,” tulis Raffles dalam The History of Java, Volume 1.

Letusan terkuat Tambora terjadi pada 10 April 1815. Desa-desa di sekitarnya hancur lebur diterjang material-material vulkanik, menghancurkan daerah Sanggar dan memaksa mereka yang selamat untuk mengungsi. Begitu pula yang terjadi di Dempo dan Bima, sebelah timur dari Tambora.

Residen-residen di Jawa memberikan laporan efek letusan Tambora di wilayahnya masing-masing kepada Thomas Stamford Raffles selaku letnan gubernur Inggris di Batavia. Surat-surat tersebut, sebagaimana terlampir dalam Memoir of the life and public services of Sir Thomas Stamford Raffles, Volume 1, senada menyebutkan bagaimana gelapnya hari-hari setelah letusan 10 April 1815 itu, akibat cahaya matahari tertutup material vulkanik yang beterbangan di langit Jawa dan sekitarnya.

Residen Gresik bahkan mencatat bagaimana penduduk lokal menganggap letusan Tambora sebagai pertanda aktivitas supranatural: “Orang-orang lokal mengaitkannya dengan kisah legenda, yang mengatakan bahwa Nyai Loroh Kidul tengah menikahkan salah satu anaknya, ditandai dengan tembakan salut dari artileri supranatural miliknya. Mereka melihat abu-abu vulkanik yang beterbangan di udara merupakan ampas bubuk mesiu meriam milik Nyai Loroh Kidul.”

Satu lagi laporan yang komprehensif datang dari Letnan Owen Philips, utusan Raffles yang ditugaskan untuk menginspeksi efek dari letusan Tambora terhadap masyarakat lokal Sanggar, Dempo, dan Bima, sekaligus memberikan bantuan logistik. Menurut laporannya, pemandangan di sana amat mengerikan. Mayat-mayat masih tergeletak di jalan-jalan.

“Mereka juga terkena penyakit diare yang disebabkan karena meminum air yang telah tercampur abu vulkanik. Kuda-kuda mereka juga mati, dalam jumlah yang besar, dikarenakan hal yang sama,” lapor Philips sebagaimana termuat dalam History of Java Volume 1.

Owen berhasil menemui Raja Sanggar dan keluarganya yang merupakan saksi hidup letusan. Dia menceritakan dengan mendetail detik-detik terjadinya letusan Tambora, yang kemudian Philips laporkan kepada Raffles di Batavia.

Diperkirakan 11.000 orang tewas terkena efek langsung letusan Tambora, menyusul 49.000 lainnya karena bencana kelaparan di Sumbawa, Lombok dan Bali. Efek Tambora juga mempengaruhi pertanian di seluruh dunia. Setahun setelah letusan Tambora, negeri-negeri belahan utara mengalami anomali cuaca hebat; yakni sebuah tahun tanpa musim panas (The Year Without Summer).

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, 19 Juli 2009.
Foto
Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, 19 Juli 2009.
Foto