Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Suara dari Masa Pancaroba

Kisah Wim dan Hetty Wertheim dengan negeri keduanya, Indonesia. Wim, Indonesianis, yang dikenal sebagai salah satu tokoh pertama yang mempertanyakan G30S versi Orde Baru.
 
Wim dan Hetty Wertheim di Sumatra Selatan, 1931.
Foto
Historia
pengunjung
7.6k

Nama W.F. Wertheim atau Wim Wertheim terkenal sebagai salah satu tokoh pertama yang mempertanyakan G30S versi Soeharto Orde Baru. Selain Cornell Paper (karya para ilmuwan universitas Amerika) yang melihat G30S sebagai konflik internal Angkatan Darat; Wim Wertheim, gurubesar sosiologi Universiteit van Amsterdam, menyoroti hubungan erat Soeharto dengan para pelaku pembunuhan para jenderal itu. Karena pendapatnya ini, Wertheim dicekal, dia tidak pernah lagi berkunjung ke Indonesia. Padahal boleh dikatakan ini negeri keduanya. Dalam tulisan berikut Anne-Ruth Wertheim, putri kedua pasangan suami istri Wim dan Hetty Wertheim, bertutur tentang bagaimana kedua orang tuanya bisa punya hubungan begitu erat dengan Indonesia. Dari bagaimana Hetty mendengar suara ribut-ribut pada 17 Agustus 1945 sampai bagaimana Wim berunding dengan Sjahrir.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 antara lain berlangsung dengan pembacaan beberapa kalimat yang sebelumnya diketik pada secarik kertas. Dengan begitu sekelompok warga kepulauan Nusantara yang gemar memberontak menyatakan negeri mereka merdeka dari penjajahan Belanda yang berlangsung selama berabad-abad. Sebagai jawaban pemerintah Belanda berbuat apa saja, bahkan sampai yang paling absurd sekalipun, untuk menyangkal makna peristiwa ini, begitu pula dengan melancarkan sampai dua kali perang kolonial.

Perang kolonial terakhir disudahi pada tanggal 27 Desember 1949 dengan penyerahan kedaulatan kepada Indonesia. Bahkan setelah itu selama puluhan tahun Belanda makin memperkeras penyangkalannya. Tapi tanda-tandanya sudah terlihat pada bulan-bulan awal menyusul Proklamasi. Pada saat yang kacau itu, keluarga kami berada dekat dengan peristiwanya dan ayah kami berupaya mati-matian untuk mengarahkan perkembangan menuju kebaikan.

Berakhirnya kehidupan kolonial yang nyaman

Belum lama berselang, adik saya, Hugo Wertheim, melawat ke negeri kelahiran kami: Indonesia. Itu adalah untuk pertama kalinya dia kembali setelah keluarga kami berangkat ke Belanda pada 1946 — Marijke, kakak kami, dan saya sudah pernah kembali sebelum itu, bersama anak-anak dan cucu-cucu. Kami bertiga dilahirkan di sana semua: Marijke pada 1933, saya pada 1934 dan Hugo pada 1936. Waktu itu hidup kolonial kami begitu nyaman, sampai pada 1942 ketika pasukan Dai Nippon menyerbu dan menjungkir balik semuanya. Tahun-tahun sesudah itu kami habiskan dalam apa yang kami cibir sebagai “Jappenkampen” yaitu kamp interniran Jepang — kami dan ibu dalam kamp wanita dan ayah dalam kamp pria. Selama tiga tahun itu kami tidak tahu ayah di mana dan apakah dia masih hidup.

Kunjungan nostalgia yang sebelum itu saya dan kakak saya lakukan ke Indonesia, membawa kami ke Rumah Sakit Tjikini, tempat kami dilahirkan, sekolah dasar kami, rumah-rumah yang pernah kami huni, tak ketinggalan dua dari tiga kamp interniran Jepang yang sempat kami diami. Kamp terakhir, ADEK, di Jakarta, kami lewati saja, karena tahu bahwa kamp itu sudah tidak ada lagi. Pada 1989 terjadi kebakaran di sana dan sekarang diubah menjadi wilayah hunian. Hugo justru memutuskan untuk berkunjung ke sana karena alasan khusus. Dia membandingkan peta Batavia zaman dulu dengan peta Jakarta sekarang, sehingga bisa melihat bahwa tidak jauh dari kamp ADEK itu selain Jalan Proklamasi kini juga terdapat Taman Proklamasi.

Setelah Hindia Belanda bertekuk lutut pada 8 Maret 1942, pasukan Jepang menduduki kepulauan Nusantara dan mengambil langkah-langkah supaya tidak memperoleh halangan dari mereka yang sebelum itu berkuasa. Hampir semua orang Belanda dijebloskan ke dalam ratusan kamp yang tersebar di seantero Nusantara. Dalam kelaparan dan kekurangan kami dijaga oleh orang Indonesia atas perintah Jepang yang siang malam terus mengawasi kami dari menara jaga. Bukannya kami tidak punya hasrat untuk melarikan diri, tetapi dengan kulit putih, kami akan langsung tampak di antara orang Indonesia, orang Indo yang berdarah campur, orang Tionghoa dan Jepang. Dari rakyat kami tidak perlu berharap mereka berani mengambil banyak resiko bagi bekas penguasa mereka.

 
Terpopuler di Historia 
Berita terkait
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Wim dan Hetty Wertheim di Sumatra Selatan, 1931.
Foto
Wim dan Hetty Wertheim di Sumatra Selatan, 1931.
Foto