Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 4

Serdadu India di Barisan Republik Indonesia

Demi persaudaraan Islam, perempuan, dan harapan kehidupan yang lebih baik, tentara India meninggalkan pasukannya.
 
Sukarelawan dari India, Filipina, Malaysia, dan Tionghoa, membentuk Internasional Volunteers Brigade pada 30 Agustus 1947 menyusul agresi militer Belanda pertama.
Foto
Historia
pengunjung
24.5k

Berjuang untuk Indonesia

Menurut Muhammad TWH dalam “Pembelotan Sekutu di Fajar Asia”, dimuat harian Waspada, 27 Agustus 2010, terdapat 71 desertir di Medan yang dikumpulkan dalam Resimen III Divis X Batalyon I pimpinan Mayor Abdul Sattar. Abdul Sattar mempengaruhi banyak tentara India untuk menyeberang ke pihak Republik dengan membawa senjata. Misalnya, Nur Muhammad dan Abdul Jalil yang membawa enam peti granat, empat pucuk sten gun, dan delapan pucuk senapan Lee Enfield.

“Nur Muhammad menjadi pemimpin volksfront (front rakyat), sebuah organisasi radikal di Indonesia,” tulis McMillan. “Bahkan, dia akan menembak desertir Hindu yang mencoba kembali ke unitnya.”

Para pembelot bertugas di berbagai front di Medan. Sekira 17 orang di Aceh, di antaranya John Edward (Abdullah) dan Chandra sebagai penyiar radio perjuangan Rimba Raya, masing-masing dalam bahasa Inggris dan Urdu. Dua orang gugur dalam pertempuran di dekat Brastagi dan 15 orang gugur dalam pertempuran di Pematang Siantar; jenazah mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Medan. “Sejumlah 37 orang lainnya, ada yang bergabung dengan masyarakat, kembali ke Pakistan, dan tidak diketahui berada di mana,” tulis Muhammad TWH.

Di Jawa, para pembelot bergabung dalam kesatuan-kesatuan Tentara Republik Indonesia. Di Jawa Barat, mereka ditampung di Talun, Garut, di bawah Letkol Rukana, komandan batalion Polisi Tentara Resimen 8 Bandung. Ghulam Ali bergabung dalam Kompi I Seksi II BN 8 Brigade II/Suryakancana Divisi Siliwangi. Daerah pertempurannya meliputi Cianjur, Bandung, Majalaya, Sukabumi, dan Cirebon.

Para pembelot di Jawa Tengah ditampung di Krian Mojokerto, kemudian dipindahkan ke Blitar dan digabungkan pada Batalion 120 di bawah komandan Mayor Vristan dan wakilnya Mohammad Jassin. Dari Blitar dipecah lagi dan digabungkan pada tiap-tiap daerah pertempuran di Jombang, Mojoagung, Krebet, Turen, Malang, Muntilan, Magelang, Ambarawa, dan Salatiga.

P.R.S. Mani sering bertemu dengan mereka di Yogyakarta dan, terkadang, melihat mereka beroperasi sendiri-sendiri bersama kesatuan-kesatuan gerilya Indonesia. “Mereka bersemangat membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia dan dinilai baik oleh para perwira Indonesia,” tulis Mani. “Bahwasannya ada beberapa orang di antara mereka yang membantunya itu karena terpikat oleh keuntungan materi tidaklah diragukan lagi, tapi ada juga, meskipun tidak banyak, yang telah memberikan jiwanya demi Indonesia.”

Menurut Mani, tentara Indonesia tidak memobilisasi mereka sebagai satu kesatuan karena tak ingin membangkitkan amarah orang-orang Inggris. Namun, pada 30 Agustus 1947, Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin mempersatukan mereka dalam International Volunteers Brigade dengan komandan Abdul Matin dan wakilnya Ghulam Ali. Dalam kesatuan ini juga terdapat sukarelawan Tionghoa, Filipina, dan Malaysia.

Namun, pasukan ini tidak banyak digunakan. Menurut ZA Maulani, mantan kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin), entah apa yang jadi pertimbangan politik Amir, “brigade sukarelawan itu diikat di kandangnya (asrama –red) tidak dikerahkan ke mana-mana menjelang pemberontakan PKI Madiun 1948,” tulis Maulani dalam pengantar Peranan Pakistan di Masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia.

Abdul Matin akhirnya memohon kepada Wakil Presiden/Perdana Menteri Mohammad Hatta agar pasukan International Brigade dikirim ke front di seluruh Jawa untuk melawan Belanda. Permohonan itu disetujui. Abdul Matin pun membagi-bagi pasukan dan menugasi ke front-front, bergabung dengan tentara Indonesia. Mereka bertempur selama agresi militer Belanda II.

“Pasukan Sukarelawan Muslim India-Pakistan bertempur di hutan-hutan, secara bergerilya, mengacau kota-kota yang diduduki Belanda. Banyak yang gugur, tertangkap Belanda, dan ditahan di Jakarta, Blitar, Kediri, Malang, dan Surabaya,” kata Ghulam Ali, dikutip Firdaus Syam dalam bukunya.

Yang tertangkap dibebaskan pada Januari 1950. Sebagian dari mereka pulang ke tanah airnya. Bahkan, ada yang pulang sejak Desember 1948. Pelita Rakjat, 13 Desember 1948, mewartakan 22 orang India yang bergabung dalam International Volunteer Brigade akan pulang ke tanah airnya yang sudah merdeka –beberapa di antara mereka melanjutkan karier ketentaraan.

Sebagian lagi menetap di Indonesia dan melanjutkan dinas di militer atau polisi. Ghulam Ali bergabung dengan Brimob Polri. Pada 1967, Presiden Soeharto menganugerahkan penghargaan Satyalencana Janautama. Dia pensiun dengan pangkat Peltu pada 1971. Dia meninggal pada tahun 1980-an, meninggalkan seorang anak.

 
Terpopuler di Historia 
Berita terkait
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Sukarelawan dari India, Filipina, Malaysia, dan Tionghoa, membentuk Internasional Volunteers Brigade pada 30 Agustus 1947 menyusul agresi militer Belanda pertama.
Foto
Sukarelawan dari India, Filipina, Malaysia, dan Tionghoa, membentuk Internasional Volunteers Brigade pada 30 Agustus 1947 menyusul agresi militer Belanda pertama.
Foto