Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Serdadu India di Barisan Republik Indonesia

Demi persaudaraan Islam, perempuan, dan harapan kehidupan yang lebih baik, tentara India meninggalkan pasukannya.
Sukarelawan dari India, Filipina, Malaysia, dan Tionghoa, membentuk Internasional Volunteers Brigade pada 30 Agustus 1947 menyusul agresi militer Belanda pertama.
Foto
Historia
pengunjung
9.7k

SUATU hari, Ghulam Ali, serdadu India Muslim dari Brigade Infantri I Divisi India ke-23, dan kawan-kawannya berpatroli ke kampung-kampung. Mereka mendapati rumah-rumah penduduk yang kosong. Penghuninya mengungsi ke luar Jakarta.

Seketika Ghulam Ali terharu begitu melihat tulisan bismillahirochmanirrohim di pintu rumah dan menemukan Alquran di dalam rumah-rumah penduduk. Belakangan, Ghulam Ali dan kawan-kawannya diberitahu orang-orang India Muslim yang telah lama tinggal di Indonesia bahwa sebagian besar penduduk Indonesia adalah Muslim.

“Di situlah awal-mula mereka desersi. Mereka berbalik bukan membantu tentara Inggris melucuti tentara Jepang, tapi bergabung dengan tentara Indonesia,” kata Firdaus Syam, dosen Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta, kepada Historia. Firdaus Syam juga penulis buku Peranan Pakistan di Masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia.

Komunitas India yang tergabung dalam Himpunan Keluarga (HK) memainkan peranan dalam pembelotan tentara-tentara itu. “Bagi mereka haram untuk memerangi saudara sendiri dalam konteks seiman Islam. Hal ini beberapa kali dipertegas ketua HK,” kata Yuanita Aprilandini, dosen sosiologi Universitas Negeri Jakarta yang menulis tesis tentang diaspora India, kepada Historia.

Karena sentimen agama pula, seorang serdadu India Muslim desersi karena laporan yang didengar dan dipercayainya bahwa pasukan India membakar sepuluh Alquran dan menghancurkan sebuah masjid. Dia berpikir agamanya telah dihina dan memutuskan untuk memperjuangkan Islam.

Sentimen agama menjadi senjata ampuh bagi pejuang Indonesia untuk membujuk tentara India membelot dari pasukannya. Caranya dengan melancarkan propaganda Pan-Islam (persaudaraan sesama Muslim). Menurut Richard McMillan dalam The British Occupation of Indonesia 1945-1946, propaganda itu dilakukan dalam berbagai bentuk. Saat Brigade Infantri India Ke-49 menghadapi cobaan berat di Surabaya, pejuang Indonesia menyerukan melalui pengeras suara agar umat Islam bersatu mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Terkadang pejuang Indonesia mengajak tentara India Muslim yang tertangkap untuk berjuang atas dasar perasaan keagamaan.

Propaganda Pan-Islam menjadi masalah yang dicemaskan para komandan pasukan Inggris. Kendati sebagian besar tentara India yang bertugas di Indonesia adalah Hindu, ada sejumlah tentara India Muslim yang dikelompokkan dalam kompi-kompi.

“Selain sentimen agama,” kata Firdaus, “sentimen sesama bangsa Asia terjajah yang ingin lepas dari penjajahan juga menjadi alasan tentara India meninggalkan pasukannya.”

 
Terpopuler di Historia 
Berita terkait
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Sukarelawan dari India, Filipina, Malaysia, dan Tionghoa, membentuk Internasional Volunteers Brigade pada 30 Agustus 1947 menyusul agresi militer Belanda pertama.
Foto
Sukarelawan dari India, Filipina, Malaysia, dan Tionghoa, membentuk Internasional Volunteers Brigade pada 30 Agustus 1947 menyusul agresi militer Belanda pertama.
Foto