Pilih Bahasa: Indonesia

Sejarah yang Tenggelam

Semburan lumpur Lapindo tak hanya menenggelamkan permukiman tapi juga memorabilia warga.
Historia
Historia
pengunjung
7.6k

TAK ada lagi memorabilia kehidupan warga Porong, Sidoardjo setelah lumpur mulai merendam kampung halaman mereka enam tahun lalu. Yang tersisa hanyalahkisah sejarah pada daerah yang kini menjadi kubangan raksasa lumpur akibat kecerobohan pengeboran gas PT Minarak Lapindo Jaya.

“Kalau semua bisa dikembalikan, saya ingin kembali ke kampung saya lagi,” ujar Muhammad Ajib, 74 tahun, lirih mengenang masa lalunya di desa Besuki, salah satu desa yang kini masuk wilayah terdampak lumpur Lapindo.

Ajib satu dari sekian banyak warga korban Lapindo yang terpaksa menempati wilayah permukiman baru. Sebelum pindah, dia aktif sebagai pengurus mesjid di desa Besuki dan petani atas sebidang sawah miliknya sendiri. “Sekarang saya seperti dibuang saja, tak punya kawan, semua tercerai berai,” katanyadalam bahasa Jawa.

Semejak lumpur menyembur pada 29 Mei 2006 yang lalu, warga Porong tak hanya kehilangan harta bendanya tapi juga jalinan kekerabatan yang telah terbina selama bertahun-tahun. “Yang rusak di sini bukan saja lingkungan, tapi struktur sosial masyarakat,” ujar Bambang Catur Nusantara, Direktur Eksekutif Walhi Jawa Timur.

Sementara itu Muhammad Irsyad, warga desa Besuki mengatakan saat lumpur mulai membanjiri permukiman mereka, masing-masing warga desa bertahan agar desanya tak teraliri lumpur. “Mereka bahkan bertengkar, bertahan agar desa mereka tak termasuk di dalam tanggul,” ujar lelaki yang kini aktif membina sanggar seni anak-anak korban lumpur Lapindo itu.

Porong bukanlah daerah permukiman yang baru terbentuk. Ia berdiri di atas delta sungai Brantas. Namanya, yang diambil dari nama sungai yang melintasi wilayah ini, telah disebut-sebut dalam laporan Belanda. Bahkan HJ De Graaf, sejarawan ahli Jawa yang terkemuka, menyebut nama kali Porong, sebagai pecahan aliran sungai Brantas yang pernah digunakan oleh pasukan Mataram untuk menaklukan Surabaya.

Dalam bukunya Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung De Graaf menuliskan siasat Mataram untuk menaklukan Surabaya. Berbulan-bulan Surabaya digempur, namun tak tertaklukan. Taktik lain digunakan. Bendung Jepara namanya. Sebuah taktik membendung sungai Brantas, yang alirannya terbagi menjadi dua: kali Porong yang bermuara ke Selat Madura dan kali Mas yang melintasi Surabaya sekaligus jadi sumber air bersih bagi warganya.

Sungai Brantas dibendung menggunakan batang kelapa, bangkai binatang dan buah aren. Air yang mengalir telah tercemar getah buah aren yang menimbulkan gatal dan bau bangkai binatang. Warga Surabaya tak lagi bisa mengonsumsi air dari kali Mas baik untuk mandi maupun minum. Tak lama kemudian Surabaya takluk kepada Mataram.

Air yang sama juga mengalir ke arah kali Porong. Jejak-jejak kekuasaan Mataram di Porong dapat diketahui dari beberapa kisah lisan yang beredar di kalangan warga. Besuki salah satunya. “Singayudha adalah pendekar Mataram yang mendirikan Besuki,” tutur Ajib.

Jauh sebelum Mataram berkuasa atas daerah Porong, pernah pula Majapahit menancapkan kuku kekuasaanya. Desa Candi Pari, yang terletak 2 kilometer dari pusat semburan lumpur, memiliki bukti otentik bahwa Majapahit pernah berkuasa di Porong. Di desa itu berdiri dua candi kuno, Candi Pari dan Candi Sumur. Bahkan ahli purbakala NJ Krom menjadikan Candi Pari sebagai bukti adanya hubungan Majapahit dengan Campa (kini Vietnam).

Porong di masa Majapahit, menilik bukti-bukti sejarah dan pendapat ahli purbakala, merupakan wilayah yang ramai dan maju. Lalu lintas perdagangan dan hubungan dengan negeri-negeri luar Majapahit. Porong pada suatu masa sebelum lumpur menyembur pun merupakan kawasan yang cukup ramai. Berbagai pabrik berdiri di sana. Permukiman warga pun menjamur seiring urbanisasi dari wilayah pedalaman ke Surabaya.

Kini Porong hanya menunggu waktu. Radius satu sampai dua kilometer dari danau lumpur telah dinyatakan sebagai daerah terdampak semburan. Kualitas air menurun. Aroma pekat gasterpapar melalui udara. “Sebentar lagi daerah sini jadi kota mati,” pungkas Catur.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Historia
Historia