Pilih Bahasa: Indonesia

Sejarah Tuyul, Makhluk Halus Pencuri Fulus

Makhluk halus berwujud anak kecil ini memberikan kekayaan kepada pemiliknya.  
Sejarawan Ong Hok Ham (kanan) dalam acara seminar Alam Non Fisik yang diselenggarakan Yayasan Parapsikologi Semesta di Balai Wartawan, Semarang, 24-25 Oktober 1986.
Foto
Historia
pengunjung
17.7k

KETIKA melakukan penelitian di Mojokuto (sekarang Pare), Jawa Timur pada 1952-1954, antropolog Clifford Geertz mendapat uraian sistematis mengenai makhluk halus di Jawa. Seorang tukang kayu muda mengatakan ada tiga jenis pokok makhluk halus: memedi, lelembut, dan tuyul. Bahkan dia menunjuk dua anak kecil berumur tiga tahun yang sedang berdiri mendengarkan percakapan mereka.

Tuyul menyerupai anak-anak ini, hanya mereka bukan manusia tetapi anak-anak makhluk halus. Mereka tidak mengganggu, menakut-nakuti atau membuat orang sakit; sebaliknya mereka sangat disenangi oleh manusia karena membuatnya jadi kaya,” katanya kepada Geertzdalam Abangan, Santri, Priayi dalam Masyarakat Jawa.

Kala itu, warga Mojokuto meyakini ada tiga orang yang memiliki tuyul: seorang jagal, perempuan pedagang tekstil, dan seorang haji. Mereka mendapatkannya setelah mengunjungi sisa-sisa candi Hindu seperti Borobudur, Penataran, dan Bongkeng serta makam Sunan Giri. Di tempat ini mereka membuat perjanjian: jika makhluk di situ memberikan tuyul, mereka akan mempersembahkan korban manusia setiap tahun, baik keluarga atau teman.

Bagi masyarakat Jawa, tulis sejarawan Onghokhamdalam Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong, kekayaan yang didapat melalui pakta dengan setan tidak memiliki legitimasi. Orang kaya itu pun kehilangan statusnya sebagai anggota masyarakat. Ia dianggap bukan lagi Jawa.

Sejarawan Peter Boomgard menyebut Clifford Geertz sebagai penemu tuyul. Sejauh yang saya temukan, dialah sarjana pertama yang memberikan gambaran panjang dan terinci tentang tuyul; kegiatannya, kalangan orang yang memilikinya, dan cara mendapatkannya,” kata Boomgard, “Kekayaan-kekayaan Haram,” dalam Sejarah Ekonomi Modern Indonesia Berbagai Tantangan Baru suntingan J. Thomas Lindblad.

Meski demikian, lanjut Boomgard, tuyul telah disinggung secara sekilas oleh G.W.J. Drewes dalam “Verboden rijkdom: Een bijdrage tot de kennis van het voolksgeloof op Java en Madoera,” dimuat Djawa 9 tahun 1929. Tuyul mungkin belum diketahui sebelum tahun 1929, tetapi tidak demikian dengan hantu penghasil uang.

Setan gundul atau gundul saja adalah contoh yang baik. Saya menemukannya disebut-sebut pertama kali dalam sebuah sumber bertahun 1860,” tulis Boomgard. Sumber tersebut adalah S.E. Harthoorn, “De zending op Java en meer bepaald die van Malang,” Madedelingen van het Nederlandsch Zendelingen Genootschap 4 (1860).

Gambaran mengenai gundul itu sendiri muncul pada 1894 dalam De Javaansche geestenwereld karangan Van Hien. Penampilan gundul seperti seorang bocah berumur empat atau lima tahun dengan kepala gundul seperti umumnya anak Jawa. Ia pemberi kekayaan. Gundul dapat dikontrak selama satu periode (tujuh tahun). Sesudah itu pemiliknya akan menyerahkan diri untuk disiksa di neraka. Saat mengerikan itu dapat ditunda hingga dua periode, jika sang pemilik mengorbankan orang lain sebagai penggantinya. Jika sang pemilik setuju, dengan keuntungan yang tidak terlalu banyak, yang dibutuhkan hanyalah seekor kerbau sebagai korban. Tetapi gundul harus diberi makanan kacang hijau setiap hari dan jika pemiliknya perempuan atau istrinya mempunyai bayi, gundul harus diteteki secara teratur.

“Jelas, ada persamaan antara gundul dan tuyul. Gundul hilang begitu saja pada 1930-an dan 1940-an. Inilah saatnya tuyul memulai kariernya,” kata Boomgard. “Kelihatannya masuk akal untuk menganggap tuyulmenggantikan gundul, mengingat karakteristik mereka sangat mirip.”

Lebih lengkap baca laporan utama “Hikayat Makhluk Halus” di majalah Historia terbaru. Pesan hubungi hotline 081 3131 111 90.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Sejarawan Ong Hok Ham (kanan) dalam acara seminar Alam Non Fisik yang diselenggarakan Yayasan Parapsikologi Semesta di Balai Wartawan, Semarang, 24-25 Oktober 1986.
Foto
Sejarawan Ong Hok Ham (kanan) dalam acara seminar Alam Non Fisik yang diselenggarakan Yayasan Parapsikologi Semesta di Balai Wartawan, Semarang, 24-25 Oktober 1986.
Foto