Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 3

Seabad “Zegepraal”, Karya Penting yang Dilupakan dalam Sejarah Indonesia

Artikel bersejarah karya Henk Sneevliet yang jarang disebut dalam sejarah Indonesia. Gugatannya senapas dengan artikel karya Soewardi Soerjaningrat dan Mas Marco Kartodikromo.
Henk Sneevliet (tengah).
Historia
pengunjung
5.1k

Reaksi Pemerintah Kolonial

Artikel provokatif tersebut menjadi ancaman tersendiri bagi keabsahan pemerintahan kolonial. Hanya dalam jangka waktu seminggu, terhitung dari pemuatan pertama dalam bahasa Belanda di koran De Indier, 19 Maret dan pemuatan edisi bahasa Melayu di koran Pertimbangan, 22 Maret, artikel “Zegepraal” menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Merenggut perhatian dari pemerintah kolonial yang juga bersiap menyerang balik artikel tersebut.

Dalam surat bertitimangsa 21 Maret 1917, Mas Darna Koesoema menyampaikan kekhawatirannya tentang serangan pemerintah itu. “Saya resah, pemerintah akan menggunakan pers borjuis untuk melancarkan kampanye hitam (terhadap Sneevliet-Red). Namun saya percaya dengan keyakinan Anda bahwa segala marabahaya dapat dihindari,” kata Darna. Dalam surat yang sama, dia melampirkan selembar koran Pertimbangan yang memuat naskah terjemahan artikel "Zegepraal."

Dugaan Darna tidak meleset. Sejak 12-16 April 1917, pemerintah kolonial melakukan penyelidikan terhadap tulisan tersebut. Sneevliet harus bulak-balik memberikan keterangan kepada pejabat pengadilan Semarang MB van Meerten. Senasib dengan Soewardi, Marco dan Darna Koesoema, Sneevliet dituduh melanggar pasal 63b dan 66b Undang-Undang Pers Terbatas atau persdelict. Lelaki kelahiran Rotterdam, 13 Mei 1883 itu terancam enam tahun hukuman penjara dan lima tahun kerja paksa.

Pada Juni 1917, karena dianggap membahayakan pemerintah kolonial, Henk Sneevliet ditangkap di Semarang. Persidangannya digelar di Pengadilan Negeri Semarang sejak 20–24 November 1917 dengan tuduhan yang beragam rupa, “antara lain menghasut rakyat Jawa, menghina pengadilan, menuduh pemerintah berbuat sewenang-wenang dan tuduhan sebangsanya,” tulis Soe Hok Gie dalam Di Bawah Lentera Merah.

Dalam persidangannya, Sneevliet membacakan pledoinya setebal 368 selama sembilan jam. Koran-koran yang terbit saat itu memberitakan jalannya persidangan. Inilah kasus pers delik pertama di Hindia Belanda yang dialami seorang warga kulit putih yang diadili karena membela bangsa Jawa yang dijajah.

Di akhir persidangan, nasib baik hinggap pada Sneevliet. Dia diputus bebas oleh pengadilan. Hakim tak menemukan adanya tindakan hukum yang melawan pemerintah kolonial karena artikel “Zegepraal” hanyalah kritik terhadap situasi di negeri koloni, bukan hasutan kebencian kepada pemerintah kolonial.

Keputusan ini mendorong Jaksa Agung G.W. Uhlenbeck banding. Menurut dia, keputusan pengadilan tinggi Semarang menunjukkan ketidakadilan rasial: hanya karena Sneevliet berkulit putih, dia dibebaskan dari tuduhannya. Padahal hal yang sama tidak terjadi apabila terdakwa datang dari kalangan bumiputera. Namun lagi-lagi banding tersebut digagalkan pengadilan tinggi di Batavia. Sneevliet bebas.

Namun kebebasan itu tidak bertahan lama karena pada 5 Desember 1918 gubernur jenderal Hindia Belanda menggunakan hak untuk mengusir orang-orang bermasalah keluar dari wilayah Hindia Belanda. Sneevliet dianggap meresahkan dan mengganggu keamanan dan ketertiban di Hindia Belanda karena serangkaian aksinya mengorganisasi kaum buruh dan kelasi kapal untuk melakukan revolusi. Dua minggu setelah keputusan itu terbit, 20 Desember 1918, Sneevliet meninggalkan tanah Jawa.

Perkara artikel “Zegepraal” ini tak pernah disebut di dalam sejarah Indonesia. Padahal peristiwa tersebut membeberkan kepada kita tentang Sneevliet sebagai salah satu tokoh penting di era awal pergerakan pembebasan nasional Indonesia. Gambaran suram komunisme yang terlanjur mengakar dalam pikiran orang Indonesia sejak era Soeharto mengabaikan begitu saja tokoh dan peristiwa satu ini.

Apa yang dilakukan oleh Sneevliet melalui tulisannya menunjukkan bahwa dia berada dalam satu lintasan dengan tokoh pergerakan seperti Soewardi Soerjaningrat, Darna Koesoema dan Marco Kartodikromo. Mereka membela rakyat jajahan di Hindia Belanda, melampaui persoalan rasial dan warna kulit.

Di hari-hari belakangan ini, di saat kehendak untuk mengingat dan melupakan sepenuhnya tergantung pada kekuasaan, memahami masa lalu secara menyeluruh dan kontekstual menjadi teramat mendesak. Terlebih cara pandang terhadap masa lalu menentukan cara kita, sebagai bangsa, merumuskan jati diri sekaligus orientasi hidup di masa kini dan masa depan.

 
Terpopuler di Historia 
Berita terkait
Nomor 13 Tahun 2 | Henk Sneevliet
Pada bukubuku sejarah di Indonesia nama Henk Sneevliet selalu disebut dalam sederet kalimat saja Henk Sneevliet adalah orang pertama yang membawa ajaran komunisme ke Hindia Belanda Indonesia Selebihnya sudah bisa
Pada bukubuku sejarah di Indonesia nama Henk Sneevliet selalu disebut dalam sederet kalimat saja Henk Sneevliet adalah orang pertama yang membawa ajaran komunisme ke Hindia Belanda Indonesia Selebihnya sudah bisa ditebak komunisme adalah momok yang menakutkan sehingga upaya untuk menguak perannya berhenti seketika Henk Sneevliet orang yang membawa ajaran itu ternyata memang punya peran penting dalam sejarah di Indonesia Dia memang berkulit putih orang Belanda totok kelahiran Rotterdam tapi ketika berada di Hindia Belanda sejak 1913 sampai 1918 dia justru menjadi advokat terdepan di dalam membela rakyat Mas Marco Kartodikromo jurnalis bumiputera terke muka saat itu menulis bahwa rakyat jajahan seharusnya malu kepada Sneevliet Berapa orang bangsa kita yang berani membela kepada bangsa kita seperti Sneevliet yang dibuang lantaran membela kita orang itu Apakah pemimpin pergerakan kita juga berani dibuang kata Marco dalam tulisannya di Sinar Hindia 10 Desember 1918 menggugat pembuangan Sneevliet keluar Hindia Belanda Sneevliet akhirnya memang dibuang pada 1918 Dia dianggap menghasut rakyat Hindia Belanda untuk melawan pemerintah kolonial Tapi pembuangan tak menghentikan langkahnya Dia tercatat sebagai orang yang menggagas kongres pertama Partai Komunis Tiongkok yang dihadiri Mao Zedong sekaligus berperan memperkuat pondasi awal partai itu Usai tugas dari Tiongkok dia tak pernah berhenti melawan Sampai akhirnya senjata serdadu Nazi menuntaskan riwayat hidupnya pada 13 April 1942
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Henk Sneevliet (tengah).
Henk Sneevliet (tengah).