Pilih Bahasa: Indonesia

Seabad “Zegepraal”, Karya Penting yang Dilupakan dalam Sejarah Indonesia

Artikel bersejarah karya Henk Sneevliet yang jarang disebut dalam sejarah Indonesia. Gugatannya senapas dengan artikel karya Soewardi Soerjaningrat dan Mas Marco Kartodikromo.
 
Henk Sneevliet (tengah).
Historia
pengunjung
6.3k

Pada 19 Maret seratus tahun yang lalu, Henk Sneevliet memublikasikan artikel yang mulai ditulisnya sejak malam hari 18 Maret 1917. Henk memberi judul artikel itu “Zegepraal” atau “Kemenangan”, sebuah ajakan kepada rakyat Jawa meniru rakyat Rusia untuk melawan sekaligus merebut kekuasaan dari tangan penguasa kolonial.

“Saya langsung menulis artikel ini tak lama setelah menerima telegram dari Rusia. Keesokan harinya, saya serahkan artikel ini kepada Tjipto,” kata Sneevliet di muka sidang pengadilan negeri Semarang pada hari pertama persidanganya, Selasa, 20 November 1917.

Tjipto yang dimaksud Sneevliet adalah Dr. Tjipto Mangoenkoesomo, kala itu bekerja sebagai redaktur harian De Indier, koran yang berafiliasi dengan Indische Partij. Edisi bahasa Melayu artikel tersebut baru terbit pada 22 Maret 1917 di koran Pertimbangan yang dikelola oleh Mas Darna Koesoema, salah seorang jurnalis terkemuka yang dua tahun sebelumnya pernah didera kasus pers delik bersama Mas Marco Kartodikromo.

Sneevliet tersulut api yang sedang membara di Rusia. Pada 8 dan 9 Maret 1917, Rakyat Rusia berbondong-bondong turun ke jalanan kota Petrograd (kini St. Petersburg). Tentara kekaisaran Rusia yang semula mengarahkan senapannya ke arah demonstran, mendadak berbalik membaurkan diri bersama para rakyat. Sejak hari itu, kekuasaan Tsar Rusia yang telah berabad lamanya tumbang.

Isi Artikel

Melalui artikelnya, dia membandingkan keadaan rakyat di Rusia dengan di Hindia Belanda, yang menurutnya tak jauh berbeda: sama menderita dan sebagian besar buta aksara. Secara satir, rakyat Jawa digambarkan hidup di negeri yang kaya raya namun tak pernah mengecap kekayaan tersebut akibat kolonialisme bangsa Eropa yang bercokol selama berabad-abad lamanya.

“Disini ada satoe bangsa jang hidoep di tanah jang paling ma’moer... Disini ada satoe bangsa, sengsara tida banjak pengetahoeannja... Disini ada satoe bangsa, mengadaken harta, jang sedjak bebrapa abad dimasoeken dalem peti besinja kaoem pemerenta di Europa-Barat, teroetama di itoe tanah ketjil, jang disini melakoeken politiek memarenta,” tulis Sneevliet seperti tersua dalam terjemahan Darna Koesoema di dalam Pertimbangan.

Nada satir dalam tulisan Sneevliet mengingatkan pada pidato Max Havelaar di depan para kepala di Lebak sesaat setelah dia dilantik sebagai asisten residen, 22 Januari 1856. Dalam kalimat retorika Max Havelaar bertanya kenapa di tanah yang sesubur itu banyak warga justru memilih untuk pergi meninggalkan desanya. Max juga mengkritik praktik pemerintahan yang tidak adil bagi rakyat kecil.

Sneevliet memang terpukau pada Multatuli dan karyanya, Max Havelaar, diakuinya sebagai buku pertama dan satu-satunya yang memberikan pengetahuan mengenai kondisi rakyat Jawa sebelum dia memutuskan untuk datang ke Hindia Belanda pada awal 1913.

“Aku tak punya banyak pengetahuan tentang Hindia, sampai kemudian aku datang.... Tentu saja aku membaca Max Havelaar untuk menambah pengetahuanku tentang Hindia dari karya seorang penulis jenius tersebut,” kata Sneevliet, sebagaimana dikutip dari biografinya, Henk Sneevliet: Revolutionair-Socialist in Europa en Azie karya Max Perthus.

Kritik Sneevliet tak berhenti di sana. Dia mengecam praktik pengekangan kebebasan yang diberlakukan pemerintah kolonial di Hindia Belanda. Menurutnya, banyak pertemuan-pertemuan politik yang dibubarkan dan dilarang. Pers juga mengalami pembatasan kebebasan untuk menyampaikan berita tentang kondisi masyarakat.

“Gerakan politiek ditjegah...hak aken bersidang didjandjiken, tapi tida dikaboelken; hal membitjarakan critiek di singgasana pers terantjem dengen hoekoeman berat oleh justitie jang berlakoe berat sebela, tida adil , oleh kerna itoe justitie ada justitienja fihak yang memarenta; ichtiar aken bergerak dilawan dengen lakoe perkosa aken diboeang,” tulis Sneevliet dalam “Zegepraal”.

Agaknya Sneevliet merujuk kepada kasus pers delik yang dialami Soewardi Soerjaningrat, Mas Marco dan Mas Darna Koesoema. Soewardi dikenai hukuman pembuangan ke negeri Belanda karena artikelnya “Seandainya saya orang Belanda” yang dimuat koran De Express, 13 Juli 1913. Darna sempat mencicipi 14 hari penahanan, sementara itu pada awal 1915 Marco terkena pers delik yang membawanya ke penjara selama sembilan bulan karena artikelnya di koran Doenia Bergerak tak pernah surut mengkritik pemerintah kolonial.

Kasus Marco mendorong solidaritas Sneevliet mendirikan Komite untuk Kebebasan Pers (Comite voor Persvrijheid) bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan D.J.E Westerveld pada Juli 1915. Komite ini menyelenggarakan pertemuan yang menghadirkan Marco sebagai pembicara di mana dia menyampaikan kalimat pidatonya yang terkenal, “Saya berani bilang, selama kalian, rakyat Hindia, tidak punya keberanian, kalian akan terus diinjak-injak dan hanya menjadi seperempat manusia,” katanya, sebagaimana dimuat Sinar Djawa 9 dan 22 Juli 1915.

Sejarawan Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 menduga aksi Sneevliet tersebut hanyalah siasat untuk menarik simpati rakyat Hindia terhadap ISDV, organisasi sosialis yang didirikannya setahun sebelumnya. Namun pembelaannya terhadap rakyat jajahan yang berujung pada hukuman pengusiran dari Hindia Belanda agaknya lebih dari sekadar mencari perhatian belaka.

Menurut Sneevliet, setelah perlawanan akbar Pangeran Diponegoro, rakyat Jawa tak lagi memiliki kesadaran melawan. Dia berharap peristiwa revolusi di Rusia menggugah orang-orang untuk bangkit memperjuangkan hak-haknya. “...sasoedahnja Dipo Negoro, tiadalah ada bangoen lagi saorang pemimpin jang geraken orang banjak aken mereboet hak boeat mengatoer nasibnja sendiri. Hei, rajat bangsa Djawa, revolutie Rusland mengandoeng pengadjaran djoega bagi kamoe!”

Pemberlakuan politik etis memang melahirkan generasi muda Jawa yang terdidik dan mampu mendirikan organisasi modern, sebagaimana Boedi Oetomo. Kritik Sneevliet ini sepertinya diarahkan kepada mereka. Merujuk kepada Fritjof Tichelman, penulis biografi politik Sneevliet dalam buku Socialisme in Indonesie: De Indische Sociaal-Democratische Vereeniging 1897-1917, Sneevliet menilai tokoh-tokoh Boedi Oetomo hanya berorientasi kepada gerakan pendidikan dan kebudayaan tanpa membangkitkan kesadaran lebih luas untuk merebut kekuasaan dan menyelenggarakan pemerintahan sendiri.

“Boedi Oetomo tidak bisa diharapkan dan sebagai sebuah organisasi bangsa Jawa tidak menarik untuk diajak bekerjasama dengan ISDV,” tulis Tichelman.

Ada tiga hal yang perlu dicatat dalam artikel Sneevliet tersebut. Pertama, ia memberikan landasan historis tentang masa lalu bangsa Jawa yang terus menerus ditindas sebagaimana rakyat di Rusia untuk memberikan legitimasi gerakan. Kedua, argumentasi historis itu dibenturkan dengan keadaan yang berlaku saat Sneevliet menulis artikelnya. Perang dunia pertama sedang berkecamuk, sementara arus modal asing mengalir deras melalui perkebunan dan industrialisasi di Hindia. Akumulasi modal bangsa Eropa yang kian hari kian membengkak menciptakan jurang disparitas semakin lebar di kalangan masyarakat jajahan. Ketiga, harapan untuk mengubah nasib lebih cepat dengan memperluas partisipasi rakyat melalui jalan revolusi.

Reaksi Pemerintah Kolonial

Artikel provokatif tersebut menjadi ancaman tersendiri bagi keabsahan pemerintahan kolonial. Hanya dalam jangka waktu seminggu, terhitung dari pemuatan pertama dalam bahasa Belanda di koran De Indier, 19 Maret dan pemuatan edisi bahasa Melayu di koran Pertimbangan, 22 Maret, artikel “Zegepraal” menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Merenggut perhatian dari pemerintah kolonial yang juga bersiap menyerang balik artikel tersebut.

Dalam surat bertitimangsa 21 Maret 1917, Mas Darna Koesoema menyampaikan kekhawatirannya tentang serangan pemerintah itu. “Saya resah, pemerintah akan menggunakan pers borjuis untuk melancarkan kampanye hitam (terhadap Sneevliet-Red). Namun saya percaya dengan keyakinan Anda bahwa segala marabahaya dapat dihindari,” kata Darna. Dalam surat yang sama, dia melampirkan selembar koran Pertimbangan yang memuat naskah terjemahan artikel "Zegepraal."

Dugaan Darna tidak meleset. Sejak 12-16 April 1917, pemerintah kolonial melakukan penyelidikan terhadap tulisan tersebut. Sneevliet harus bulak-balik memberikan keterangan kepada pejabat pengadilan Semarang MB van Meerten. Senasib dengan Soewardi, Marco dan Darna Koesoema, Sneevliet dituduh melanggar pasal 63b dan 66b Undang-Undang Pers Terbatas atau persdelict. Lelaki kelahiran Rotterdam, 13 Mei 1883 itu terancam enam tahun hukuman penjara dan lima tahun kerja paksa.

Pada Juni 1917, karena dianggap membahayakan pemerintah kolonial, Henk Sneevliet ditangkap di Semarang. Persidangannya digelar di Pengadilan Negeri Semarang sejak 20–24 November 1917 dengan tuduhan yang beragam rupa, “antara lain menghasut rakyat Jawa, menghina pengadilan, menuduh pemerintah berbuat sewenang-wenang dan tuduhan sebangsanya,” tulis Soe Hok Gie dalam Di Bawah Lentera Merah.

Dalam persidangannya, Sneevliet membacakan pledoinya setebal 368 selama sembilan jam. Koran-koran yang terbit saat itu memberitakan jalannya persidangan. Inilah kasus pers delik pertama di Hindia Belanda yang dialami seorang warga kulit putih yang diadili karena membela bangsa Jawa yang dijajah.

Di akhir persidangan, nasib baik hinggap pada Sneevliet. Dia diputus bebas oleh pengadilan. Hakim tak menemukan adanya tindakan hukum yang melawan pemerintah kolonial karena artikel “Zegepraal” hanyalah kritik terhadap situasi di negeri koloni, bukan hasutan kebencian kepada pemerintah kolonial.

Keputusan ini mendorong Jaksa Agung G.W. Uhlenbeck banding. Menurut dia, keputusan pengadilan tinggi Semarang menunjukkan ketidakadilan rasial: hanya karena Sneevliet berkulit putih, dia dibebaskan dari tuduhannya. Padahal hal yang sama tidak terjadi apabila terdakwa datang dari kalangan bumiputera. Namun lagi-lagi banding tersebut digagalkan pengadilan tinggi di Batavia. Sneevliet bebas.

Namun kebebasan itu tidak bertahan lama karena pada 5 Desember 1918 gubernur jenderal Hindia Belanda menggunakan hak untuk mengusir orang-orang bermasalah keluar dari wilayah Hindia Belanda. Sneevliet dianggap meresahkan dan mengganggu keamanan dan ketertiban di Hindia Belanda karena serangkaian aksinya mengorganisasi kaum buruh dan kelasi kapal untuk melakukan revolusi. Dua minggu setelah keputusan itu terbit, 20 Desember 1918, Sneevliet meninggalkan tanah Jawa.

Perkara artikel “Zegepraal” ini tak pernah disebut di dalam sejarah Indonesia. Padahal peristiwa tersebut membeberkan kepada kita tentang Sneevliet sebagai salah satu tokoh penting di era awal pergerakan pembebasan nasional Indonesia. Gambaran suram komunisme yang terlanjur mengakar dalam pikiran orang Indonesia sejak era Soeharto mengabaikan begitu saja tokoh dan peristiwa satu ini.

Apa yang dilakukan oleh Sneevliet melalui tulisannya menunjukkan bahwa dia berada dalam satu lintasan dengan tokoh pergerakan seperti Soewardi Soerjaningrat, Darna Koesoema dan Marco Kartodikromo. Mereka membela rakyat jajahan di Hindia Belanda, melampaui persoalan rasial dan warna kulit.

Di hari-hari belakangan ini, di saat kehendak untuk mengingat dan melupakan sepenuhnya tergantung pada kekuasaan, memahami masa lalu secara menyeluruh dan kontekstual menjadi teramat mendesak. Terlebih cara pandang terhadap masa lalu menentukan cara kita, sebagai bangsa, merumuskan jati diri sekaligus orientasi hidup di masa kini dan masa depan.

 
Terpopuler di Historia 
Berita terkait
Nomor 13 Tahun 2 | Henk Sneevliet
Pada bukubuku sejarah di Indonesia nama Henk Sneevliet selalu disebut dalam sederet kalimat saja Henk Sneevliet adalah orang pertama yang membawa ajaran komunisme ke Hindia Belanda Indonesia Selebihnya sudah bisa
Pada bukubuku sejarah di Indonesia nama Henk Sneevliet selalu disebut dalam sederet kalimat saja Henk Sneevliet adalah orang pertama yang membawa ajaran komunisme ke Hindia Belanda Indonesia Selebihnya sudah bisa ditebak komunisme adalah momok yang menakutkan sehingga upaya untuk menguak perannya berhenti seketika Henk Sneevliet orang yang membawa ajaran itu ternyata memang punya peran penting dalam sejarah di Indonesia Dia memang berkulit putih orang Belanda totok kelahiran Rotterdam tapi ketika berada di Hindia Belanda sejak 1913 sampai 1918 dia justru menjadi advokat terdepan di dalam membela rakyat Mas Marco Kartodikromo jurnalis bumiputera terke muka saat itu menulis bahwa rakyat jajahan seharusnya malu kepada Sneevliet Berapa orang bangsa kita yang berani membela kepada bangsa kita seperti Sneevliet yang dibuang lantaran membela kita orang itu Apakah pemimpin pergerakan kita juga berani dibuang kata Marco dalam tulisannya di Sinar Hindia 10 Desember 1918 menggugat pembuangan Sneevliet keluar Hindia Belanda Sneevliet akhirnya memang dibuang pada 1918 Dia dianggap menghasut rakyat Hindia Belanda untuk melawan pemerintah kolonial Tapi pembuangan tak menghentikan langkahnya Dia tercatat sebagai orang yang menggagas kongres pertama Partai Komunis Tiongkok yang dihadiri Mao Zedong sekaligus berperan memperkuat pondasi awal partai itu Usai tugas dari Tiongkok dia tak pernah berhenti melawan Sampai akhirnya senjata serdadu Nazi menuntaskan riwayat hidupnya pada 13 April 1942
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Henk Sneevliet (tengah).
Henk Sneevliet (tengah).