Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Sayuti Melik-SK Trimurti: Kisah Asmara Sepasang Pejuang

Menikah dengan satu ikrar: berjuang bersama. Politik membuat pasangan ini keluar masuk-penjara. Biduk rumahtangga mereka kandas menjelang masa senja.
 
Sayuti Melik dan SK Trimurti dengan kedua anaknya.
Historia
pengunjung
22.6k

KEDUA remaja ini kerap bertukar pikiran dan perdebatan. Yang dibahas bukan soal sepele; teori, strategi, dan siasat perjuangan. Kadang sengit. Masing-masing mempertahankan pendapatnya. Tak mau kalah atau mengalah. Tapi masing-masing menghargai pendapat lawan.

“Saya senang sekali bertukar pikiran dengannya, dan terus terang, tak pernah terpikir bahwa dialah yang akan menjadi suami saya di kemudian hari,” tulis Trimurti.

Suatu ketika, mereka kembali berdebat. Tiba-tiba Yuti, panggilang akrab Sayuti Melik selain Si Kecil dan Mbah Sodrono, berkata: “Kalau begitu, saudara dapat bekerja sama dengan saya. Sebaiknya saudara menjadi istri saya saja.”

Spontan Trimurti terkejut. Dia belum berpikir soal perkawinan. Terlebih dengan Yuti, lelaki yang belum lama dikenalnya. Karenanya dia tak langsung memberikan jawaban. “Nanti saya pikirkan dulu.”

Setiba di rumah, Trimurti memikirkan ajakan Yuti.

Ini pinangan kali kedua yang menghampirinya. Pada 1930-an, seorang perjaka yang jadi pegawai PID dan bertugas mengawasi kegiatan politiknya, jatuh cinta padanya. Dia bertandang ke rumah dan mengungkapkan perasaannya: “Jika Anda bersedia menerima cinta kasih saya ini, saya pun juga bersedia meninggalkan pekerjaan dan masuk menjadi anggota Partindo.”

Kala itu urusan asmara belum mampir dalam pikiran Trimurti. Dia lagi dimabok politik, bergabung dengan Partindo di bawah kepemimpinan Sukarno. Terlebih dia hanya ingin menikah dengan orang pergerakan agar bisa memahami aktivitas dan pemikirannya serta sama-sama berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Trimurti menolaknya. Kini, pinangan itu datang dari orang pergerakan.

Trimurti berkenalan dengan Yuti pada 1937. Saat itu Trimurti bekerja sebagai pembantu tetap harian Sinar Selatan, terbit di Semarang, yang dipimpin orang Jepang bernama Tsuda Kan dan Hiraki Isamu namun kerja redaksi sehari-hari ditangani redaktur Mashud Hardjokusumo, berusia 20 tahunan dan pernah belajar di Tokyo. Yuti menulis artikel untuk harian itu. Meski baru mengenalnya, nama Sayuti Melik tidaklah asing di telinga Trimurti. Sudah lama dia mendengar sepakterjang Yuti dari teman-teman seperjuangannya.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Sayuti Melik dan SK Trimurti dengan kedua anaknya.
Sayuti Melik dan SK Trimurti dengan kedua anaknya.