Pilih Bahasa: Indonesia
Cerita di Balik Lahirnya PSI (2)

Satu Partai Dua Watak

Penggabungan dua kelompok sosialis ini awalnya saling menguatkan. Goyah karena perbedaan terlalu mendasar.
Delegasi Indonesia pada perundingan Linggarjati sedang berembuk di halaman gedung pertemuan. (Ki-ka): J. Leimena, Moh. Roem, Soedarsono, Sutan Sjahrir, Amir Sjarifuddin, AK Gani, Soesanto Tirtoprodjo.
Foto
Historia
pengunjung
3.9k

PARTAI Sosialis terbagi ke dalam beberapa kelompok yang menginduk kepada Amir dan Sjahrir. Kelompok Surabaya terdiri dari kawan-kawan Amir dalam PKI ilegal, Gerindo, Partindo, dan organisasi gerakan bawah tanahnya. Kelompok Yogyakarta berpusat di sekeliling Wijono dan Muhammad Tauchid, yang terlibat dengan Amir mendirikan Parsi.

Kelompok Cirebon berakar pada PNI-Pendidikan dan hubungannya dengan gerakan bawah tanah Sjahrir. Kelompok Jakarta terdiri dari pemuda metropolitan dan sahabat dekat Sjahrir. Terakhir adalah kelompok kecil orang komunis yang baru datang dari Belanda, di sana terlibat dalam gerakan bawah tanah anti-Nazi.

Hubungan Sjahrir dan Amir cukup baik, namun perbedaan dalam gaya dan pandangan cenderung ditonjolkan oleh pengikut masing-masing. Menurut Indonesianis Ben Anderson, para pengikut Sjahrir menganggap kawan-kawan Amir bersifat ndesa, romantis, dan berpikiran “kacau”; sementara dalam kelompok Amir sering timbul perasaan bahwa pengikut Sjahrir bersifat congkak dan enggan mengalami kesulitan dan risiko pekerjaan politik praktis di tengah massa.

Watak dan kepentingan dua sayap Partai Sosialis ini digambarkan dalam pembagian fungsi dalam partai. “Amir yang sesungguhnya memimpin partai karena bakatnya dalam pengorganisasian dan kebosanan Sjahrir terhadap urusan seperti itu,” tulis Anderson. Pengikut Amir juga dipusatkan dalam dewan pimpinan, sekretariat, dan badan komunikasi; sementara kelompok Sjahrir menguasai badan penerangan dan badan pendidikan.

Menurut Gie, walaupun pertentangan internal tidak muncul dalam Partai Sosialis, baik grup Amir maupun grup Sjahrir memiliki rencana sendiri untuk mencapai tujuan masing-masing. Persatuan Parsi dan Paras hanya berdasarkan antifasis dan kepentingan bersama menghadapi Tan Malaka dengan Persatuan Perjuangannya. “Setelah bahaya ini hilang, persatuan yang terbentuk akan meretak,” tulis Gie.

Lebih lengkap baca majalah Historia No. 18 Tahun II 2014

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Delegasi Indonesia pada perundingan Linggarjati sedang berembuk di halaman gedung pertemuan. (Ki-ka): J. Leimena, Moh. Roem, Soedarsono, Sutan Sjahrir, Amir Sjarifuddin, AK Gani, Soesanto Tirtoprodjo.
Foto
Delegasi Indonesia pada perundingan Linggarjati sedang berembuk di halaman gedung pertemuan. (Ki-ka): J. Leimena, Moh. Roem, Soedarsono, Sutan Sjahrir, Amir Sjarifuddin, AK Gani, Soesanto Tirtoprodjo.
Foto